Archive for September, 2010


Tibalah waktunya untuk kita UMPTN (Ujian Masuk Penyelam Tanpa Nekat), setelah serangkaian pelatihan di Balai Tenaga Kerja. Selain dilatih selam, kami ternyata juga dilatih memasak, menjahit, dan mencuci, agar supaya kita siap juga menjadi TKI di negri seberang. (???)

Pagi itu, dipertengahan tahun 2010, peserta group UMPTN berkumpul di pelabuhan ikan Muara Karang. Mungkin satu-satunya pelabuhan yang memiliki air hitam dengan bau ikan amis menyengat. Wondering, ikan lele aja mungkin belum tentu mau beranak disini. Mantap!

But its ok, dan inilah trip diving legal pertama yang saya jalani. Dgn ojek kapal yg dimuati hampir ratusan orang, berangkatlah kita dgn tujuan pulau pramuka. Naik ojek kapal cuma ngeluarin uang 30 ribu, bener2 harga murah meriah lho, sama dengan naik taksi dari permata hijau ke mall ambasador deh. Buat temen2 yg belum pernah naik ojek kapal rakyat, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan,
1. Bawalah selalu lifejacket, karena kapal ini sangat kurang dalam menyediakannya.
2. Bilamana anda tidak membawanya, segeralah cari lifejacket yg sedikit tersedia di kapal.
3. Membawa teman yg cerewet, sangat direkomendasikan untuk mengusir kebosanan dan mengalahkan bunyi kapal yg kurang stereo.
4. Boleh juga membawa gadget2 lain, utk mengusir kebosanan.
5. Jangan pernah duduk di atas mesin kapal. Ini akan membuat suhu pantat anda meningkat drastis menjadi sekitar 43 derajat C.
5. Cobalah datang sepagi mungkin, agar mendapatkan best seat, karena posisi menentukan kenyamanan.
6. Jangan lupa selalu berdoa sesuai keyakinan dan keberanian masing-masing.

Badai hujan menemani kita dalam melakukan ujian selam. Meskipun para instruktur mencoba menenangkan dengan cara membohongi kita bahwa ini hal biasa, tetaplah kita lihat ada kekhawatiran juga dalam diri mereka. Tragedi newbie “nyasar” dalam badai di dalam kedalaman laut mewarnai intrik-intrik dalam ujian kali ini. Maka dari itulah, kami menamakan angkatan kita adalah angkatan topan badai group.

Thanks to our marinir instructor, dan alhamdullilah, ujian selam semua berjalan lancar. Tapi ternyata ada ujian lain yang lebih dashyat, yaitu ujian pulang ke jakarta naik kapal ojek dengan cuaca ekstrem badai hujan petir menggelegar. (dramaking.com).

Dalam 4 jam perjalanan pulang, perut kami dikocok oleh tingginya ombak, tubuh kami dibasahi oleh derasnya hujan, dan pikiran kami dipenuhi oleh mautnya kematian..hehhehe. Tapi itu semua, makin menyadari kita bahwa kita hanyalah katak dalam tempurung, gula dalam semut, jarum dalam jerami, kura-kura dalam perahu, dan itik buruk rupa. Bahwa kita hanyalah seorang manusia melawan ganasnya alam, tiada lain selain kita harus berdoa untuk keselamatan kita kepada Yang Maha Mengatur.

Selamat! Tepat jam 6 sore, bersandarlah kapal kita ke pelabuhan air hitam. Dan dengan semangat baru, marilah kita susun langkah baru. Let’s go diving !!!

Setelah menjalani DTS (Diving Tanpa Sertifikat), maka kami dengan beberapa kawan mencoba untuk “melegalkan” aksi-aksi diving kami, dengan mensertifikasi hobby baru ini, ternyata bukan hanya helm yang harus bersertifikasi yah…

Dan untuk mendapatkan sertifikat dan legal practice diving, tidaklah terlalu sulit dan mahal.
Cukup datang aja ke kolam senayan pada weekend pagi, disana akan banyak para penyelam senior yang bisa membantu para newbie. Cukup dengan 135 ribu, kalian bisa mencoba “pengenalan diving” 1 X nyemplung di kolam dengan kedalaman 3 meter. Atau bila ingin mendapatkan sertifikasi, maka cukup dengan minimal 2 juta dalam bentuk cicilan, kalian sudah akan dilatih beberapa kali dikolam, beberapa kali teori, dan ujian di pulau seribu. (Including beberapa kali doa)

Setelah menjalani beberapa pelatihan, barulah kami menyadari akan bahayanya menyelam tanpa pelatihan yang serius. Kepanikan, sepertinya menjadi hal utama yang mengakibatkan kecelakaan pada para penyelam tanpa sertifikat. Itulah yang membuat sepertinya justru kaum wanita yang sering menjadi korban kecelakaan. Wong… salah pake kostum aja bisa buat mereka panik toh…!

Banyak pula hal2 baru yg kita ketahui, mengenai volume organ tubuh kita yang ternyata bisa berubah2 sesuai dengan kedalaman air, yang diakibatkan oleh tekanan air. Jadi kayaknya mungkin teman-teman gak perlu repot-repot ke mak erot lagi nih…

Akhirnya, semua pelatihan sudah kita jalani dengan selamat, dan kita tinggal menunggu utk jadwal UMPTN (Ujian Masuk Penyelam Tanpa Nekat) di pulau seribu. Pulau Seribu!!!!! I’m coming….

Rekomendasi Sertifikasi Olahraga Diving

Achmad Priyanto        : 081318863767

Andrew Lioe               : 0818720196

Frans                          : 0818145135

Pertama coba olahraga diving, adalah di benoa-bali sekitar tahun 2008. Modalnya bukan modal duit, tapi modal penasaran dan nekat. Saya sendiri lupa, kenapa pada sore hari itu punya pikiran aneh, utk coba diving.

Saya mendaftar sebesar rp 300 ribu saja per trip/orang utk go diving! Am I sign for my own funeral….??

Untuk diketahui saja, bahwa saya adalah orang yg water-phobia dan tidak bisa berenang. Saya adalah tipe orang yang selalu berenang hanya di kolam renang dengan kedalaman max 1,5 meter, dimana kaki saya masih bisa menjejak, hehehe. Dan sekarang saya dihadapkan untuk terjun bebas ke samudra dengan kedalaman lebih dari 30 meter!! Nah lho…

Alhamdulilah, dengan kemampuan nol besar (atau minus 10), kita mampu menyelam sampai dengan 4 meter. Diving pertama kali ini, hanya membuat kita mengalami kepanikan, dan tanpa menyadari akan adanya keindahan dunia bawah laut. Yang semestinya kita menonton ikan-ikan berenang, tapi kali ini justru ikan-ikan yang menonton kita. “Ke darat aja deh lu….”, begitulah saya dengar bercandaan para ikan nemo dengan kudalaut.

Kemudian, pada tahun 2010, kita kembali mencoba diving. Tapi kali ini bukan lagi dengan modal nekat, tapi dengan modal berkat (alias doa), ditambah keberanian dan persiapan yang matang. Diving kali ini kita lakukan di pulau seribu, tepatnya di softcoral point. ( base di pulau pramuka ). Bersama dua orang diving master (DM) – Bang Bobby&Friend, dan seorang anakpulau (Oman), berangkatlah kami menuju sebuah pengalaman baru. Kami menyelam sampai dengan kedalaman 6-9 meter, dan kami menyelam tanpa memiliki sertifikat selam, dan dengan kemampuan berenang big big zero, yang sebetulnya dikategorikan sangat-sangat bahaya (extremely dangerous).

Thanks to our DM, kami bisa dengan sangat mudah mengatasi kepanikan, dan dapat segera menguasai teknik-teknik standar selam, yang membuat kami dapat SANGAT menikmati keindahan dunia bawah laut. Sekaranglah waktunya pembalasan, semua ikan-ikan dan mahluk laut, kami tonton habis-habisan, sampai mereka terlihat salting sendiri, dan bergerak kabur. 45 menit di dalam lautan, membuat saya makin sadar, ada keindahan lain yg luar biasa, yg Allah telah ciptakan untuk kita. Tidak hanya gunung, pantai, dan langit yg Allah ciptakan untuk rekreasi mata kita, namun juga masih ada keindahan lain; yaitu keindahan kehidupan bawah laut. Beribu2 jenis ikan dan beribu2 jenis terumbu siap menyambut kita, seakan ditugaskan Allah untuk selalu memberikan pertunjukan yang terbaik untuk umat manusia. Subhannallah; Allah Maha Besar. AWESOME Guys……

Rekomendasi :

Sewa Alat Selam/Snorkling di Pulau Pramuka : Bobby 087878294024

Urus Akomodasi di P.Pramuka : Oman : 085810190950

Nasib si Ujang

Nasib si Ujang …………….

 Derita seorang berpenghasilan menengah (nyaris miskin; penghasilan 2,5 jt) di jakarta

Sebut aja Ujang, pekerjaan OB di daerah tomang, alhamdulilah tinggal bersama istri dan 2 org anak di rumah warisan ortu 50m2 di daerah pulogadung.

Kalo dipikir2, golongan kaum Ujang mungkin paling banyak yang hidup di jakarta. Hidup dari kecil udah dijakarta, cuma punya ijazah sma. Pernah kerja jadi pak ogah, timer, sampe pernah jadi tukang parkir liar. Buat Ujang jadi OB, punya kebanggaan tersendiri. Semua itu hasil kerja kerasnya sendiri utk bisa merubah nasib di Jakarta. “Minimal jadi OB di kantor, ada jenjang karirnya lah..” pikirnya.

Setahun menjalani pekerjaan OB, barulah dia sadar, kalau kadang dipikir2 lebih baik jadi orang miskin, daripada jadi orang “nyaris miskin”, kalau di jakarta.

Punya gaji, tapi dirampas tukang pajak! Kalau dulu, mana ada orang nagih pajak ke dia..? Wong gak ada penghasilan tetap, yang ada cuma penghasilan jalanan.

Istri dan anak sakit, mau ke rsud, udah gak bisa pake surat miskin, jadi terpaksa harus keluar uang.

Mau minta keringanan biaya beli buku sekolah anak di sd negeri, udah gak bisa, karena sudah gak miskin.

Mau beli rusunami (supaya lebih dekat ke kantor), dp nya gak kuat bayar. Cuma dapet 35m2 pula! Padahal pedagang asongan tempat dia langganan beli koran,  gubugnya bisa 50m2, tanahnya nyerobot jalur ka di benhil (daerah elit kan?), udah 20 tahun dan gak pernah digusur pemda.

Ujang juga nyesal, gara-gara rumahnya di pasang keramik, dia batal menerima dana gratis BLT, padahal tetangganya yg jadi “pak ogah” di pengkolan, bisa dapat BLT. Padahal dipikir2 uang BLT, diambil juga dari gajinya.  ( Yg katanya utk pajak pemerintah )

Mau naik motor tapi gak kuat juga panas udara jakarta, apalagi kalau harus tiap hari dijalanin bolak balik tomang-pulo gadung, udah gitu diitung-itung, berat juga kredit nyetor ke banknya.

Alhamdulilah, ada busway. Lumayanlah-harga murah, dapet ac. Ternyata kegembiraannya tidak lama. Janjinya pemda, naik busway bisa cepat karena punya jalur khusus, ternyata jalurnya diserobot orang2 kaya bermobil. Bukan cepat yang didapat, tapi malah mandeg, gara-gara ada mobil mogok di jalur busway (nah lho, gak bisa keluar jalur tuh). Kalau udah gini, polisi yang tadinya mempersilahkan, akhirnya polisi harus pake jurus PTL (pura2 tidak lihat), atau polisinya emang PPP (pura-pura pintar; padahal bego! ).
Waduh…nasib-nasib..!!!
Mau ajak jalan2 keluarga malam2; cari makan, paling bisa jalan kaki di trotoar. Boro2 mau naik mobil, naik motor aja belum mampu kreditnya. Mau jalan 500 m aja, udah keserempet motor mulu, gara2 udah gak ada lagi fasilitas trotoar kaki lima yang aman dan nyaman buat orang se-level Ujang. Trotoar udah penuh dengan pedagang pecel lele, parkir mobil, parkir motor, walhasil deh, ujang dan sekeluarga mesti jalan di tempat yang mestinya buat kendaraan bermotor lewat. ALhasil, kesrempet mulu neh….

Jadi warga jakarta, paling enak emang jadi orang kaya sekalian, atau miskin sekalian.

Jadi orang kaya, emang enak. mampu beli mobil, boleh masuk jalur busway oleh para polisi. Bisa bayar rumah sakit, beli premium-juga bisa dapat subsidi. Jadi buat mereka, bayar pajak gak ada pengaruhnya.wong sudah kaya !

Jadi orang miskin, enak juga yah, gak pernah bayar pajak, tapi dapet banyak subsidi, boleh tinggal dimana aja, boleh jualan dimana aja.

Yang paling apes, emang kalau jadi orang “tanggung” atau “nyaris miskin”. Bayar pajak, harus tepat waktu, tapi gak bisa dapet subsidi dan fasilitas2 nyaman dan aman, buat hidup di belantara jakarta.

Ujang makin bingung, tapi hidup jalan terus selama nafas masih keluar dari hidungnya, dan perutnya masih nagih makanan.

Pergerakan Lempeng Gunung

Pergerakan Lempeng Gunung

Bahwa kulit bumi pada level lithosfer selalu mempunyai pergerakan horizontal. Tumbukan antar dua lempeng dapat menyebabkan/terciptanya sebuah gunung pada ujung2 lempeng tersebut.

Dengan tertumbuknya/tertahannya dua lempeng dan terciptanya sebuah gunung, maka lempeng2 tersebut akan memiliki perlambatan pergerakan horizontal.

Sehingga dengan terbentuknya gunung, maka menjadikan bahwa fungsi gunung adalah menahan laju pergerakan horizontal pada kerak bumi, yang pada akhirnya meminimalkan terjadinya gempa bumi.

Pada saat dua lempeng tertumbuk, salah satu bagian lempeng akan melengkung dibawah lempeng lainnya, terus melengkung menuju ke pusat inti bumi, sehingga lempeng tersebut berfungsi juga sebagai “kaki bawah tanah” dari gunung tersebut. Hal inilah yang membuat gunung dan lempeng disekitarnya lebih stabil, meskipun masih terus dalam proses pergerakan.

Adapun ilustrasi bisa dilihat di …..

http://www.youtube.com/watch?v=xL6sKtG2UVs

Jadi bisa dibayangkan bagaimana parahnya gempa bumi, bila tidak ada gunung yang berfungsi sebagai “pengereman dari pergerakan”. Bilamana tidak adanya sistematika tersebut, maka gempa yang akan diakibatkan akan jauh lebih parah.

Teori ini ditemukan pada pertengahan abad 20 bersamaan dengan teori tektonik plate.

Sedangkan Al Quran dalam 2 ayatnya telah menjelaskan posisi penting gunung sebagai peredam getaran/gempa beberapa abad sebelumnya.

“ Bukankah Kami telah menjadikan bumi terbentang, dan gunung-gunung itu sebagai pasak(nya)”

(QS 78:6-7)

“Dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya tidak goncang bersama kamu…”

(QS 16:15)

Marilah kita memikirkannya….

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran (bagi) orang-orang yang mempunyai pikiran.”

(QS. 38: 29)