Category: Paradox Traveler


EKPLORASI DIVING di TOGEAN

Setelah beristirahat semalam dengan cukup nyaman, kami mulai bersiap diri pagi hari untuk melakukan trip diving berikutnya. Kali ini kami ingin menuju ke spot yang paling terkenal dari Togean yaitu spot Bomber Wreck. Disini telah terbenam sebuah pesawat pembom peninggalan dari Perang Dunia II, B24 Liberator. Bukan tipe pesawat fighter, namun tipe pesawat bomber dengan ukuran yang lebih besar dari jenis pesawat P54 yang saya temukan di Way Beach – Raja Ampat.

Bomber Wreck Point

Bomber Wreck Togean

Perjalanan menuju spot Bomber Wreck Point cukup memakan waktu, sekitar  1

Pulau Kabupaten Una Una

jam perjalanan. Dalam perjalanan, kami melawati Pulau Wakai, ibukota kabupaten Tojo Una-Una. Dari kejauhan kami melihat kepadatan penduduk dipulau itu. Dalam perjalanan juga kami melewati perkampungan di atas laut yang mungkin juga didiami oleh Suko Bajo yang nomaden. Sepanjang perjalanan kami dapat melihat akan lebatnya pohon-pohon di sekitar pulau yang kami lewati.

 

Togian-B-24-Liberator

Setelah sekitar hampir 1 jam perjalanan kapal, tibalah kami di sebuah teluk pulau di salah satu pulau di Kepulauan Togean. Kapal kami berhenti 400 meter dari bibir pantai untuk mempersilahkan para diver mempersiapkan alat-alatnya. Di kedalaman sekitar 15-20 meter langsung kami menemukan rongsokan pesawat bomber yang cukup besar dan utuh. Badan pesawat masih terlihat utuh dan belum terlalu ditutupi oleh terumbu karang. Dashboard pesawat, bangku pesawat pun masih terlihat jelas di area kokpit. Kemudian kami berkeliling mengelilingi pesawat, dan kami menemukan sebuah lubang di samping pesawat yang menembus ke lubang disisi satunya, ini pasti palka untuk cargo pikirku. Dengan menyebrangi palka tersebut, kemudian kami lanjut diving ke belakang pesawat, kami masih bisa melihat ujung-ujung senapan mesin yang masih terlihat jelas.

Dengan tingkat visibility yang minim kami masih bisa juga melihat banyak ikan lionfish yang berenang-renang di ujung sayap pesawat, dan beberapa kali juga kami melihat ubur-ubur yang cukup besar menghiasi alam bawah laut Togean.  Dispot ini, kami hampir tidak melihat adanya terumbu karang yang bagus dengan dasar laut hanya ditutupi pasir dengan warna agak gelap.

KOTA WALL dan MINI CANYON

Keindahan di Kota Wall

 

Setelah dimulai dengan Bomber Wreck, diving hari ini akan dilanjutkan dengan

Angry Eel

diving di spot kota wall dan mini canyon.  Kedua spot ini memiliki karakteristik yang hampir sama, dengan wall-wall tebing yang menarik dan terumbu-terumbu karang yang kaya akan warna. Di Mini Canyon, kami menemukan banyak cave-cave yang memukau dan ada wall besar berbentuk “V” yang cukup unik. Di Mini canyon juga kami menemukan gunung-gunung koral kecil yang bertebaran dihiasi oleh ikan-ikan kecil yang cantik. Alhamdulilah visibility di kedua tempat ini jauh lebih bagus dari pada di spot bomber wreck. Visibility dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan kedalaman penyelaman sekitar 25 meter.

Wall V Mini Canyon

DOMINIQUE  ROCK dan CORAL GARDEN

Dominique Rock

Underwater flower

Hari terakhir di Togean, kami merencanakan 2 dive saja disekitar Pulau Kadidiri. Dominique Rock merupakan spot wajib yang sangat perlu untuk didatangi di Togean, karena kabarnya disinilah terdapat pemandangan alam bawah laut yang sangat memukau. Benar saja, begitu kami menyelam di spot Dominique Rock, kami melihat extraordinary wall yang cukup membuat saya tertegun. Pada kedalaman 25-30 meter, kami bisa melihat wall-wall raksasa dengan terumbu karangnya yang sangat indah. Setelah diving menyusuri wall sekitar 30 menit, perjalanan di spot ini diakhiri dengan coral garden rata yang sangat luas dan sangat indah. Kami banyak menemukan starfish di spot ini. Tidak jauh dari Dominique rock, kami melakukan penyelaman terakhir di Togean, adalah di spot Coral Garden. Pada spot ini kami melihat banyak alligator fish yang bejalan lambat di pasir sembari berkamuflase. Keunikan dari spot ini adalah adanya bukit-bukit kecil koral di tengah hamparan luas pasir putih. Setiap bukit kecil memiliki terumbu-terumbu yang unik, sehingga sangat menarik untuk mendatangi masing-masing dari bukit kecil – bukit kecil tersebut.

Setelah selesai melakukan penyelaman terakhir, kami pun kembali ke Pulau Kadidiri tempat kami menginap, dan melakukan persiapan untuk pulang ke Gorontalo sore itu juga.  Berat rasanya untuk meninggalkan Pulau Kadidiri yang mempesona sore hari itu. Perlahan namun pasti kami pun mulai meninggalkan Pulau Kadidiri. Sampai Jumpa Kadidiri, Sampai Jumpa Togean….

Our Boat

 

 

Diving di Togean sebetulnya tidak termasuk dari salah satu destinasi prioritas yang masuk dalam list plan tripku. Kenapa tidak Togean,?? Karena selama ini nama Togean masih kurang terdengar dibanding destinasi lain seperti Derawan, Morotai, Banda, atau Alor yang belum pernah saya kunjungi.  Dan akses tranportasi ke Togean memang masih sangat terbatas, hal itulah yang membuat saya berfikir ulang.  Cuma apa daya, karena bujuk rayu beberapa teman divingku dari Jakarta Ocean Dive dan teman dari BullShark Dive-Gorontalo, akhirnya saya memutuskan akan melakukan perjalanan beberapa hari ke TOGEANpada bulan Agustus 2011.

Teluk Tomini

Setelah rencana disusun matang, akhirnya kami berangkat di suatu hari di bulan Agustus dengan rombongan berjumlah 9 orang dari Jakarta dan 1 orang langsung dari Gorontalo.

Kalau dilihat dari peta, untuk ke Togean bisa dicapai dengan beberapa alternative.

  1. Alternatif 1 : Jakarta – Gorontalo – Togean
  2. Alternatif 2 : Jakarta – Gorontalo – Bumbulan – Togean
  3. Alternatif 3 : Jakarta – Palu – Ampana – Togean

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing alternative perjalanan. Disini kita hanya memilih, untuk lama jalan di darat atau lama jalan di laut. Berhubung memang kita anak laut, akhirnya kita memilih alternative 1.

PERJALANAN KE TOGEAN

Kami memakai pesawat Lion dan mendarat di bandara kecil di  Gorontalo pada siang hari yang sangat terik. Ini pertamakalinya saya menjejakan kaki di tanah Gorontalo. Saya tidak melihat keistimewaan di kota Gorontalo ketika dalam perjalanan saya menuju ke hotel dari bandara, namun demikian saya lihat kebersihan kota Gorontalo yang cukup terjaga, dan sepinya kota Gorontalo pada siang hari itu, yang mungkin masih dalam suasana lebaran. Bagi saya Gorontalo hanya identik dengan Briptu Norman dan Fadel Muhammad, tidak lebih dari itu. Tidak banyak hal lain yang saya tahu mengenai kota Gorontalo., meskipun akhir-akhir ini saya banyak dengar tentang keindahan alam bawah laut Gorontalo yang luar biasa, terutama dengan “Salvador Dali” nya yang hanya ada satu-satunya di dunia.

” Menara Eiffel ” Gorontalo

Dalam perjalanan menuju hotel, kami melewati bangunan seperti menara Eiffel berwarna hijau dan  cukup menarik juga, mengamati bangunan itu. Saya melihat tangga panjang untuk menuju ke puncak menara, mungkin dari puncak menara kita dapat melihat keseluruhan Kota Gorontalo. Tetapi karena kami masih merasa lelah dari perjalanan panjang di pesawat, dan cuaca yang sangat terik, kami menyimpan dulu keinginan kami untuk naik ke puncak menara.Dan setelah perjalanan sekitar 30 menitan, sampailah kamidi Hotel Grrand City, di tengah kota Gorontalo. Meskipun bukan hotel besar dan hotel ternama,  hotel ini cukup bersih dan nyaman.

Kami hanya menggunakan hotel ini untuk

Bentor Gorontalo

beristirahat sejenak, karena dijadwalkan kami harus ke pelabuhan untuk berangkat ke Kepulauan Togean sekitar jam 7 malam. Karena hari masih panjang, kami gunakan juga waktu yang tersisa untuk sekedar mencari makan di pusat pertokoan yang terdapat di dekat hotel.  Kami menumpang angkutan yang disebut Bentor ( Becak Motor), yaitu motor yang dimodifikasi menjadi seperti becak supaya bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Setelah waktunya tiba , berangkatlah kami ke pelabuhan yang berjarak hanya

Grand City Hotel Gorontalo

20 menit dari hotel. Meskipun kecil, sepertinya ini memang pelabuhan utama di Gorontalo. Karena selain kapal-kapal kecil, saya juga melihat ada 1 kapal cargo besar dan 1 kapal feri yang cukup besar sedang berlabuh . Namun pelabuhan disini sepertinya tidak dalam area tersendiri, namun kapal-kapal ini bersandar di laut yang langsung ada dipinggir jalan trans penghubung.

Kami dijanjikan, bisa tiba di Kepulauan Togean dalam 9 jam memakai kapal kayu yang cukup kecil untuk bisa menampung kami. Selain 9 orang dari grup kami, ada juga kapten kapal, crew, dan seorang DM yang ikut kami. Jadi total ada 13 orang yang ada di kapal kecil ini. Tepat pukul 9 malam kami berangkat menuju ke Kepulaun Togean. Memang disarankan kami berangkat malam hari, karena pada saat itu, malam hari adalah waktu yang paing bersahabat untuk kami dapat menuju ke Kep. Togean.

Dengan anggota grup yang cukup ceria dan bersahabat, kami mengarungi Teluk Tomini dengan penuh canda dan tawa untuk mengusir kebosanan akan waktu. Ombak pun cukup tenang, meski kami sempat di terpa hujan. Kemudian kami dikejutkan dengan kedatangan sekelompok lumba-lumba yang mengiringi dan mengelilingi kapal kami pada tengah malam. Sektiar 1 jam sekelompok lumba-lumba tersebut melakukan atraksi melompat-lompat di sekeliling kapal kami, seperti mereka ingin berusaha untuk menunjukan eksistensi mereka  dan menghibur kami. Inilah makluk Tuhan yang sangat menakjubkan.

Pulau Una Una

Dengan estimasi 9 jam, dijadwalkan kami  bisa merapat di Kepulau Togean pada pukul 6 pagi. Namun pada saat waktunya tiba, ternyata kami belum melihat sama sekali ada kepulauan disekitar kami. Radar pun menujukan bahwa pulau terdekat masih berjarak sekitar 2 jam jauhnya, padahal kami tidak mengalami rintangan atau hambatan dalam perjalanan.

Tepat pada pukul 7 pagi kami mulai melihat pulau dari kejauhan. Pulau Una-Una namanya. Makin mendekat kami melihat keindahan bentuk pada pulau ini. Pulau ini seperti pulau yang lebar, dengan bukit ditengahnya, pulau inipun sepertinya tidak berpenghuni, karena ditutupi oleh lebatnya pohon-pohon, Kami juga melihat garis pantai mengelilingi pulau ini. Nice..

Kami memang merencanakan untuk diving di dekat pulau ini, sudah tidak sabar rasanya kami untuk sekedar bisa terjun dan mencicipi basahnya dan birunya air laut, setelah 11 jam kami berlumut di kapal.  Kemudian kami membuang jangkar dengan jarak sekitar 300 meter dari bibir pantai Pulau Una-Una, dan mempersiapkan diving gear kami.

 

Barracuda Point/Pinaccle Point

DM Togean menyebut nama spotnya adalah Baracuda Point/Pinaccle Point.

Terumbu dengan mini thoby

Segera setelah kami menyelam, kami langsung melihat schooling barracuda lewat di depan kami, sesuai namanya. Dan kami cukup disuguhkan atraksi-atraksi lain yang cukup menghibur.  Dengan visibility 20-25 meter, kami melihat sekelompok bump head berenang dengan santainya sembari mencari makan di antara terumbu-terumbu. Kami juga mempergoki schooling jack fish yang berenang kesana kemari untuk menarik perhatian para diver. Meskipun tidak ada keistimewaan pada terumbu karangnya, namun saya melihat mereka tumbuh dengan suburnya dengan cahaya matahari yang cukup.  Di kedalaman 20-30 meter, kami juga melihat banyak-banyak sekali mini thoby yang berenang seperti layaknya sperma berenang menuju indung telur.

 

 

 

 

California Dream Point

Sebelum menuju pulau Kadidiri, tempat kami menginap, kami mampir sekali lagi di California Dream Point, kurang lebih berjarak ½ jam dari tempat kita diving sebelumnya. Di spot ini visibilitynya tidak lebih baik dari spot sebelumnya, namun kami masih bisa melihat bahwa terumbu disini jauh lebih menarik dan padat dari spot sebelumnya. Kami juga masih banyak menemukan banyak bump head berenang di perairan ini. Yang paling membuat saya terkejut adalah banyaknya sekali mini thoby yang ada di perairan ini. Jumlahnya berlipat-lipat kali dari mini thoby yang kami temukan di spot sebelumnya.

Kadidiri Island

Keindahan Pulau Kadidiri

Setelah menyelesaikan 2 agenda penyelaman, kami langsung menuju ke Pulau Kadidiri, pulau tempat kami akan menginap selama di Kepulauan Togean.  Setelah 1,5 jam perjalanan , sekitar pukul 3 sore, Pulau Kadidiri mulai menampakan diri. Oh indahnya pulau ini !!!!!! Dari kejauhan kami melihat garis pantai yang bersih, beberapa gunung karang yang menjulang, dermaga yang menjorok ke laut, dan beberapa cottage tradisional yang sangat menawan.

Melihat gunung-gunung karang itu pun saya teringat pemandangan alam

Punggung Pulau Kadidiri

Halong Bay ataupun gugusan pulau di Phuket. So amazing, bagaimana kami bisa menemukan keindahan pulau yang memukau setelah hampir 1 hari kami mengarungi lautan.  Saya pun terheran bagaimana nama Togean masih kurang terdengar dalam peta pariwisata Indonesia, setelah kami terpukau oleh keindahan pulau ini. Tidak heran, dengan keindahan pulau ini, semua cottge pariwisata bermarkasi di pulau ini,, dan makin kami mendekat ke teluk di Pulau Kadidiri, makin terlihat jernih air laut nya sampai kita bisa melihat terumbu karang yang berkedalaman sekitar 5-10 meter.

Dikarenakan banyaknya terumbu karang, kapal kami tidak bisa sampai merapat

Jernihnya Air Togean

ke bibir pantai Pulau Kadidiri, sehingga kapal terpaksa harus membuang jangkar 200 meter dari pantai. Dengan tidak sabarnya melihat keindahan pulau itu, kampipun segera terjun ke laut dan berenang menuju langsung ke pulau. Sedangkan semua barang dan perlengkapan kami ditransfer melalui sampan kecil milik penginapan.

Setelah terkejut-kejut dengan keindahan pulau ini, saya pun dikejutkan oleh hal lain dari pulau ini. Dengan anggapan bahwa pulau ini cukup terpencil, saya tidak berharap banyak bahwa akan ada banyak turis di pulau ini. Namun kenyataan berbicara lain, saya dikejutkan dengan banyaknya turis yang menginap di 3 penginapan di hotel ini. Dan tidak ada satupun yang turis local, selain rombongan kami. Semua turis yang kami temui di pulau ini, adalah turis bule dari Negara Eropa dan Amerika. Woowwww…. Bagaimana bisa pulau terpencil ini sudah dibanjiri oleh turis Eropa ya???  Dari 3 penginapan yang ada dipulau ini, salah satunya adalah milik pengusaha dari Prancis, sedangkan 2 penginapan lain milik warga Makasar dan warga Togean sendiri.

Afternoon Kadidiri Beach

Kamipun memilih penginapan yang paling sederhana dari 2 penginapan lainnya, yaitu milik warga Togean sendiri (katanya). Penginapannya memang benar-benar sederhana, Cottage-nya dibangun dari bilik kayu dan anyaman kayu sebagai dindingnya dan alang-alang atap sebagai peneduhnya.  WC-nya pun, adalah wc dengan pemakaian bersama.  Ada sekitar 4 cottage yang tersedia, dengan masing2 cottage memiliki 2 bilik kamar.  Jadi ada total 8 bilik kamar yang tersedia, dan sebuah fasilitas restoran sederhana  yang menghadap pantai.  Dengan harga 100 ribu/orang/malam (incl breakfast, dan dinner), kami tidak bisa mengharapkan kasur yang bersih di penginapan ini.  Untunglah kami sudah berbekal sarung tambahan sekedar untuk melapisi sprei dari penginapan yang terlihat agak kurang bersih. Namun dengan segala keterbatasan itu, kami benar-benar merasakan jadi anak pulau yang sesungguhnya yang hidup di daerah terpencil. Keindahan pulau dan pantainya pun tetap menjadi atraksi dari penginapan yang sederhana ini.

Kadidiri Beach

Penginapan yang cukup mewah di pulau ini dimiliki oleh warga Makasar dengan nama Kadidiri Paradise Dive Resort. Untuk ukuran penginapan dipulau terpencil, penginapan ini cukup membuat saya terpukau. Mereka memiliki dive center dan dermaga panjang sendiri. Bangunan restoran dan lobby nya pun cukup megah berdiri ditengah-tengah cottage-cottagenya. Kemudian ada Black Marlin Dive Resort, yang kabarnya milik warga Eropa, yang memang tidak semegah Kadidiri Dive Resort, namun tetap menawarkan penginapan yang cukup berkelas. Sedangkan yang saya tempati, bernama Pondok Lestari Kadidiri, penginapan murah dan sederhana.

Menikmati sore hari di Pulau Kadidiri menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan. Dengan pantainya yang bersih, lautnya yang jernih, tebing karang yang menjulang dan  bangunan cottage yang menawan,bisa menjadikan sebuah obyek foto yang sangat berharga. Inilah Indonesiaku…

Rekomendasi :

Jakarta Ocean Dive : Andrew Lioe : 0818720196

Bull Shark Dive : 081356549898

DM Angku : 081543428879

Paradise Resort : 085241182440, 085242289909

 

Wekeend ini dibulan Juni kami berencana untuk diving dan climbing Gunung Krakatau (anak krakatau tepatnya). Semangat ini makin memuncak terlebih setelah melihat iklan Djarum “my great adventure” yang menampilkan adegan climbing di GunungKrakatau. Di iklan itu, kita bisa melihat dua orang petualang yang sedang melakukan aksi petualangnya mendaki gunung krakatau sampai kepada bibir kawahnya.

Malam ini bersama beberapa teman diving, kami berangkat dari checkpoint di RS Siloam di Kebon Jeruk. Tepat pukul 9 malam kami berangkat langsung menuju ke Carita lewat tol Merak. Dan tepat pukul 12 malam kami tiba di Hotel Sunset View , yang cukup bersih meskipun sederhana; tempat persinggahan sementara sebelum kami berangkat esok pagi ke Pulau gunungKrakatau.

Pagi ini pagi yang cerah dengan langit biru, tepat pukul 8 setelah sarapan kami langsung menuju ke dermaga kecil yang tepat ada diseberang hotel. Berdelapan kami naik boat diving yang sudah siap di dermaga. Cuaca cerah, langit biru, ombak tenang, wow it’s a beautiful morning….love it.

Setelah hampir satu jam perjalanan kami mulai melihat Gunung Anak Krakatau yang terkesan angkuh dan angker dari kejauhan. Gunung itu tidak menjulang tinggi sebetulnya, , namun menjadi terlihat megah karena gunung tersebut terletak dipulau sendiri yang dikelilingi oleh lautan.

Untuk singgahan pertama, kami akan diving di Cabe Lagoon, di lepas pantai sebuah pulau di dekat gugusan Pulau gunungKrakatau. Disana sudah terlihat boat kapal yang diisi beberapa orang bule yang sedang bersiap juga untuk diving dan snorkeling. Pulau tempat kami diving pun sebetulnya pulau tidak berpenghuni yang penuh dengan hutan lebat dan bakau, dan kami pun melihat beberapa biawak dari kejauhan sedang merendam diri di lautan yang cukup dingin.

Kali ini kami kurang beruntung di Cabe Lagoon karena visibilitinya yang middle mendekati poor. Disana kami bisa melihat beberapa terumbu karang yang kurang bervariatif, namun cukup untuk mengobati kerinduanku akan bertemu mereka. Untuk hewan laut kami bisa bertemu beberapa ikan nemo yang sedang berlindung dibalik tentakel soft coral yang melambai-lambai mengikuti irama arus laut. Kami cukup menyelam sampai dengan kurang lebih 20 meteran saja, didalam kami juga bisa melihat batuan-batuan vulkanik yang teronggok berwarna kehitaman, yang beberapa sudah tertutup dengan vegetasi terumbu karang, dan membentuk slope. Dibeberapa tempat kami juga melihat area luas pasir halus kehitaman, mungkin ini yang disebut pasir vulkanik.

Setelah sekitar 45 menit menyelam, kami kemudian melanjutkan perjalananan ke pulau tempat Gunung anak krakatau berdiam diri. Woww…exciting, kami akan melakukan pendakian sampai ke puncak kawah gunungKrakatau. Sebelumnya kami terlebih dahulu melewati Gunung Krakatau Tua, terasa sekali aroma angkernya, meskipun gunung tua tersebut telah ditutupi oleh lebatnya pepohonan besar, teringat bagaimana gunung ini sampai rela membelah dan menghancurkan diri sendiri untuk membunuh ribuan manusia, dan merubah iklim seluruh dunia untuk bertahun-tahun lamanya. Teringat pula bagaimana gunung ini bisa menjadi sebuah musibah terbesar selama dunia ini ada. Dengan jelas saya bisa melihat bagaimana bentuk gunung ini yang seperti kerucut terbelah. Setelah melewati Gunung Krakatau Tua, kami pun mulai mendekati Anak Krakatau, yang tidak kalah misterinya.  Saya makin merasakan aroma angker kawasan ini begitu melihat angkuhnya Gunung Anak Krakatau dari dekat. Setelah 15 menit perjalanan dari Cabe Lagoon, maka merapatlah kami di pulau ini. Saya menyebutnya pulau hitam, karena pulau ini semuanya serba hitam. Pasirnya hitam, daunnya hitam, batang-batang pohonnya hitam. Sangat menarik….

Sebelum kami mendaki, kami terlebih dahulu mengisi perut kami sebagai bahan bakar untuk tenaga kami. Lucunya, baru sebentar di pulau ini, baju kami pun sudah mulai berubah jadi hitam, tertutup abu tipis yang dikeluarkan dari kawah gunung. Namun tanpa disangka, baru sebentar kami menyelesaikan makan siang kami, terdengar suara gemuruh kecil dari arah kawah gunung. Sontak kemudian, kami langsung melihat ke arah atas; ke arah puncak gunung. Dari puncak gunung, kami bisa melihat kepulan asap tebal bergulung ke angkasa. Ya Tuhan….gunung ini sedang erupsi meletus. Antara takut dan takjub terpesona aku rasakan saat itu. Belum pernah saya sedekat ini dengan gunung meletus. Sesegera mungkin saya mengabadikan moment ini di kamera yang memang sudah stand-by ditangan saya dari awal perjalanan. Hujan pasir abu halus ringan berubah menjadi hujan lebat, namun bukan hujan air namun hujan abu lebat.

Tidak lama berselang, datang satu kapal patroli polisi yang berisikan polisi-polisi berbaju preman dan menenteng senjata laras panjang, untuk “mengusir” kami dan beberapa tamu lain untuk sesegera mungkin pergi dari pulau ini. Negoisasi pun kami lakukan, agar kami dapat tetap di pulau, untuk mengabadikan momen penting dan jarang ini. Namun negoisasi sepertinya tidak berhasil, dengan tegas mereka tetap mengusir kami dari pulau ini, dan dengan sangat berat hati kami akhirnya meninggalkan pulau ini dalam keadaan gunungnya yang sedang meletus.

Namun bukannya kami pergi jauh, kami justru menuju ke spot diving berikutnya di Batu Mandi, yang letaknya hanya berjarak 500 meter dari pulau. Spot ini ditandai oleh tumbukan batu-batu besar, mungkin bekas lutusan Gunung Krakatau 1 abad silam. Dengan latar belakang Anak Krakatau yang meletus, tumpukan batu ini menjadi obyek foto yang cantik sekali. Setelah siap semua, langsunglah kami melakukan penyelaman di sekeliling tumpukan batu ini. Ternyata tumpukan batu ini merupakan puncak dari tumpukan batu lainnya yang terlihat di dalam air dan membentuk sebuah kerucut rakasasa. Batu-batu ini pastilah merupakan saksi hidup dari letusan dashyat seabad lalu. Visibility di sini benar-benar poor, jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Tidak banyak yang bisa dilihat disini. Saya juga melihat beberapa bara api-bara api kecil di dalam laut, yang berasal dari letusan gunung yang masih berlangsung.

Setelah sekitar 45 menit melakukan penyelaman di kedalaman sekitar 25 meter, kami segera naik ke boat untuk menuju kembali ke Pulau Carita. Perlahan kami meninggalkanKrakatauyang sedang meletus, meninggalkan misteri, kenangan, dan harapan untuk kembali. I’ll be back for sure….

Saya berkunjung ke Gili Trawangan Lombok 2x. Pertama kali, berkunjung pada tahun 2001, dan terakhir kali berkunjung pada tahun 2010. Banyak perbedaan yang saya rasakan dari dua kali kunjungan saya yang  terpaut waktu 9 tahun. Pada tahun 2001, Gili Trawangan jelas belum terlalu ramai seperti pada kunjungan saya di tahun 2010. Pada tahun 2001, Gili T (begitu orang bule menyebutnya), masih belum banyak restoran/café-café dan hotel-hotelnya. Wisatawan bule-nya pun belum terlalu banyak. Awalnya Gili T dikenal sebagai base-camp para diver untuk menjelajahi alam bawah laut sekitar perairan Tiga Gili ( Gili Air, Gili T, Gili Meno). Diver mengenal perairan disini sebagai perairan yang memiliki kejernihan air yang bagus, terumbu karangnya yang terjaga, dan beberapa binatang unik yang hidup disini, seperti Hiu dan penyu. 3 Gili tersebut juga terkenal dengan pantai nya yang putih, lembut dan cukup “terasing” dari peradaban.

Pada tahun 2001, wisatawan yang berkunjung di Gili jelas didominasi oleh para diver. Ini bisa dilihat dari para wisatawannya yang berusia muda, dan hampir semua hotel menyediakan fasilitas-fasilitas untuk para diver, seperti jemuran wetsuit, bak air, dll, dll. Hotel-hotel dan restoran-restorannya pun masih didominasi oleh hotel/restoran kelas menengah. Meskipun pada saat itu penduduknya lebih didominasi oleh para wisatawan asing, namun Gili T belum terlalu terlihat hingar bingar seperti sekarang.

Namun ketika saya berkunjung kembali ke Gili T 9 tahun kemudian bersama kawan-kawan sableng gendeng Ayakan Gajah, saya cukup surprise dengan keadaan Gili T sekarang. Perkembangan kepariwisataan di daerah ini sangat pesat, seiring dengan perkembangan daerah Bali yang sudah cukup jenuh. Hotel-hotel mewah; seperti Villa Ombak, sampai dengan cottage super mewah sudah betebaran di daerah pesisir pantai Gili T, hotel-hotel kelas backpacker dan kelas menengah pun terlihat jelas meningkat tajam jumlahnya hampir 3x lipatnya. Kalau dulu hanya Gili T bagian timur (dekat dermaga) yang dipenuhi oleh hotel atau keramaian, sekarang hampir sekeliling Gili T sudah menyebar hotel-hotel dan pusat-pusat keramaian. Bahkan Gili bagian Barat pun sudah terlihat beberapa hotel kelas menegah ke atas yang diperuntukan untuk para wisatawan yang ingin menyepi.

Dilihat dari komposisi para wisatawan pun, jelas terlihat, meskipun masih didominasi oleh para diver, namun wisatawan non diver pun banyak terlihat lalu-lalang di Gili T. Banyak pasangan honey moon, anak-anak, keluarga, orang tua turut menikmati keindahan alam Gili T dan sekitarnya. Tapi dominasi wisatawan asing disini masih sangat terlihat. Mungkin komposisinya 25 persen adalah untuk penduduk lokal, pekerja lokal dan wisatawan lokal, sisa 75 persen adalah para wisatawan asing dan pekerja asing. Komposisi ini jelas bisa terlihat dijalan-jalan, restoran-restoran, café-café atau penghuni hotel-hotel. Bahkan banyak hotel-hotel/café-café memperkerjakan pekerja asing sebagai GM, koki, resepsionis, bahkan waitress. Memang mayoritas pemilik dari property disini; baik hotel, café, ataupun dive center adalah orang-orang asing. Makanya dalam tulisan ini saya berikan judul “Are We Still in Indonesia…?” karena sepertinya orang Indonesia disini malah terasa menjadi orang asing.

Untuk penginapan disini, ada Villa Ombak yang berharga 500 ribu – 1,2 jutaan, yang sangat cocok dengan wisatawan honey moon/keluarga. Ada juga cotaage yang berkonsep boutique yang bisa berharga 2,5 jutaan semalam. Penginapan untuk kelas dibawah 500 ribu banyak betebaran juga di Gili T, seperti Dream Diver tempat pasukan Ayakan Gajah menginap kali ini. Sedangkan untuk cari makan, juga ada restoran-restoran mewah/café-cafe di Gili T bagian Timur; dekat Villa Ombak, ada juga warung-warung pujasera outdoor yang sangat murah meriah (dekat dermaga), dan anehnya pengunjung warung-warung murah ini pun masih didominasi oleh bule-bule asing.

Gili T bisa dicapai baik dari Pulau Lombok maupun dari Tanjung Benoa (Bali). Kalau dari Pulau Lombok, ada 2 pilihan boat yang bisa mencapai Gili T. Bila anda naik kapal rakyat, cukup merogoh kocek 10 ribu saja untuk bisa mencapai Gili T dari pelabuhan Bangsal dalam 1 jam. Namun pelabuhan ini akan tutup jam 4 sore. Dan bila anda ingin mencari boat yang lebih ekslusif, cepat dan 24 jam, anda bisa memakai speedboat milik Villa Air (tetap diperuntukan untuk umum). Dengan harga 100 ribu/org, anda akan bisa mencapai Gili T dalam setengah jam saja. Adapun pelabuhannya tidak di pelabuhan Bangsal, namun langsung dari pelabuhan kecil milik Villa Ombak  di Teluk Kodek.

Namun para wisatawan asing, kebanyakan mengambil boat langsung dari Tanjung Benoa (Bali), untuk menuju ke Gili T. Dengan dana sekitar 400 ribuan, dalam waktu sekitar 2 jam-an, anda sudah dapat menjejakan kaki di Gili T.

Bila anda seorang diver, banyak spot-spot bagus nan menawan di sekitaran 3 Gili. Banyak pula betebaran diving center di Gili T, jadi anda tidak usah khawatir akan minimnya sarana disini. Beberapa diving center yang cukup ternama disini adalah Budha Dive dan Dream Diver (semua milik warga asing).

Beberapa spot dive yang banyak dikunjungi dan terkenal disini adalah Manta Point, Letaknya di barat Gili Trawangan, kalau dari Gili Air sekitar 20 mnt naik perahu. Visibility hampir dipastikan diatas 20 meter, healthy soft corall, terumbu yang rapat flutemouth, anglefish, boxfish, Moray eel., dan kadang bisa ketemu manta dan shark disini.

Kemudian ada Hans Reef: Lokasi utara Gili Air, kl 5mnt naik boat dari Gili air. Visibility ciamiikk, abundance reef fishes, Moray eel, garden eel, lionfish, mantis shrimp, stonefish/scorpion fish, giant red grouper, giant sea cucumber.

Atau kalau berani, bisa coba SharkPoint : Lokasi di sebelah barat daya Gili Trawangan, sekitar 20mnt dari Gili Air, bisa ketemu segerombolan Bumphead Parrotfish, bisa ketemu octopus, penyu dan hiu tentunya.

Dan bila anda bukan diver, tidak usah khawatir akan kekurangan hiburan disini. Anda bisa mengambil paket snorkeling ½ hari disini. Dengan hanya 75 ribu saja (untuk orang lokal), anda sudah bisa mendapatkan snorkeling di daerah Gili Air, melihat penyu-penyu berenang, dan makan siang ala cottage di pinggir pantai di Gili Air/Gili Meno. Pemandangan snorkeling disini cukup bisa membuat saya takjub akan kejernihan airnya, terpeliharanya terumbu-terumbu karang, banyaknya ikan-ikan kecil, dan cukup mudahnya ditemukan atraksi penyu-penyu berenang mengarungi lautan. Dan semua ini cukup bisa kita dapatkan di perairan dangkal sekitar 5 meter saja. Jangan pula lewatkan berenang, atau sekedar bermain air di pantai Gili T, pasirnya yang lembut dan airnya yang jernih-bersih memberikan nuansa tersendiri pada liburan di Gili yang letaknya paling barat diantara 2 gili lain

Kalaupun anda alergi air laut, anda juga bisa berolahraga pagi jogging berkeliling pulau dengan panjang total sekitar 4-6 km sembari menikmati keindahan Pulau Gili T.  Bagi yang suka bersepeda, temukan tantangan mengeliling pulau Gili T bersepeda di jalan berpasir yang cukup bisa membuat betis anda kenyot-kenyot. Anda bisa menyewa sepeda di bike rental yang tersebar disini dengan harga 25 ribu/hari (khusus utk lokal dan harus nawar gila-gilaan). Anda juga bisa naik “delman istimewa – tidak duduk dimuka” untuk bisa mengelilingi Gili T tanpa betis kenyot-kenyot dan keringat membasahi tubuh anda. Namun untuk yang satu ini, anda lumayan harus merogoh kocek banyak. Biaya untuk keliling pulau dengan cidomo (nama delman di sini) bisa mencapai sekitar 500 ribu untuk sekitar 1 rombongan/4 orang. Disini juga bisa menyewa kuda australi untuk ditunggangi dengan harga sekitar 350 ribu/1 atau 2 jam. Sekedar informasi, di Gili T, semua kendaraan bermotor dan berbensin dilarang ada di pulau ini, sehingga bisa dibayangkan betapa murni udara yang bisa kita hirup di sana.

Bila anda orang yang malas, Gili T juga menawarkan banyak tempat untuk bermalas-malasan atau sekedar bersantai. Bersantai di beranda teras hotel sambil memandang lautan, bersantai di pinggir kolam renang hotel, atau bersantai langsung di kursi-kursi malas langsung di tepi lautan menjadi pilihan yang banyak diambil oleh para wisatawan disini. Disini juga ditawarkan sewa film dan langsung tonton di tv 21 inch untuk 2 seat di bilik kecil, langsung dipinggir pantai ditemani oleh semilir angin pantai. Villa Ombak juga memutar film-film box office tiap malam di layar besar bak layar tancap, bila kita ingin menonton rame-rame bersama kawan-kawan.

Dengan luas pulau hanya sebesar 1/3 kelurahan di Jakarta, Gili T masih menawarkan beberapa hal lain,. Bagi anda pecinta fotografi, Gili T juga menawarkan cukup banyak obyek-obyek indah dan unik untuk bisa diabadikan. Pasir putih dan langit biru sering dijadikan objek bagi para pecinta fotografi pada pagi hari. Ornamen-ornamen atau sekedar gazebo hotel di pantai, juga dapat menambah nilai estetika dalam lembar fotografi. Sunset café yang bernuansa kayu, juga sering dijadikan para penggemar fotografi  untuk memotret model-model wanita cantik. Mengabadikan sunset di Sunset Bar Outdoor, dengan latar Gunung Agung Bali menjadi klimaks bagi para fotografi mania di pulau kecil ini. Selain para fotografer, sunset Bar Outdoor selalu menjadi tempat para wisatawan asing berkumpul pada sore hari, sembari bercengkrama menunggu tenggelamnya matahari di balik punggung Gunung Agung.

Aneh memang…, dari pulau sekecil itu, bisa menawarkan begitu banyak hiburan dan keindahan alam yang luar biasa. Gili T bisa menjadi pilihan alternative liburan yang sangat menarik dan tidak membosankan, bila kalian ingin liburan tidak hanya sekedar Bali dan Lombok (main island).  Dan semua keindahan ini memang hanya bisa terjadi di bumi Indonesia, bumi yang selalu aku cintai, banggakan, dan rindukan…

Hari ini, hari yg sangat cerah. Bersama Tim AyG, kami menyempatkan mampir ke Ambon sebelum ke Raja Ampat, untuk mencoba diving di tempat yg kabarnya memiliki keindahan alam bawah laut yang luar biasa dengan kejernihan air-nya yang sangat terjamin extra clear pada setiap akhir tahun.
Perjalanan kami kali ini sebetulnya dibayangi oleh bencana-bencana alam yang baru saja terjadi akhir-akhir ini di tanah air, yang disebabkan oleh perubahan cuaca atau anomali iklim yang aneh.
Namun kalau kita terlalu mengkhawatirkan terus menerus mengenai iklim yang tidak pernah diprediksi, dipastikan sampai kapanpun kita tidak akan bisa pergi kemana-mana. Berangkat dari pemikiran tsb, maka nekatlah kita untuk tetap pergi diving, tentunya dengan harapan lindungan dari Allah SWT.

Kami tiba di Bandara Pattimura Ambon sekitar jam 3 sore disambut oleh cuaca yg agak mendung-mendung-mengundang. Setelah mendarat, kami langsung menuju ke daerah Laha, yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari airport. Kami menginap di Mess TNI AU. Mess Dirgantara, yang terletak di tengah-tengah lingkungan perumahan staf perwira AU. Seperti kebanyakan Mess TNI lainnya, keadaanya sangat bersih

Mess AU Laha

dan rapi. Mess ini memiliki banyak kamar, dengan ruangannya yg ber AC. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung segera menyiapkan diving gear untuk melakukan penyelaman pertama kami di Ambon. Karena kita akan mulai nyemplung sekitar jam 5, kami menyebutnya bukan ‘night dive’, tapi ‘almost night dive’.

Mural Eel @Laha

cuttlefish at the junk of Laha

Spot Laha sendiri adalah spot dibawah pelabuhan kapal nelayan kecil. Terlihat ada sekitar 5 kapal parkir di pelabuhan tsb. Entry pointnya langsung dari halaman belakang mess kami, tanpa menggunakan boat, dan hanya berjarak sekitar 50 meter. Saya sendiri berfikir apa bakal bagus ya, kalau kita diving dibawah pelabuhan?? Ternyata memang benar dugaan saya. Di spot ini kita tidak mungkin mengandalkan bakal ada terumbu-terumbu karang berwarna-warni. Kita hanya menemukan beberapa tumpukan botol2 minuman, ban-ban bekas, sepatu-sepatu atau tas-tas bekas, hehehe. Tapi anehnya, visibility disini masih bisa mencapai 20 meter meskipun hari

lionfish @Laha

sudah menjelang malam, dan laut tetap terasa bersih, dalam kedalaman 18 meter. Ada lagi yang mengejutkan bagi kami, di sini kami bisa menemukan hewan-hewan laut kecil yang cukup menakjubkan. Kita dapat dengan mudah menemukan boxfish, mural eel, octopus, cuttlefish, pipefish, dan nudibranch. Its a heaven for macro photography lover.

Keesokan harinya, kami berpindah hotel, menuju ke pusat kota Ambon.

Amaris Ambon

Kami menginap di hotel modern Amaris Ambon. Selama beberapa hari kedepan, hotel ini akan selalu menjadi base kami. Untuk diving selanjutnya, kami fokuskan diving di Desa Hukurila. Adapun jarak dari hotel/pusat kota adalah sekitar 1 jam perjalanan.  Hukurila sendiri terletak di daerah selatan pulau yang menghadap ke arah Samudra Hindia.

Diving Camp @Hukurila Village

Dari base Desa Hukurila saja, kita sudah akan banyak menemukan spot-spot dive yang sangat menarik. Adapun tipologi dari daerah selatan pulau, adalah tepi pulaunya yang berkarang-karang, yang menandakan akan banyak wall dan gua-gua dalam bawah laut, dan pastinya ikan-ikan yang bermain diantara karang-karang.

Big Wall @Lehari

Wall-wall yang menakjubkan, dapat kami temukan di spot dive Lehari-

Another Wall @Batu Toka

Labuang, Muka Batu, Batu Toka, Tanjung Hihar  dimana terdapat wall yang sangat tinggi mencapai 30 meter, dan memiliki dasar pasir halus yang sangat luas tak berbatas. Sangat menakjubkan. Di spot dive Tanjung Haur pun kita bisa menemukan wall berbentuk “V” yang sangat besar dan menciptakan sebuah bentuk yang cukup membuat mata kita terkesima.

Kami juga menemukan jumlah varietas dan kuantitas dari hewan laut yang

ClownFish Playing (so clear of water)

menakjubkan di spot dive Lehari Kiri. Kami banyak sekali melihat lobster yang berlindung diantara karang-karang, kami juga menemukan hewan-hewan laut seperti triggerfish, boxfish, mackerel, dan schooling fish dari berbagai jenis.

Satu hal yang sangat membuat anda tidak akan melupakan Ambon adalah spot dive di Hukurila Cave! Disini anda dipastikan akan menemukan arus ombak yang cukup besar, dan hati-hati terpentuk karang yang ada dimana-mana, ketika mulai terjun ke laut. Dan sesuai namanya, kami menemukan sebuah gua raksasa besar pada kedalaman sekitar 20 meter. Lucunya, untuk entry point ke dalam gua tersebut-guide kami “mbak maya” membawa kita untuk melewati terlebih dahulu celah sempit selebar 1,5 meter saja untuk memberikan sensasi yg menakjubkan dan more spooky sebelum memasuki gua raksasa sebenarnya. Sea Fan dan spons berukuran

Hukurila Cave !!!

extra besar akan selalu menemani anda selama melakukan penyelaman di sini. Mantab!!

Giant Cave @Hukurila Cave Point

Anda akan juga menemukan sensasi menakjubkan diving diantara karang di spot dive Tanjung Haul. Jarak spot dive ini hanya berjarak 5 meter dari tempat base kita menyiapkan gear. Anda akan menemukan banyak sekali bukit-bukit karang yang rapat hanya pada kedalaman 15 meter. Rasakan diving dengan zig-zag melewati sela-sela diantara bukit-bukit karang. Wow…fantastic!

Dari base di desa Hukurila, kita juga bisa menemukan sebuah pantai yang

Private Naku Beach

luar biasa indah dan belum terjamah. Pantai Naku namanya. Letaknya sekitar 30 menit by speedboat dari base. Tipologi pantai ini, hampir sama persis seperti pantai di Maya Beach, Phiphi Island. Pantai ini terletak tersembunyi dalam sebuah teluk dilindungi dan diapit oleh 2 tanjung karang berhutan. Indah sekali…! Pantai ini berpasir krem halus, dengan permukaan nya yang landai panjang, dan memiliki arus laut yang sangat tenang. Its a must visit to this beach….!

Ambon Manise : Extra Clear of Water

Dari semua spot dive di daerah Hukurila ini, kami menemukan kejernihan air yang sangat mengagumkan. Visibility bisa mencapai lebih dari 30 meter! Visibility ini memang sudah kita rasakan dari beach base kami untuk persiapan gear. Pantai ini juga sering dikunjungi oleh para penduduk lokal yang membawa keluarga, untuk sekedar beristirahat, berenang, atau snorkling menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Hari terakhir di Ambon, kami gunakan untuk plesiran non-diving untuk

Suasana Kota Ambon

melihat keindahan alam daerah Ambon. Gong Perdamaian di pusat kota yang kini menjadi landamark terbaru kota Ambon menjadi pilihan kunjungan. Kebetulan tim AyG berkunjung ke sini pada tepat malam Tahun Baru. Atraksi kembang api mewarnai pergantian tahun di kota seluruh sudut Kota Ambon. Hampir selama satu jam, tidak henti-

hentinya mereka merayakan kegembiraan dengan menyalakan dan menyaksikan atraksi kembang api.
Jangan lupa juga berkunjung ke Pantai Natsepa yang ramai. Disini anda akan menemukan ratusan warung yang mempunyai menu seragam; hanya menjual rujak! Aneh bin ajaib. Tidak jauh dari pantai ini, anda akan menemukan Pantai Liang. Seperti pantai Natsepa, laut di sini terlihat sangat

liang beach

bening bersih kehijauan. Biarpun pantai disini ramai dikunjungi masyarakat, namun pantai ini tetap terjaga keindahan dan kejernihannya. Ingin rasanya kita nyemplung kembali melihat jernihnya air disini, namun kalau dipikir-pikir, kita sudah terlalu banyak “menelan” air laut sejak kita tiba di Ambon. Hehehhe

Waiselaka Pond

Di dekat Pantai Liang, kita juga akan menemukan tempat wisata kolam eel, Kolam Waiselaka. Disini, terdapat sebuah sungai alami yang didiami banyak sekali mural eel yang jinak. Sungai-nya sangat jernih, sehingga banyak sekali wisatawan yang menyempatkan diri berenang disini bersama dengan eel. Kapan lagi, kalian bisa berenang dan bermain bersama eel yang licin dalam satu kolam.

Masih banyak, tempat-tempat menarik di Ambon yang patut dikunjungi, bila anda memiliki waktu luang; seperti benteng peninggalan Belanda dari abad 17-benteng amsterdam, atau sekedar berfoto di depan Patung Martha Tiahahu. Sebagai big fans of coffee, tim AyG juga tidak rela untuk melewatkan mencoba kopi lokal di kedai-kedai kopi yang banyak tersebar di segala penjuru kota. Nikmaaaaat..
Dan untuk sekedar membawa oleh-oleh buat teman-teman dan keluarga diJakarta, diwajibkan untuk memborong botol-botol minyak kayu putih yang sangat terkenal, dan untaian mutiara-mutiara asli nan murah meriah di kawasan Batu Merah. Perfecto….

Wuihhh, perjalanan kita di Ambon kali ini, terasa sangat menyenangkan. Iklim kondusif, badan sehat, pemandangan menakjubkan, dan semuanya sudah diatur dengan sempurna oleh guide lokal;  kawan-kawan dari Pari Diver (big salute to Maya, Mu’in). Sempurna.
Alhamdullilah.

Ayakan Gajah Adventourer Team at Liang Beach !!!

Rekomendasi :

Pari Diver : 081343092093 / paridive@gmail.com

UW Photography by Andrew Lioe

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.