Setelah hari menjelang siang, berangkatlah kami dengan kapal kami. We’re so excited!! Tujuan pertama kami, adalah stop-by di Pulau Pandar. Dalam perjalanan, kami disuguhi pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Pulau2 berbukit dan laut yang jernih bak sebuah kaca transparan yang menampilkan aneka warna yang muncul dari terumbu karang dan ikan-ikan kecil.

Kemudian, sampailah kita di Pulau Pandar. Really beautiful and exotic. Pulau ini memiliki pantai putih bersih, dan yang lebih amazing lagi adalah pantai ini termasuk pantai yg tidak berpenghuni. Kapal kami hanya bisa berlabuh 5 meter dari bibir pantai, dikarenakan terumbu karang dangkal yang terdapat di sekitar pantai ini, yang membuat kapal ini tidak dapat menurunkan jangkar. Jejeran terumbu karang jelas terlihat dari atas kapal, membuat nafsu “birahi” kami yang sudah kami tahan dari Jakarta meledak-ledak dan siap meletus! Lalu segeralah dan langsung tanpa pikir panjang, kami siapkan alat snorkling kami dan langsung terjun menikmati bersihnya air laut disini. Gileeee, tak terbayangkan nikmatnya mencicipi air laut ciptaan Tuhan, ditambah dengan pemandangan bawah air dan pemandangan bukit2 disekeliling pulau ini. Setelah puas menikmati 30 menit keindahan pulau ini, segeralah kami naik ke atas kapal kembali untuk menuju ke destinasi berikutnya; PULAU RINCA !!!

Perjalanan kami ke Pulau Rinca diiringi sendagurau bersama, di buritan kapal. Sembari menikmati keindahan perbukitan di tengah lautan, Allah juga memberikan free angin sepoi-sepoi di hari yang sejuk ini. Thanks God for this wonderful trip. Tiada lagi yang lebih menyenangkan pergi bersama orang yang sangat kamu sayang, dengan teman-teman yang selalu menghibur.

Akhirnya pada pukul 16 sampailah kita di Pulau Rinca, salah satu pulau yang dihuni oleh binatang purba komodo.15 menit sebelum masuk ke dermaga, kita disuguhi oleh atraksi alam yang menggugah jiwa dan mata. Dermaga nya terletak di dalam sebuh teluk pulau yang dalam, sehingga ketika kita memasuki-nya kita merasakan aroma “terpencil”nya pulau ini. Pohon2 bakau mengelilingi pulau ini, menambah aroma “terpencil”nya pulau ini. Sungguh eksotis. Dermaganya sendiri adalah dermaga kecil yang terbuat dari kayu dan memiliki gerbang masuk yang kecil. Setelah kapal bersandar, dan kami memasuki gerbang, kami langsung dikejutkan oleh seekor komodo yang sedang bersantai diantara pohon-pohon bakau. Wow…..!!! Keren. Inilah komodo pertama kami.  Hati-hati, mata kita harus awas, karena warna kulit komodo sangat menyerupai warna batang kayu dan tanah, sehingga kadang mereka sepeti tidak tampak oleh mata kita.

Pulau Rinca adalah salah satu dari tiga pulau yang dihuni oleh komodo. Pulau Rinca sendiri memiliki karakteristik pulau yang berbuki-bukit, dengan memiliki pemandangan padang rumput yang indah. Sekeliling pulaunya sendiri ditanami oleh banyak tanaman bakau. Pulau ini dihuni oleh sedikit nelayan yang berdiam di ujung pulau dan beberapa petugas/ranger yang mengawasi komodo. Begitu memasuki gerbang, dan berjalan sedikit ke arah dalam, kita akan menemui sebuah padang tandus yang sangat luas. Setelah melapor kepada petugas, kita langsung melakukan tracking 1 jam mengelilingi pulau. Disekeliling rumah/kantor administrasi pulau, kita menemui banyak sekali komodo berkeliaran disekeliling kita. Ada yg sedang tidur, ada pula yang seperti-nya terlihat “menunggu sesuatu”. Kita perlu mewaspadai komodo yang sedang bergerak. Rombongan kami di pandu oleh seorang ranger yang telah siap dengan batang kayu bercabang yang digunakan untuk menghardik komodo bila menyerang. Kami melihat ada sekitar 10 komodo berada disekitar kami, namun mereka semua terlihat sangat pasif, malas bergerak. Kami juga melihat komodo yang sepertinya  “bapaknya komodo pulau rinca”, karena ukurannya yang saaaaaaangat besar dan paling besar diantara semuanya, saya bayangkan beratnya bisa hampir 200kg. Posisinya seperti sedang tidur, mungkin sedang kekenyangan, berperut sangaaaaaaat buncit, dengan posisi telapak kaki “ngeplek” atau “terlipat”, seperi orang patah tangan atau sedang keseleo. Ada gak ya balsem buat komodo…??

Perjalanan tracking di Pulau Rinca sangat menyenangkan. Dengan udara sore yang sejuk, kita dapat menikmati sejuknya melewati hutan-hutan kecil dan bukit-bukit padang rumput yang mempesona. “KOMODO !!!!” Tiba-tiba kami dikejutkan oleh teriakan salah seorang teman kami, yang melihat komodo melintang di jalan setapak!!! Bahkan ranger kami pun tidak menyadari akan kehadirannya, dikarenakan warnanya yang berkamuflase dengan warna alam. Fiuhhh…, hampir saja kita masuk koran karena dimakan komodo. Gak lucu juga kalau headline koran besok berbungi “7 Remaja Tanggung Yang Tidak Punya Tanggungan Tewas Dimakan Komodo Dengan Kondisi Usus Terburai dan Otak Berceceran dengan Bola Mata Menggelinding….!!!” Kami juga melihat beberapa komodo diseputaran pulau ini, ada yang bersantai, ada pula yang sedang menjaga telur. Ranger pun bercerita betapa jarangnya ia menemani turis lokal berkeliling. Hampir 90 persen turis yang mengunjungi pulau ini adalah turis asing, bahkan ia bercerita bagaimana para orang asing tersebut sangat bersusah payah untuk mencoba membeli beberapa tanah atau pulau di sekitar gugusan Pulau Komodo ini, dikarenakan keindahannya. Waduh…kok bisa jadi gini ya…?

Setelah puas berkeliling dan mengambil foto-foto dengan sudut yang indah, kami kembali ke kapal pada waktu senja sudah terlihat, dan matahari akan tenggelam. Kami segera menuju ke daerah Pulau Kalong, tempat atraksi lain, tempat banyak kalong tidur. Kalau kami tidak terlambat, kami akan melihat ribuan kelelawar terbang dari pulau itu untuk mencari makan dan berkelana.

Setelah hampir 1 jam perjalanan, sampailah kita ke Pulau Kalong, tempat kalong2 tsb berdiam, tapi sayang karena hari sudah terlalu gelap, kami hanya mempergoki beberapa kalong yang telat bangun (mungkin karena tidurnya larut siang kemarin). Kemudian kapal kami segera mengkikatkan diri dengan beberapa kapal lain yang sudah terlebih dahulu berlabuh. Beginilah cara mereka, agar tidak terlalu terbawa ombak, karena sangat dilarang untuk membuang jangkar disini, dikarenakan terumbu karang dibawahnya. Hal ini membuat saya kagum akan kedisiplinan nakhoda-nakhoda kapal tsb, untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keberlangsungan kepariwisataan daerah mereka. Saya jadi teringat akan wisata kami di Pulau Seribu di Jakarta, bagaiman para ABK dengan seenaknya terkadang membuang jangkar dan menghantam terumbu-terumbu karang indah. So stupid….!

Malam ini kami akan habiskan malam di tengah lautan yang tenang, kurang lebih 50 meter dari bibir pantai. Laut begitu tenangnya, sampai bahkan gemericik air atau ombak pun tidak terdengar. Yang terdengar hanya gelak canda kawan-kawan kami dan teman-teman bule di beberapa kapal sebelah. Tidak lama kemudian, datanglah beberapa penjual souvenir ke kapal kami, dengan memakai sampan kecil. Selain menjual suvenir-suvenir mereka juga menjual rokok, telur, sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Sayang, dari mereka tidak ada yang menjual tv plasma 32inch, karena ingin rasanya melihat kabar Jakarta dengan kemacetan dan kebanjirannya lewat seputar 6 sctv. Tentunya suvenir-suvenir tsb tidak dijual dengan harga murah, namun dengan negoisasi yang tidak  a lot (alias alot), kami akhirnya mendapatkan harga yang reasonable. Rasa “berbagi” juga turut mendominasi perasaan saya, ketika membeli barang-barang tsb. Saya ingin berbagi hasil dari “bubble economic” dari Jawa yang belum terasa di daerah sini.

Malam ini, kami habiskan waktu dengan tawa-canda bersama kawan-kawan kami di atas kapal. Wow…suatu pengalaman baru yang sangat menyenangkan. Mengobrol, bermain tebak-tebakan basi, cerita kenangan 80’s dan bermain capsa menyebabkan kami tidak merasakan waktu yang berlalu sangat cepat. Persahabatan memang seperti kepompong. Hal yang tak mudah bisa menjadi indah…..

“Benda apa yang paling besar sedunia…?” Jawabannya “Ayakan Gajah..!!” Basi kan…! Lalu tebakan berikutnya….”Pabrik apa yang paling besar sedunia..??”, jawabannya ,”Pabrik Ayakan Gajah”… Ehmmmm Males deh. “Mesin apa yang paling besar sedunia..?” , jawabannya “Mesin Pembuat Ayakan Gajah…!” Ehhhmm Cape deh. Tidak terasa jam sudah hampir menunjukan jam 3 pagi, lalu tanpa dikomando kami langsung tidur dan melakukan koor bareng, dikarenakan kelelahan yang amat sangat. “Ngrrroook-ngroookkkk…..”

(all copyright photo by : Teguh Aryanto)