Archive for Oktober, 2010


1. Menambah Jalur Busway Transjakarta ke segala arah di ibukota

Konsep Transjakarta adalah konsep tranportasi murah yang cukup cocok untuk diterapkan di Jakarta. Pembuatan jalur-jalur busway dan halte-haltenya tidaklah terlalu sulit dibangun, dibandingkan dengan pembangunan MRT/Monorel.

Dengan kemudahan pembangunannya, maka jalur busway bisa mencapai hampir ke seluruh jalan-jalan besar di ibukota Jakarta.

 

2. Menambah secara maksimal jumlah armada transjakarta

Dengan kapasitas penumpang dalam bis yang kurang banyak/terbatas, maka jumlah armada bis harus dimaksimalkan. Keterbatasan isi penumpang bis harus bisa diimbangi dengan kuantitas bis transjakarta, agar bisa mengimbangi pula banyaknya mobilitas penduduk Jakarta.

3. Membuat kantong parkir utama di ujung jalur busway, dan kantong parkir skunder di dekat halte busway

Perlunya membuat sarana kantong parkir utama (park and ride)  yang cukup besar pada ujung-ujung jalur busway. Karena ujung-ujung jalur busway, biasanya terletak di pinggiran ibukota, dimana banyak kaum urban/pinggiran melakukan aktifitasnya di dalam pusat kota. Sehingga diharapkan mereka tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi kedalam kota, melainkan cukup dengan memarkir mobil di kantong parkir dan melanjutkan perjalanan dengan busway ke pusat kota

Selain itu juga perlu dibuatkan kantong parkir skunder di setiap tempat dekat halte-halte busway, yang tidak perlu sebesar kantong parkir utama. Dapat juga memanfaatkan parkir-parkir gedung perkantoran. Dan bila tidak ada parkir perkantoran di dekat halte-halte tsb, maka sangat perlu dibuatkan kantor parkir tambahan. Hal ini diperlukan untuk kontinuitas pergerakan warga Jakarta dari satu tempat ke tempat yang lain, dan memberikan banyak alternatif kepada warga Jakarta dalam berpergian.

4. Menambah/Menertibkan/Me-refungsikan Jalur Pedestrian

Jalur pedestrian adalah termasuk sarana penting dalam system tranportasi di Ibukota. Dengan pedestrian nyaman, maka dipastikan banyak orang akan memilih cukup berjalan kaki untuk jarak menengah, dibandingkan dengan naik kendaraan pribadi atau naik kendaraan umum. Banyak orang masih enggan naik busway dikarenakan halte busway tidak tepat berada didekat  tempat yang dituju, sehingga dengan adanya pedestrian yang nyaman, membuat orang tidak enggan lagi berjalan kaki, meskipun harus menempuh jarak yang cukup jauh

Sehingga sangat perlu sekali, pedestrian-pedestrian di ibukota dikembalikan lagi kepada fungsi sebenarnya. Perlu dilakukan penertiban secara tegas untuk para pedagang kaki lima yang kerap berdagang di pedestrian, ataupun mobil-mobil yang sering parkir menutupi jalur pedestrian.

5. Menertibkan Transportasi Umum Non-Transjakarta

Dengan banyaknya koridor busway ke segala arah, dan jumlah kuantitasnya yang banyak, maka sebetulnya tidak lagi diperlukan bis umum berukuran besar. Sedangkan untuk masuk ke jalan-jalan sekunder, tetap diperlukan bis-bis ukuran mini untuk tetap dapat melayani para warga ke tempat-tempat yang belum bisa diakses oleh bis transjakarta. Kendaraan umum seukuran mikrolet tetap diperlukan dengan trayek yang sangat terbatas, untuk dapat jalan-jalan lingkungan yang sangat kecil, yang tidak efisien untuk dapat dilewati oleh bis-bis ukuran mini.

Sarana untuk transportasi non-transjakarta juga perlu ditingkatkan. Perlunya dibuat halte-halte yang cukup memadai dan nyaman, agar orang tidak enggan untuk naik kendaraan umum ini, dan tidak lupa juga untuk memperbaiki kualitas dari bis-bis tersebut.

 

6. Tindakan Tegas Polisi untuk Para Pelanggar Lalu Lintas

Selama ini, kita masih banyak melihat peran Polantas yang masih memble dalam menindak para pelanggar. Entah karena polisi malas, polisi disuap atau karena kekurangan jumlah personil. Tindakan tegas para polisi diperlukan untuk memberikan efek jera bagi para pengemudi yang suka melanggar peraturan, terutama para supir bis kendaraan umum.

7. Pembatasan Penggunaan Kendaraan Pribadi

Bilamana 6 jurus diatas dapat dilaksanakan, niscaya warga Jakarta akan berbondong-bondong meninggalkan mobilnya digarasi untuk kemudian beralih ke sarana transportasi publik. Namun demikian, Pemda DKI tetap perlu memberikan peraturan tentang pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan cara menaikkan pajak kendaraan, system ERP, ataupun menaikkan harga tiket parkir (diluar parkir di kantong parkir)

8. Meng-Efektif-kan Jalur KRL Jabotabek

Megefektifkan kembali Jalur KRL Jabotabek sebagai sarana transportasi publik yang nyaman bagi warga, dengan cara :

a. Menjadikan Jalur KRL Jabotabek, menjadi jalur intermoda HANYA di lingkungan Jabotabek. Sehingga Jalur KRL Jabotabek tidak lagi dipakai sebagai jalur kereta untuk keluar areal Jabotabek, seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kereta untuk ke daerah di luar Jabotabek, hanya bisa sampai di stasiun-stasiun kereta pinggiran Jabotabek. Dengan penggunaan jalur hanya untuk KRL Jabotabek, maka dipastikan jadwal kereta tidak akan lagi terganggu atau berbentrokan dengan jadwal kereta Luar Jabotabek.Dengan begitu, akan dapat tercipta system perkerta-apian mirip dengan system kereta MRT, dan system tiket busway yang hanya mengenal system 1 tarif flat.

b. Merenovasi stasiun-stasiun di sepanjang Jalur KRL Jabotabek, dan merenovasi gerbong-gerbong kereta KRL, sehingga masyarakat tidak enggan untuk menggunakan sarana tranportasi publik ini.

9. Menciptakan system One Ticket Elektronic dan Stasiun Perpindahan Antar Moda

Perlunya dibuat system One Ticket Electronic, yaitu system satu tiket card, yang bisa dipakai untuk menggunakan semua moda transportasi di ibukota. Hal ini diperlukan untuk memudahkan para warga Jakarta dalam menggunakan sarana tranportasi publik di kotanya.

Perlu juga dibuat stasiun perpindahan antar moda, bagi moda-moda yang bersinggungan jalur, sehingga memudahkan masyarakat Jakarta dalam melakukan kontinuitas pergerkan mobilitasnya.

Dengan dilakukannya 9 Jurus Mudah-Murah ini ( TANPA MRT SUBWAY ),  maka dipastikan kemcaetan Jakarta akan berkurang sebanyak 50%!!! Yakin !!!

Saya hanyalah arsitek urban, bukan pakar tranportasi. Namun entah mengapa solusi sederhana ini tidak pernah menjadi wacana, apalagi dilaksanakan. Diperlukan dekrit dan tindakan konkret tanpa campur tangan politik untuk dapat memecahkan problem kemacetan di ibukota tercinta.

 Kaum musyrikin sering menantang Rasullah saw untuk membuktikan bahwasannya AlQuran adalah kitab dari Allah, mereka sering menanyakan mengenai ramalan-ramalan yang terjadi di masa datang, kalau memang Al Quran benar datang dari sisi Allah.

 Allah berfirman “…telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terendah dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia.

(Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

http://en.wikipedia.org/wiki/Roman%E2%80%93Persian_Wars

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur’an takkan pernah menjadi kenyataan.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium.

(Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Akhirnya, “kemenangan bangsa Romawi” yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur’an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan “Adnal Ardli” dalam bahasa Arab, diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani”, yang berarti “rendah” dan “Ardl” yang berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardli” berarti “tempat paling rendah di bumi”.

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. “Laut Mati”, terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta_geografi_dunia

Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur’an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur’an adalah wahyu Ilahi.

Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur’an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu. Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, yang akan diulas lebih dalam dalam halaman-halaman berikutnya, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab “titik terendah” disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

Inilah bukti bahwa AlQuran adalah kalimatNya
maha suci Allah lagi maha mengetahui atas segala sesuatu …

Hari berikutnya, setelah sarapan kami bersiap untuk melakukan trip berikutnya, diving di area Nusa Penida. Sering banget denger mengenai pulau ini, tapi sekalipun saya belum pernah mengunjunginya. Perjalanan ke Pelabuhan Kapal di Sanur hanya memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Rombongan dibagi dalam 3 kapal, dengan masing-masing kapal bisa dimuati sampai dengan 7 orang

Hari ini kita akan langung ke 3 spot sekaligus yaitu Crystal Bay, SD Point, dan Manta Point. Ketiga nya memiliki karakteristik yang hampir sama. Memiliki arus kencang, arus dingin, dengan visibility yang cukup bagus, bisa mencapai 50 meter.

Crystal Bay terletak di dekat pantai pasir putih di sebuah lagoon pulau. Pantainya sangat putih dan bersih. Kapal kita berhenti dengan jarak kurang lebih 50 meter dari bibir pantai. Tepat di bawah kapal, di bawah laut kita bisa melihat hamparan pasir halus dengan ditumbuhi beberapa tanaman cacing-cacing pasir yang melambai-lambai mengikuti arus ombak. Kami juga menemukan beberapa kuda laut mungil yang sangat lucu dan berjalan seperti layaknya orang breakdance. Kita bergerak memutar meleati beberapa coral-coral indah, untuk kemudian kembali di titik sama tempat kapal kita bersandar.

Setelah diving, its coca cola time…..

Manta Point, sesuai namanya, saya sudah berharap akan melihat banyak manta. Namun saya hanya menemukan 1 manta di kejauhan. Dia berenang dengan indahnya. Kok…binatang bagus gitu, dimakan ya..?  Profil area ini adalah memiliki wall yang cukup dalam, yang bisa mencapai sekitar 50 meter. Terumbu karang kurang  bervariasi, namun memiliki variasi ikan yang cukup banyak. Beberapa kali kami juga mempergoki gurita kecil dan ular laut sedang bersenang-senang. Arus di daerah ini sangat kencang. Tanpa usaha pun, kami sudah terus mengikuti arus. Jadi bisa hemat nitrox nih. Namun pada site ini, arusnya sangat-sangat dingin.

Setelah diving, its coca cola time…..

SD Point, terletak sisi utara Pantai Nusa Penida. Lokasinya nya tidak jauh dari bibir pantai. Namun tetap memiliki arus yang cukup kuat. Kami dijanjikan bisa menemukan ikan aneh; ikan mola-mola. Ikan besar berbentuk aneh, namun sayang, sepertinya ikan ini sedang tidak ingin menampakan dirinya. Tak apalah, kami masih disuguhi beberapa pemandangan alam bawah laut yang tidak kalah indah. Tidak lupa juga kami melakukan beberapa photo session untuk keperluan narsisme kami.

Setelah diving, its coca cola time…..

Bangun pagi keesokan harinya, setelah malam sebelumnya kami melakukan pesta diver, kami bersiap melakukan wisata air lainnya, ke Pulau Nusa Lembongan ! Kali ini kami berlayar dengan kapal super mewah Bali Hai. Sekali-kali merasakan enaknya jadi orang jetset. Kapal ini memang kapal besar dan banyak turis asing mengikuti pelayaran ini. Pulau Nusa Lembongan berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Pelabuhan Benoa. Pulau ini banyak memiliki hotel, dari kelas melati sampai dengan kelas berbintang. Pulau ini sangat cocok buat para wisatawan yang sekedar ingin menikmati ketenangan di pinggir pantai yang bersih dan dibawah rindangnya pohon-pohon. Ngliyep-ngeliyep….zzzzz….zzzzzz.

All photo by : Andrew Lioe dan Teguh Aryanto

Rekomendasi :

Sewa Alat diving : Onblue : http://www.truedivebali.com/1/pages/dive-site/tulamben.php

Malam ini, di pertengahan bulan Agustus 2010 tibalah kami di pulau yang kami namakan sebagai “Pulau Yang Tidak Pernah Membosankan”, BALI !!! Bersama kawan-kawan kami dari klub diving di Jakarta, kami berencana untuk melakukan diving trip di sekitar Nusa Penida dan Tulamben. Thanks God I can dive now, For me…Now Bali is more than Kuta and Ubud. Ternyata Bali tidak hanya sekedar terkenal dengan pantai Kuta-nya dan hamparan sawah-nya Ubud saja, namun Bali juga menawarkan banyak sekali spot-spot Diving terkenal.

Selepas mengurus semua bagasi kami di bandara, kami langsung menuju ke Hotel Puri Shindu di kawasan Sanur. Kalau bukan karena diving, mungkin untuk selamanya saya tidak akan pernah menginap di kawasan Sanur., hehehe. Hotel Puri Shindu tidak terletak di pinggir pantai Kuta, namun terletak di daerah yang cukup tertata dan apik, seperti hal-nya daerah wisata lain di Bali. Hotel ini bukan hotel besar, melainkan hotel kecil yang hanya memiliki sekitar 15 kamar, namun memiliki kecantikan dan kebersihan tingkat tinggi. Dengan adanya kolam biru kecilnya di tengah hotel, menambah cantik penataan landscape dari hotel mungil ini. Tonight, we going to have totally rest, cause tomorrow we’re going to start dive under the water…..

Morning !!! Setelah breakfast indomie rasa ngantuk, kami langsung bergegas bersiap menuju bis mini yang akan membawa kita menuju ke Tulamben di daerah Bali Timur. Perjalanan menuju Tulamben memakan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan ini di iringi oleh berbagai aneka pemandangan. Dari pemandangan pekerjaan konstruksi perbaikan dan pelebaran jalan sampai dengan keindahan alam Bali yang mempesona.

Akhirnya, tibalah kami di kawasan Tulamben yang cukup rimbun. Pantai Tulamben sendiri memiliki karakteristik pasir hitam. Kita akan melakukan dive pertama di spot CORAL GARDEN dengan water entry langsung dari pantai yang berbatu dan sedikit berkarang. Dive..dive…dive…Di spot ini kita disuguhi banyak ikan rainbowfish yang beraneka ragam, dan ikan kuwe warna gelap abu, dengan terumbunya yang cukup bervariatif. Namun sayang, kami banyak melihat tumbuhan laut yang sudah mati cukup mendominasi area ini. “Wall” dengan ukuran small juga cukup banyak diarea ini, dengan dominasi warna terumbu karang adalah warna merah. Visibility tidak terlalu jernih, meskipun juga tidak terlalu kotor, yaitu sekitar 15 meter jarak pandang, dengan rata-rata dalamnya laut sekitar 18-25 meter.

30 menit kemudian, saya sudah muncul ke permukaan , dikarenakan dive gear saya yang entah mengapa tidak terlalu nyaman untuk dipakai. Kemudian dive berikutnya akan kami lakukan di spot yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi diving kami pertama kali, yaitu di Spot Tulamben-Wreck USS Liberty. Disini terdapat rongsokan kapal perang US yang tenggelam pada Perang Dunia II. Spot ini memiliki water entry yang sama dengan sebelumnya. Setelah siap dengan semua dive-gear kami, langsunglah kami melakukan penyelaman mengikuti dive-guide dari diver lokal.  Alhamdulilah, visibility di spot ini jauh lebih bagus, sekitar 25 meter, dengan kedalaman penyelaman sekitar 18-25 meter. Tidak lama setelah menyelam, kami langsung menemukan bagian rongsokan kapal perang hanya pada kedalaman 5 meter! Inilah mengapa, banyak orang cukup melakukan snorkeling di spot ini untuk dapat bisa ikut menikmati keindahan wreck kapal dengan terumbu karangnya ini. Dan kapal ini ternyata lebih besar dari yang sebelumnya saya bayangkan. Panjang kapal ini bisa mencapai sekitar 100 meter, dengan posisi kapal miring. Its quite incrideble, beberapa bagian kapal masih terlihat jelas, seperti buritan, dek kapal, ruang kabin nakhoda, dan tiang-tiang tinggi. Dikarenakan kapal ini sudah tenggelam lebih dari 6 dekade, maka sudah cukup kapal ini dijadikan landasan buat rombongan terumbu karang, dan kloter-kloter ikan.  Suhu air cukup hangat-hangat mengundang, menambah penyelaman ini menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Pada awalnya, saya sudah diceritakan bahwa diving di Tulamben, seperti diving di tengah pasar bawah laut. Kok bisa gitu ya…? Ternyata benar! Di area spot kali ini, para diver begitu ramainya mengitari wreck ini. Sampai-sampai kita harus mewaspadai kita akan terpisah dari rombongan kita, dan justru malah mengikuti rombongan diver lain. Schooling jack fish juga banyak terdapat di area ini. Really cool…

Keindahan area Tulamben tidak cukup hanya disinggahi sekali saja, maka setelah makan siang ala bule (sandwich) yang tidak enak, kami melakukan dive kedua meng-explore kapal rongsok sampai kedalam-dalamnya…!!

Photo by : Andrew Lioe dan Teguh Aryanto

Rekomendasi :

– Hotel Puri Shindu 0361286736

Tepat pada pukul 6 pagi, sampailah kita di Kota Bajawa, setelah sebelumnya kita bermalam di tengah hutan dikarenakan supir yang mengantuk. Jalanan di Flores pada malam hari memang benar-benar sepi BLAS ! Dalam istirahat kita di tengah hutan sekitar 2 jam, tak satupun mobil melintas. Sehingga kita-pun merasa aman untuk tidur di tengah jalan, sekedar meluruskan kaki. Tapi sempat juga terdengar desis ular beberapa kali.

Setelah sampai di Bajawa, kita langsung menuju ke tempat pemandian air hangat Mengeruda-Soa. Pas banget, apalagi badan udah mulai lengket-lengket. Air-nya memang benar-benar hangat dan jernih, namun sangat disayangkan, tempat wisata ini masih memiliki sedikit fasilitas yang memadai. Tapi tak apalah-sudah cukup untuk membersihkan badan kita yang sudah bau.

Setelah puas bermandi ria, kita langsung melanjutkan perjalanan ke perkampungan adat Bena. Kita tiba tengah hari di perkampungan adat Bena, dengan disambut oleh para warga Bena dengan sangat ramah. Perkampungan adat ini sangat unik dan tertata rapi, mengingatkan saya akan model perkampungan adat di Bali. Dengan rumah-rumah adat di sisi kiri dan kanan, dan meletakkan plaza terbuka di area tengah. Karakteristik ini membuat semua rumah mendapatkan hawa dan cahaya yang cukup. Plaza terbuka ditengah dipakai mereka untuk berkumpul atau untuk sekedar bermain bersama untuk para warga, membuat perkampungan ini selalu terlihat akrab. Inilah Cluster BENA, tidak ketinggalan dengan cluster-cluster di Jakarta, yang justru bukannya kelihatan “akrab”, melainkan malah terlihat “angkuh”. Pada ujung cluster Bena, yang memiliki level paling tinggi, kita akan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan dari sisi lain perkampungan ini. Kita akan menyaksikan lembah, pegunungan dan hutan dari atas ketinggian. Bahkan Bena telah menyediakan gazebo yang nyaman bagi para turis untuk bisa menikmati pemandangan spektakuler ini. Dan ketika kita mengisi buku tamu, lagi-lagi kita melihat lebih banyaknya turis asing yang mengunjungi tempat ini dibandingkan dengan turis lokal.

Setelah mengunjungi cluster cantik Bena, kita langsung menuju ke kota Moni. Dalam perjalanan menuju Moni, kita singgah sebentar dan beristirahat di  Blue Stone Beach. Pantai ini terletak di dekat kota Ende. Pantai ini memang benar-benar berwarna biru. Really unique and beautiful. Mengapa bisa berwarna biru…? Dikarenakan pantai ini dipenuhi oleh batu-batu koral cantik berwarna biru. Kami juga melihat beberapa warga pengumpul batu yang mengumpulkan batu-batu ini untuk dijual dan dijadikan sebagai penghias taman. Flores memang unik dan cantik!

Tepat pukul 7 malam, sampailah kita di sebuah hotel melati kecil di Moni untuk bermalam. Kota Moni cukup ramai oleh hotel-hotel melati kecil tempat para turis menginap. Kota Moni dijadikan tempat menginap sebelum para turis berangkat ke Danau Kelimutu pada dini hari. Moni adalah kota paling dekat untuk menuju ke kawasan Danau Tiga Warna Kelimutu. Hawa sangat dingin menyergap tubuh-tubuh kurus kami, membuat tubuh kami semakin kedinginan. Zzzz…zzzz.z.zzz…zzzz

Pukul 3.30 dinihari, kami dibangunkan dari tidur ayam kami oleh petugas hotel. Dinginnya bukan kepalang…!!! Untuk mengejar sunrise di Danau Kawah Kelimutu, kita memang harus siap bangun pagi. Perjalanan kami menuju ke Danau Kelimutu melewati bukit-bukit terjal dengan jalan yang sempit, tapi diselingi pemandangan yang menakjubkan. Setelah sekitar 40 menit berkendara, sampailah kita pada tempat parkir mobil kawasan wisata. Hari masih gelap gulita dan hanya ada 1 mobil lain parkir membawa beberapa turis asing. Kemudian langsunglah kita melakukan tracking bersama ke puncak gunung, untuk melihat keajaiban Danau Tiga Warna.

Selama tracking ke-atas, kita dipandu oleh seorang penjual kopi yang berharap rombongan kita akan membeli minuman dari-nya sesampainya kita diatas. Dalam perjalanan tracking kita melewati hutan-hutan semak dengan pedestrian krikil yang cukup besar. Udara begitu dingin dan segarnya, pasti saya yakin tidak ada satu molekulpun yang berjenis CO2. Asap mengepul dari mulut dan hidung kami. Setelah 15 menit berjalan, sampailah kita pada sebuah padang kapur batu cadas, yang menandakan kita sudah sampai pada area kawah. Sedikit demi sedikit cahaya pagi sudah mulai muncul membantu dan menuntun arah jalan kita. Kemudian saya melihat 2 buah kawah sekaligus dengan 2 warna yang berbeda, pada sisi kanan jalan setapak kita. WOOOOWWWWW,  it so exotic….! Ya Tuhan…Menakjubkan sekaligus Menakutkan. Saya yakin setiap pengunjung yang pernah mengunjungi danau kawah ini pasti akan merasakan aura mistis yang jelas dan sangat terasa. Setelah itu kita dihadapkan pada ratusan anak tangga yang harus kita tempuh untuk sampai kepada puncaknya. Ternyata berbekal semangat 45 ditambah 66 ditambah 98, belum cukup bagi saya untuk bisa berlari menaiki anak tangga. Sungguh melelahkan dan membuat nafas saya tersengal-sengal.

Namun semua kelelahan tersebut, sangat terbayar ketika kita sudah mencapai puncak paling atas dari gunung ini. 3 Danau sekaligus dengan 3 warna yang berbeda ada dihadapan kami. Kombinasi pemandangan pun dipercantik dengan taburan bintang dan bulan sabit yang masih nampak, menunggu matahari terbit di ufuk. Rona sinar surya pun mulai muncul dan mem-biru-i langit menggantikan gelapnya malam, menciptakan sebuah warna yang bahkan manusia-pun tidak mampu untuk menciptakannya. Sulit untuk mendeskripsikan apa yang mata kami saksikan. Takjub dan Merinding…!!! Hanya ada satu rangkaian kalimat yang mungkin bisa mendeskripsikannya…

…Demi matahari dan cahayanya, dan bulan apabila mengiringinya,

dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya.

Dan langit serta yang membangunnya.

Dan bumi serta yang membentangkannya.

Dan diri serta yang menyempurnakannya.

Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatannya dan ketaqwaannya.

Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya.

Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya…

Hari ini, kami merasa bahwa manusia hanyalah seperti debu di padang pasir, bahwa tidak patutlah manusia berlaku sombong dan congkak dengan segala hal ke-duniawi-an. Dari laut, pantai, danau, dan gunung yang kami kunjungi seminggu ini, semestinya menambah kepercayaan kita akan keagungan citra penciptaan Yang Maha Kuasa, dan menambahkan cinta kita kepada diriNya. Keindahan penciptaan Allah dapat berbentuk seperti unik-nya seekor binatang purba, biru-nya laut, halusnya pasir pantai, beragam-nya warna terumbu karang, beraneka-ragam-nya ikan di laut, sejuk-nya udara yang kita hirup, rindang-nya pepohonan di hutan, ramah-nya para saudara-saudara kita, ataupun mistisnya sebuah kawah gunung. Semua keindahan dari berbagai bentuk tersebut hanya Allah ciptakan tidak lain untuk memanjakan umatnya di bumi.

Lalu…masihkah kita mengingkarinya…?

Kunjungan kami ke Danau Kawah Kelimutu merupakan klimaks dari sebuah perjalanan anak Indonesia dalam mencoba untuk menjelajah sebagian kecil dari keindahan alam yang Indonesia miliki. Indonesia tidak hanya Jakarta, Indonesia tidak hanya Bali. Flores adalah sebuah daerah di timur Indonesia yang memiliki beragam keajaiban alam yang eksotis sekaligus mistis dan menakjubkan. Lusa kami akan kembali ke Jakarta dari Maumere dengan membawa kenagan indah, dengan hati yang tertinggal. Tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menjelajah keindahan alam INDONESIA bersama orang yang kamu cintai disertai sahabat-sahabat yang selalu menghibur….

TIM AYAKAN GAJAH