Latest Entries »

EKPLORASI DIVING di TOGEAN

Setelah beristirahat semalam dengan cukup nyaman, kami mulai bersiap diri pagi hari untuk melakukan trip diving berikutnya. Kali ini kami ingin menuju ke spot yang paling terkenal dari Togean yaitu spot Bomber Wreck. Disini telah terbenam sebuah pesawat pembom peninggalan dari Perang Dunia II, B24 Liberator. Bukan tipe pesawat fighter, namun tipe pesawat bomber dengan ukuran yang lebih besar dari jenis pesawat P54 yang saya temukan di Way Beach – Raja Ampat.

Bomber Wreck Point

Bomber Wreck Togean

Perjalanan menuju spot Bomber Wreck Point cukup memakan waktu, sekitar  1

Pulau Kabupaten Una Una

jam perjalanan. Dalam perjalanan, kami melawati Pulau Wakai, ibukota kabupaten Tojo Una-Una. Dari kejauhan kami melihat kepadatan penduduk dipulau itu. Dalam perjalanan juga kami melewati perkampungan di atas laut yang mungkin juga didiami oleh Suko Bajo yang nomaden. Sepanjang perjalanan kami dapat melihat akan lebatnya pohon-pohon di sekitar pulau yang kami lewati.

 

Togian-B-24-Liberator

Setelah sekitar hampir 1 jam perjalanan kapal, tibalah kami di sebuah teluk pulau di salah satu pulau di Kepulauan Togean. Kapal kami berhenti 400 meter dari bibir pantai untuk mempersilahkan para diver mempersiapkan alat-alatnya. Di kedalaman sekitar 15-20 meter langsung kami menemukan rongsokan pesawat bomber yang cukup besar dan utuh. Badan pesawat masih terlihat utuh dan belum terlalu ditutupi oleh terumbu karang. Dashboard pesawat, bangku pesawat pun masih terlihat jelas di area kokpit. Kemudian kami berkeliling mengelilingi pesawat, dan kami menemukan sebuah lubang di samping pesawat yang menembus ke lubang disisi satunya, ini pasti palka untuk cargo pikirku. Dengan menyebrangi palka tersebut, kemudian kami lanjut diving ke belakang pesawat, kami masih bisa melihat ujung-ujung senapan mesin yang masih terlihat jelas.

Dengan tingkat visibility yang minim kami masih bisa juga melihat banyak ikan lionfish yang berenang-renang di ujung sayap pesawat, dan beberapa kali juga kami melihat ubur-ubur yang cukup besar menghiasi alam bawah laut Togean.  Dispot ini, kami hampir tidak melihat adanya terumbu karang yang bagus dengan dasar laut hanya ditutupi pasir dengan warna agak gelap.

KOTA WALL dan MINI CANYON

Keindahan di Kota Wall

 

Setelah dimulai dengan Bomber Wreck, diving hari ini akan dilanjutkan dengan

Angry Eel

diving di spot kota wall dan mini canyon.  Kedua spot ini memiliki karakteristik yang hampir sama, dengan wall-wall tebing yang menarik dan terumbu-terumbu karang yang kaya akan warna. Di Mini Canyon, kami menemukan banyak cave-cave yang memukau dan ada wall besar berbentuk “V” yang cukup unik. Di Mini canyon juga kami menemukan gunung-gunung koral kecil yang bertebaran dihiasi oleh ikan-ikan kecil yang cantik. Alhamdulilah visibility di kedua tempat ini jauh lebih bagus dari pada di spot bomber wreck. Visibility dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan kedalaman penyelaman sekitar 25 meter.

Wall V Mini Canyon

DOMINIQUE  ROCK dan CORAL GARDEN

Dominique Rock

Underwater flower

Hari terakhir di Togean, kami merencanakan 2 dive saja disekitar Pulau Kadidiri. Dominique Rock merupakan spot wajib yang sangat perlu untuk didatangi di Togean, karena kabarnya disinilah terdapat pemandangan alam bawah laut yang sangat memukau. Benar saja, begitu kami menyelam di spot Dominique Rock, kami melihat extraordinary wall yang cukup membuat saya tertegun. Pada kedalaman 25-30 meter, kami bisa melihat wall-wall raksasa dengan terumbu karangnya yang sangat indah. Setelah diving menyusuri wall sekitar 30 menit, perjalanan di spot ini diakhiri dengan coral garden rata yang sangat luas dan sangat indah. Kami banyak menemukan starfish di spot ini. Tidak jauh dari Dominique rock, kami melakukan penyelaman terakhir di Togean, adalah di spot Coral Garden. Pada spot ini kami melihat banyak alligator fish yang bejalan lambat di pasir sembari berkamuflase. Keunikan dari spot ini adalah adanya bukit-bukit kecil koral di tengah hamparan luas pasir putih. Setiap bukit kecil memiliki terumbu-terumbu yang unik, sehingga sangat menarik untuk mendatangi masing-masing dari bukit kecil – bukit kecil tersebut.

Setelah selesai melakukan penyelaman terakhir, kami pun kembali ke Pulau Kadidiri tempat kami menginap, dan melakukan persiapan untuk pulang ke Gorontalo sore itu juga.  Berat rasanya untuk meninggalkan Pulau Kadidiri yang mempesona sore hari itu. Perlahan namun pasti kami pun mulai meninggalkan Pulau Kadidiri. Sampai Jumpa Kadidiri, Sampai Jumpa Togean….

Our Boat

 

 

Diving di Togean sebetulnya tidak termasuk dari salah satu destinasi prioritas yang masuk dalam list plan tripku. Kenapa tidak Togean,?? Karena selama ini nama Togean masih kurang terdengar dibanding destinasi lain seperti Derawan, Morotai, Banda, atau Alor yang belum pernah saya kunjungi.  Dan akses tranportasi ke Togean memang masih sangat terbatas, hal itulah yang membuat saya berfikir ulang.  Cuma apa daya, karena bujuk rayu beberapa teman divingku dari Jakarta Ocean Dive dan teman dari BullShark Dive-Gorontalo, akhirnya saya memutuskan akan melakukan perjalanan beberapa hari ke TOGEANpada bulan Agustus 2011.

Teluk Tomini

Setelah rencana disusun matang, akhirnya kami berangkat di suatu hari di bulan Agustus dengan rombongan berjumlah 9 orang dari Jakarta dan 1 orang langsung dari Gorontalo.

Kalau dilihat dari peta, untuk ke Togean bisa dicapai dengan beberapa alternative.

  1. Alternatif 1 : Jakarta – Gorontalo – Togean
  2. Alternatif 2 : Jakarta – Gorontalo – Bumbulan – Togean
  3. Alternatif 3 : Jakarta – Palu – Ampana – Togean

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing alternative perjalanan. Disini kita hanya memilih, untuk lama jalan di darat atau lama jalan di laut. Berhubung memang kita anak laut, akhirnya kita memilih alternative 1.

PERJALANAN KE TOGEAN

Kami memakai pesawat Lion dan mendarat di bandara kecil di  Gorontalo pada siang hari yang sangat terik. Ini pertamakalinya saya menjejakan kaki di tanah Gorontalo. Saya tidak melihat keistimewaan di kota Gorontalo ketika dalam perjalanan saya menuju ke hotel dari bandara, namun demikian saya lihat kebersihan kota Gorontalo yang cukup terjaga, dan sepinya kota Gorontalo pada siang hari itu, yang mungkin masih dalam suasana lebaran. Bagi saya Gorontalo hanya identik dengan Briptu Norman dan Fadel Muhammad, tidak lebih dari itu. Tidak banyak hal lain yang saya tahu mengenai kota Gorontalo., meskipun akhir-akhir ini saya banyak dengar tentang keindahan alam bawah laut Gorontalo yang luar biasa, terutama dengan “Salvador Dali” nya yang hanya ada satu-satunya di dunia.

” Menara Eiffel ” Gorontalo

Dalam perjalanan menuju hotel, kami melewati bangunan seperti menara Eiffel berwarna hijau dan  cukup menarik juga, mengamati bangunan itu. Saya melihat tangga panjang untuk menuju ke puncak menara, mungkin dari puncak menara kita dapat melihat keseluruhan Kota Gorontalo. Tetapi karena kami masih merasa lelah dari perjalanan panjang di pesawat, dan cuaca yang sangat terik, kami menyimpan dulu keinginan kami untuk naik ke puncak menara.Dan setelah perjalanan sekitar 30 menitan, sampailah kamidi Hotel Grrand City, di tengah kota Gorontalo. Meskipun bukan hotel besar dan hotel ternama,  hotel ini cukup bersih dan nyaman.

Kami hanya menggunakan hotel ini untuk

Bentor Gorontalo

beristirahat sejenak, karena dijadwalkan kami harus ke pelabuhan untuk berangkat ke Kepulauan Togean sekitar jam 7 malam. Karena hari masih panjang, kami gunakan juga waktu yang tersisa untuk sekedar mencari makan di pusat pertokoan yang terdapat di dekat hotel.  Kami menumpang angkutan yang disebut Bentor ( Becak Motor), yaitu motor yang dimodifikasi menjadi seperti becak supaya bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Setelah waktunya tiba , berangkatlah kami ke pelabuhan yang berjarak hanya

Grand City Hotel Gorontalo

20 menit dari hotel. Meskipun kecil, sepertinya ini memang pelabuhan utama di Gorontalo. Karena selain kapal-kapal kecil, saya juga melihat ada 1 kapal cargo besar dan 1 kapal feri yang cukup besar sedang berlabuh . Namun pelabuhan disini sepertinya tidak dalam area tersendiri, namun kapal-kapal ini bersandar di laut yang langsung ada dipinggir jalan trans penghubung.

Kami dijanjikan, bisa tiba di Kepulauan Togean dalam 9 jam memakai kapal kayu yang cukup kecil untuk bisa menampung kami. Selain 9 orang dari grup kami, ada juga kapten kapal, crew, dan seorang DM yang ikut kami. Jadi total ada 13 orang yang ada di kapal kecil ini. Tepat pukul 9 malam kami berangkat menuju ke Kepulaun Togean. Memang disarankan kami berangkat malam hari, karena pada saat itu, malam hari adalah waktu yang paing bersahabat untuk kami dapat menuju ke Kep. Togean.

Dengan anggota grup yang cukup ceria dan bersahabat, kami mengarungi Teluk Tomini dengan penuh canda dan tawa untuk mengusir kebosanan akan waktu. Ombak pun cukup tenang, meski kami sempat di terpa hujan. Kemudian kami dikejutkan dengan kedatangan sekelompok lumba-lumba yang mengiringi dan mengelilingi kapal kami pada tengah malam. Sektiar 1 jam sekelompok lumba-lumba tersebut melakukan atraksi melompat-lompat di sekeliling kapal kami, seperti mereka ingin berusaha untuk menunjukan eksistensi mereka  dan menghibur kami. Inilah makluk Tuhan yang sangat menakjubkan.

Pulau Una Una

Dengan estimasi 9 jam, dijadwalkan kami  bisa merapat di Kepulau Togean pada pukul 6 pagi. Namun pada saat waktunya tiba, ternyata kami belum melihat sama sekali ada kepulauan disekitar kami. Radar pun menujukan bahwa pulau terdekat masih berjarak sekitar 2 jam jauhnya, padahal kami tidak mengalami rintangan atau hambatan dalam perjalanan.

Tepat pada pukul 7 pagi kami mulai melihat pulau dari kejauhan. Pulau Una-Una namanya. Makin mendekat kami melihat keindahan bentuk pada pulau ini. Pulau ini seperti pulau yang lebar, dengan bukit ditengahnya, pulau inipun sepertinya tidak berpenghuni, karena ditutupi oleh lebatnya pohon-pohon, Kami juga melihat garis pantai mengelilingi pulau ini. Nice..

Kami memang merencanakan untuk diving di dekat pulau ini, sudah tidak sabar rasanya kami untuk sekedar bisa terjun dan mencicipi basahnya dan birunya air laut, setelah 11 jam kami berlumut di kapal.  Kemudian kami membuang jangkar dengan jarak sekitar 300 meter dari bibir pantai Pulau Una-Una, dan mempersiapkan diving gear kami.

 

Barracuda Point/Pinaccle Point

DM Togean menyebut nama spotnya adalah Baracuda Point/Pinaccle Point.

Terumbu dengan mini thoby

Segera setelah kami menyelam, kami langsung melihat schooling barracuda lewat di depan kami, sesuai namanya. Dan kami cukup disuguhkan atraksi-atraksi lain yang cukup menghibur.  Dengan visibility 20-25 meter, kami melihat sekelompok bump head berenang dengan santainya sembari mencari makan di antara terumbu-terumbu. Kami juga mempergoki schooling jack fish yang berenang kesana kemari untuk menarik perhatian para diver. Meskipun tidak ada keistimewaan pada terumbu karangnya, namun saya melihat mereka tumbuh dengan suburnya dengan cahaya matahari yang cukup.  Di kedalaman 20-30 meter, kami juga melihat banyak-banyak sekali mini thoby yang berenang seperti layaknya sperma berenang menuju indung telur.

 

 

 

 

California Dream Point

Sebelum menuju pulau Kadidiri, tempat kami menginap, kami mampir sekali lagi di California Dream Point, kurang lebih berjarak ½ jam dari tempat kita diving sebelumnya. Di spot ini visibilitynya tidak lebih baik dari spot sebelumnya, namun kami masih bisa melihat bahwa terumbu disini jauh lebih menarik dan padat dari spot sebelumnya. Kami juga masih banyak menemukan banyak bump head berenang di perairan ini. Yang paling membuat saya terkejut adalah banyaknya sekali mini thoby yang ada di perairan ini. Jumlahnya berlipat-lipat kali dari mini thoby yang kami temukan di spot sebelumnya.

Kadidiri Island

Keindahan Pulau Kadidiri

Setelah menyelesaikan 2 agenda penyelaman, kami langsung menuju ke Pulau Kadidiri, pulau tempat kami akan menginap selama di Kepulauan Togean.  Setelah 1,5 jam perjalanan , sekitar pukul 3 sore, Pulau Kadidiri mulai menampakan diri. Oh indahnya pulau ini !!!!!! Dari kejauhan kami melihat garis pantai yang bersih, beberapa gunung karang yang menjulang, dermaga yang menjorok ke laut, dan beberapa cottage tradisional yang sangat menawan.

Melihat gunung-gunung karang itu pun saya teringat pemandangan alam

Punggung Pulau Kadidiri

Halong Bay ataupun gugusan pulau di Phuket. So amazing, bagaimana kami bisa menemukan keindahan pulau yang memukau setelah hampir 1 hari kami mengarungi lautan.  Saya pun terheran bagaimana nama Togean masih kurang terdengar dalam peta pariwisata Indonesia, setelah kami terpukau oleh keindahan pulau ini. Tidak heran, dengan keindahan pulau ini, semua cottge pariwisata bermarkasi di pulau ini,, dan makin kami mendekat ke teluk di Pulau Kadidiri, makin terlihat jernih air laut nya sampai kita bisa melihat terumbu karang yang berkedalaman sekitar 5-10 meter.

Dikarenakan banyaknya terumbu karang, kapal kami tidak bisa sampai merapat

Jernihnya Air Togean

ke bibir pantai Pulau Kadidiri, sehingga kapal terpaksa harus membuang jangkar 200 meter dari pantai. Dengan tidak sabarnya melihat keindahan pulau itu, kampipun segera terjun ke laut dan berenang menuju langsung ke pulau. Sedangkan semua barang dan perlengkapan kami ditransfer melalui sampan kecil milik penginapan.

Setelah terkejut-kejut dengan keindahan pulau ini, saya pun dikejutkan oleh hal lain dari pulau ini. Dengan anggapan bahwa pulau ini cukup terpencil, saya tidak berharap banyak bahwa akan ada banyak turis di pulau ini. Namun kenyataan berbicara lain, saya dikejutkan dengan banyaknya turis yang menginap di 3 penginapan di hotel ini. Dan tidak ada satupun yang turis local, selain rombongan kami. Semua turis yang kami temui di pulau ini, adalah turis bule dari Negara Eropa dan Amerika. Woowwww…. Bagaimana bisa pulau terpencil ini sudah dibanjiri oleh turis Eropa ya???  Dari 3 penginapan yang ada dipulau ini, salah satunya adalah milik pengusaha dari Prancis, sedangkan 2 penginapan lain milik warga Makasar dan warga Togean sendiri.

Afternoon Kadidiri Beach

Kamipun memilih penginapan yang paling sederhana dari 2 penginapan lainnya, yaitu milik warga Togean sendiri (katanya). Penginapannya memang benar-benar sederhana, Cottage-nya dibangun dari bilik kayu dan anyaman kayu sebagai dindingnya dan alang-alang atap sebagai peneduhnya.  WC-nya pun, adalah wc dengan pemakaian bersama.  Ada sekitar 4 cottage yang tersedia, dengan masing2 cottage memiliki 2 bilik kamar.  Jadi ada total 8 bilik kamar yang tersedia, dan sebuah fasilitas restoran sederhana  yang menghadap pantai.  Dengan harga 100 ribu/orang/malam (incl breakfast, dan dinner), kami tidak bisa mengharapkan kasur yang bersih di penginapan ini.  Untunglah kami sudah berbekal sarung tambahan sekedar untuk melapisi sprei dari penginapan yang terlihat agak kurang bersih. Namun dengan segala keterbatasan itu, kami benar-benar merasakan jadi anak pulau yang sesungguhnya yang hidup di daerah terpencil. Keindahan pulau dan pantainya pun tetap menjadi atraksi dari penginapan yang sederhana ini.

Kadidiri Beach

Penginapan yang cukup mewah di pulau ini dimiliki oleh warga Makasar dengan nama Kadidiri Paradise Dive Resort. Untuk ukuran penginapan dipulau terpencil, penginapan ini cukup membuat saya terpukau. Mereka memiliki dive center dan dermaga panjang sendiri. Bangunan restoran dan lobby nya pun cukup megah berdiri ditengah-tengah cottage-cottagenya. Kemudian ada Black Marlin Dive Resort, yang kabarnya milik warga Eropa, yang memang tidak semegah Kadidiri Dive Resort, namun tetap menawarkan penginapan yang cukup berkelas. Sedangkan yang saya tempati, bernama Pondok Lestari Kadidiri, penginapan murah dan sederhana.

Menikmati sore hari di Pulau Kadidiri menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan. Dengan pantainya yang bersih, lautnya yang jernih, tebing karang yang menjulang dan  bangunan cottage yang menawan,bisa menjadikan sebuah obyek foto yang sangat berharga. Inilah Indonesiaku…

Rekomendasi :

Jakarta Ocean Dive : Andrew Lioe : 0818720196

Bull Shark Dive : 081356549898

DM Angku : 081543428879

Paradise Resort : 085241182440, 085242289909

 

Wekeend ini dibulan Juni kami berencana untuk diving dan climbing Gunung Krakatau (anak krakatau tepatnya). Semangat ini makin memuncak terlebih setelah melihat iklan Djarum “my great adventure” yang menampilkan adegan climbing di GunungKrakatau. Di iklan itu, kita bisa melihat dua orang petualang yang sedang melakukan aksi petualangnya mendaki gunung krakatau sampai kepada bibir kawahnya.

Malam ini bersama beberapa teman diving, kami berangkat dari checkpoint di RS Siloam di Kebon Jeruk. Tepat pukul 9 malam kami berangkat langsung menuju ke Carita lewat tol Merak. Dan tepat pukul 12 malam kami tiba di Hotel Sunset View , yang cukup bersih meskipun sederhana; tempat persinggahan sementara sebelum kami berangkat esok pagi ke Pulau gunungKrakatau.

Pagi ini pagi yang cerah dengan langit biru, tepat pukul 8 setelah sarapan kami langsung menuju ke dermaga kecil yang tepat ada diseberang hotel. Berdelapan kami naik boat diving yang sudah siap di dermaga. Cuaca cerah, langit biru, ombak tenang, wow it’s a beautiful morning….love it.

Setelah hampir satu jam perjalanan kami mulai melihat Gunung Anak Krakatau yang terkesan angkuh dan angker dari kejauhan. Gunung itu tidak menjulang tinggi sebetulnya, , namun menjadi terlihat megah karena gunung tersebut terletak dipulau sendiri yang dikelilingi oleh lautan.

Untuk singgahan pertama, kami akan diving di Cabe Lagoon, di lepas pantai sebuah pulau di dekat gugusan Pulau gunungKrakatau. Disana sudah terlihat boat kapal yang diisi beberapa orang bule yang sedang bersiap juga untuk diving dan snorkeling. Pulau tempat kami diving pun sebetulnya pulau tidak berpenghuni yang penuh dengan hutan lebat dan bakau, dan kami pun melihat beberapa biawak dari kejauhan sedang merendam diri di lautan yang cukup dingin.

Kali ini kami kurang beruntung di Cabe Lagoon karena visibilitinya yang middle mendekati poor. Disana kami bisa melihat beberapa terumbu karang yang kurang bervariatif, namun cukup untuk mengobati kerinduanku akan bertemu mereka. Untuk hewan laut kami bisa bertemu beberapa ikan nemo yang sedang berlindung dibalik tentakel soft coral yang melambai-lambai mengikuti irama arus laut. Kami cukup menyelam sampai dengan kurang lebih 20 meteran saja, didalam kami juga bisa melihat batuan-batuan vulkanik yang teronggok berwarna kehitaman, yang beberapa sudah tertutup dengan vegetasi terumbu karang, dan membentuk slope. Dibeberapa tempat kami juga melihat area luas pasir halus kehitaman, mungkin ini yang disebut pasir vulkanik.

Setelah sekitar 45 menit menyelam, kami kemudian melanjutkan perjalananan ke pulau tempat Gunung anak krakatau berdiam diri. Woww…exciting, kami akan melakukan pendakian sampai ke puncak kawah gunungKrakatau. Sebelumnya kami terlebih dahulu melewati Gunung Krakatau Tua, terasa sekali aroma angkernya, meskipun gunung tua tersebut telah ditutupi oleh lebatnya pepohonan besar, teringat bagaimana gunung ini sampai rela membelah dan menghancurkan diri sendiri untuk membunuh ribuan manusia, dan merubah iklim seluruh dunia untuk bertahun-tahun lamanya. Teringat pula bagaimana gunung ini bisa menjadi sebuah musibah terbesar selama dunia ini ada. Dengan jelas saya bisa melihat bagaimana bentuk gunung ini yang seperti kerucut terbelah. Setelah melewati Gunung Krakatau Tua, kami pun mulai mendekati Anak Krakatau, yang tidak kalah misterinya.  Saya makin merasakan aroma angker kawasan ini begitu melihat angkuhnya Gunung Anak Krakatau dari dekat. Setelah 15 menit perjalanan dari Cabe Lagoon, maka merapatlah kami di pulau ini. Saya menyebutnya pulau hitam, karena pulau ini semuanya serba hitam. Pasirnya hitam, daunnya hitam, batang-batang pohonnya hitam. Sangat menarik….

Sebelum kami mendaki, kami terlebih dahulu mengisi perut kami sebagai bahan bakar untuk tenaga kami. Lucunya, baru sebentar di pulau ini, baju kami pun sudah mulai berubah jadi hitam, tertutup abu tipis yang dikeluarkan dari kawah gunung. Namun tanpa disangka, baru sebentar kami menyelesaikan makan siang kami, terdengar suara gemuruh kecil dari arah kawah gunung. Sontak kemudian, kami langsung melihat ke arah atas; ke arah puncak gunung. Dari puncak gunung, kami bisa melihat kepulan asap tebal bergulung ke angkasa. Ya Tuhan….gunung ini sedang erupsi meletus. Antara takut dan takjub terpesona aku rasakan saat itu. Belum pernah saya sedekat ini dengan gunung meletus. Sesegera mungkin saya mengabadikan moment ini di kamera yang memang sudah stand-by ditangan saya dari awal perjalanan. Hujan pasir abu halus ringan berubah menjadi hujan lebat, namun bukan hujan air namun hujan abu lebat.

Tidak lama berselang, datang satu kapal patroli polisi yang berisikan polisi-polisi berbaju preman dan menenteng senjata laras panjang, untuk “mengusir” kami dan beberapa tamu lain untuk sesegera mungkin pergi dari pulau ini. Negoisasi pun kami lakukan, agar kami dapat tetap di pulau, untuk mengabadikan momen penting dan jarang ini. Namun negoisasi sepertinya tidak berhasil, dengan tegas mereka tetap mengusir kami dari pulau ini, dan dengan sangat berat hati kami akhirnya meninggalkan pulau ini dalam keadaan gunungnya yang sedang meletus.

Namun bukannya kami pergi jauh, kami justru menuju ke spot diving berikutnya di Batu Mandi, yang letaknya hanya berjarak 500 meter dari pulau. Spot ini ditandai oleh tumbukan batu-batu besar, mungkin bekas lutusan Gunung Krakatau 1 abad silam. Dengan latar belakang Anak Krakatau yang meletus, tumpukan batu ini menjadi obyek foto yang cantik sekali. Setelah siap semua, langsunglah kami melakukan penyelaman di sekeliling tumpukan batu ini. Ternyata tumpukan batu ini merupakan puncak dari tumpukan batu lainnya yang terlihat di dalam air dan membentuk sebuah kerucut rakasasa. Batu-batu ini pastilah merupakan saksi hidup dari letusan dashyat seabad lalu. Visibility di sini benar-benar poor, jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Tidak banyak yang bisa dilihat disini. Saya juga melihat beberapa bara api-bara api kecil di dalam laut, yang berasal dari letusan gunung yang masih berlangsung.

Setelah sekitar 45 menit melakukan penyelaman di kedalaman sekitar 25 meter, kami segera naik ke boat untuk menuju kembali ke Pulau Carita. Perlahan kami meninggalkanKrakatauyang sedang meletus, meninggalkan misteri, kenangan, dan harapan untuk kembali. I’ll be back for sure….

PASAR BARU

Kejayaan “Passer Baroe” sudah diketahui di masa Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dulu.
Daerah “Passer Baroe” dulu tidak hanya dikenal sebagai daerah elite karena berada tidak jauh dari kawasan Rijswijk (Jalan Veteran) yang dibangun pemerintah Kompeni Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia.

Daerah pertokoan ini sudah tumbuh dari sebelum tahun 1900an, dan mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa.

KNOW IT, LOVE IT, SAVE IT

 

Gedung Gereja ini dibangun pada tahun 1911-1916. Koinonia berarti “Persekutuan” (bahasa Ibrani). Kompleks gereja yang berada di ujung Jalan Matraman ini merupakan gereja pertama di Kawasan Timur Batavia, saat Meester Cornelis membuka kawasan ini (1881-1918). Arsitekturnya bergaya vernacular, penerapan gable Belanda dan penerapan salib Yunani pada pediment tympanium. Denah gereja dipengaruhi aturan geometrik. Bentuk segi empatnya dibagi tepat menjadi sembilan bagian, dimana empat sudut terluar berfungsi sebagai ruang tangga, sehingga bagian dalam gereja berbentuk salib simetri. Ruang-ruang tangga dari luar terlihat seperti menara.

( KNOW IT, LOVE IT and SAVE IT )