( HARI 1 ) D-Day is come. Dengan semangat ’98, saya bersiap2 pagi dini hari itu untuk menuju ke Bandara Soetta. Dengan semangat dan sok budget traveler juga, saya memilih naik Bis Damri yang cuma bayar 20 ribu dari Rawamangun. Insiden Damri mogok mewarnai langkah awal perjalanan saya kali ini. Bis kami mogok di tengah jalan layang tol di pagi buta, membuat hati saya ketar-ketir akan ketinggalan pesawat. Damn…! Setelah mendapatkan bus pengganti, bergegaslah kami menuju counter check-in dengan waktu yang mepet. Fiuhhh……., tapi akhirnya semua beres juga, dan santailah saya di boarding room menunggu pesawatku yang belum tiba. Tujuan saya pertama adalah menuju ke Pulau Dewata untuk menginap semalam, sebelum keesokan hari, memakai pesawat paling pagi untuk menuju ke Labuan Bajo, Flores.

Setelah perjalanan 1,5 jam yang melelahkan, maka tibalah kami di Pulau Bali, dan kami langsung menuju ke penginapan 100 ribu di daerah Seminyak. Belum pernah saya menginap di Bali dengan penginapan berharga 100 ribu!!! Lebih mirip kos2an pegawai/buruh, dengan fasilitas minim dan “wc antic” dengan kondisi tidak begitu bersih namun tidak begitu kotor juga. Tetapi ternyata banyak juga bule2 yang menjadi tetangga kami di “kos-kos-an”ini. Bule emang TOP Deh !!, Dan menurut petugas hotel, mereka sudah berhari2 menginap di sini. Saya saja belum tentu betah bila disuruh nginep di sini lebih dari semalam. Dan tanpa pikir panjang, segeralah kami menyewa motor matic dengan 25 ribu/hari untuk keliling-keliling sampai ke ubud, untuk mengunjungi kawan lama kami yang tinggal di Ubud. Bali selalu menjadi salah satu daerah yang menarik hati dan jiwa kami.

( HARI 2 ) Pagi hari, kami segera bergegas ke bandara Ngurah Rai, Pesawat kami akan tinggal landas sekitar jam 9. Sesegera setelah kami tiba di bandara, kami langsung mengurus semua big-bag kami yang masing2 bisa mempunyai berat 12 kg! Hari ini cerah, langit biru tanpa awan, What a beautiful Morning to start our trip..! Kami memakai pesawat jenis Foker50 yang bermesin baling-baling, dengan kapasitas sekitar 80 orang.  Meskipun kami memakai Transnusa, namun pesawat yang dipakai bertuliskan RiauAir. Aneh??? Tapi gak masalah lah! Gleg!!!! Ada satu hal yang membuat kami kaget seperempat mati, ternyata isi pesawat SEMUA-MUA-NYA  BULE!!! Cuma rombongan kami yang berkulit sawo matang, dan berambuat hitam. Bener2 aneh. Seperti rasanya kita yang berlibur di negri mereka.

Satu jam perjalanan menuju Labuan Bajo, kami disuguhkan oleh pemandangan yang benar-benar-benar indah. STUNNING!!! Dikarenakan kami memakai pesawat berbaling-baling, maka kami tidak terbang tinggi, sehingga kami bisa melihat Pulau Lombok dengan daratan hijau dan keindahan Gunung Rinjani di kejauhan. (next trip will going to Rinjani). Setelah Pulau Lombok dan Sumba terlewati kami disuguhi oleh gugusan Kepulaun Komodo yang sangat indah. Pulau-pulau tersebut memiliki kontur berbukit-bukit dengan ketinggian yang berbeda-beda membentuk harmonisasi bentuk yang menakjubkan. Pasir putih –tih pun mengelilingi pulau-pulau tersebut, seakan mencoba untuk membingkai keindahan yang diciptakan Sang Maha Pencipta. Dominasi dari warna coklat dari ilalang yang meranggas dan laut biru-bening menambah lagi ketakjuban saya akan keindahan Sang Maha Pencipta. “GOD is Great!! GOD is Great !!” Hatiku berteriak-teriak dalam lubuk. Pada saat ini, aku bertanya, “Apakah Tuhan tidak sengaja dalam menciptakan harmonisasi ini, atau Tuhan memang memikirkan detil by detil !!” Pasti kita semua bisa menjawabnya. Decak kagum pun, saya dengar dari kawan-kawan BULE disekitar saya, “It’s so AMAZING” they said. Dan rasanya baru kali ini ternyata memandangi luar jendela jauh lebih indah dibandingkan memandangi pramugari-pramugari bertubuh langsing, hehehhehe……

So..buat teman2 yang mau traveling ke daerah sini, pastikan U GET THE WINDOW SEAT on the plane !!! Dan kalau saya jadi pengusaha dan pemilik pesawat, pasti saya akan mengenakan tarif ganda untuk window seat…..( untungnya saya tidak jadi pengusaha pesawat )

Dalam perjalanan dipesawat, rombongan kami berkenalan dengan single woman traveler dari Swiss, Valerie, yang sudah berada di Indonesia lebih dari 2 minggu. Dia banyak bercerita bagaimana ia sudah malang melintang ke berbagai daerah di Indonesia, dan bagaimana dia selalu rindu untuk kembali ke Indonesia pada setiap musim liburan. Dari Sumatra, Sulawesi sudah pernah ia kunjungi. Apalagi Bali dan Lombok. Flores pun dia sudah kunjungi beberapa kali. Kemudian tersimpul rasa bangga bercampur rasa malu dari diri saya mendengar cerita itu, bagaimana saya sebagai orang Indonesia Asli sekalipun baru menginjakan tanah Flores kali ini, dan belum pernah menginjakan kakiku di tanah Sulawesi. Kemudian, kami-pun mengajak dia untuk ikut berwisata bersama kami ke Pulau Komodo.  Lucu juga ketika kami menyadari bahwa dia tidak membawa tas punggung sebesar tas punggung yang kita bawa., padahal kami hanya berencana melakukan sekitar 6 hari trip. Maklumlah…anak kota mau jadi anak desa…?!

 Bandara Komodo di Labuan Bajo, adalah bandara yang sangat kecil. Bangunannya pun tidak bertingkat dengan luas bangunan yang tidak lebih dari 2000 meter2. Setelah mendarat di tanah Flores, tidak lupa kami mengabadikan banyak foto di depan pesawat dengan latar belakang ilalang. Kami seperti monyet-monyet, yang berkeliaran ke berbagai sudut landasan untuk mencari sudut yang baik. Its a picture perfect!

Setelah dijemput, kami langsung menuju ke pelabuhan Labuan Bajo. Dalam perjalanan kami menikmati pemandangan alam yang bagus dengan penduduk asli Flores yang sedang menjalankan kehidupan sehari-hari. Benar-benar sebuat “potret kehidupan” dan “lukisan pagi” yang menawan. Kami juga bisa melihat pelabuhan dari bukit yang tinggi. Tidak hanya kapal-kapal rakyat dan kargo, namun terlihat juga banyak kapal-kapal layar/yatch yang cukup mewah bersandar di pelabuhan tsb.

Pelabuhan ini, memiliki kebersihan dengan tingkatan cukup tinggi. Jauh banget deh, kalau dibandingkan dengan pelabuhan2 di kota-kota di  Jawa. Ternyata kapal yang disiapkan untuk mengantarkan kami, telah siap bersandar. Woooow keren bgt! Biarpun kapal ini kapal kayu, tapi kapal ini terlihat bersih, kokok dan luas. Sangat lapang bila hanya dimuati oleh kita ber-tujuh. Kalau dihitung2, mungkin kapal ini sebenarnya bisa dimuati 15 orang dengan masih memiliki rasa kenyamanan. Denger-denger sih, bila kalian mau sewa kapal disini untuk Komodo Trip 2 hari 1 malam, bisa dikenakan tarif 4-5 juta, tergantung negoisasi. Harga tersebut biasanya sudah all in: makan, dan biaya masuk ke daerah2 wisata di gugusan kepulauan ini. Sayang banget, sepertinya pemda setempat belum men-standarisasi tarif-tarif layanan trip ini, sehingga bule2 yang datang seperti merasa kebingungan menghadapi kendala ini.

KOMODO…..tunggu saya…!!!