Tepat pada pukul 6 pagi, sampailah kita di Kota Bajawa, setelah sebelumnya kita bermalam di tengah hutan dikarenakan supir yang mengantuk. Jalanan di Flores pada malam hari memang benar-benar sepi BLAS ! Dalam istirahat kita di tengah hutan sekitar 2 jam, tak satupun mobil melintas. Sehingga kita-pun merasa aman untuk tidur di tengah jalan, sekedar meluruskan kaki. Tapi sempat juga terdengar desis ular beberapa kali.

Setelah sampai di Bajawa, kita langsung menuju ke tempat pemandian air hangat Mengeruda-Soa. Pas banget, apalagi badan udah mulai lengket-lengket. Air-nya memang benar-benar hangat dan jernih, namun sangat disayangkan, tempat wisata ini masih memiliki sedikit fasilitas yang memadai. Tapi tak apalah-sudah cukup untuk membersihkan badan kita yang sudah bau.

Setelah puas bermandi ria, kita langsung melanjutkan perjalanan ke perkampungan adat Bena. Kita tiba tengah hari di perkampungan adat Bena, dengan disambut oleh para warga Bena dengan sangat ramah. Perkampungan adat ini sangat unik dan tertata rapi, mengingatkan saya akan model perkampungan adat di Bali. Dengan rumah-rumah adat di sisi kiri dan kanan, dan meletakkan plaza terbuka di area tengah. Karakteristik ini membuat semua rumah mendapatkan hawa dan cahaya yang cukup. Plaza terbuka ditengah dipakai mereka untuk berkumpul atau untuk sekedar bermain bersama untuk para warga, membuat perkampungan ini selalu terlihat akrab. Inilah Cluster BENA, tidak ketinggalan dengan cluster-cluster di Jakarta, yang justru bukannya kelihatan “akrab”, melainkan malah terlihat “angkuh”. Pada ujung cluster Bena, yang memiliki level paling tinggi, kita akan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan dari sisi lain perkampungan ini. Kita akan menyaksikan lembah, pegunungan dan hutan dari atas ketinggian. Bahkan Bena telah menyediakan gazebo yang nyaman bagi para turis untuk bisa menikmati pemandangan spektakuler ini. Dan ketika kita mengisi buku tamu, lagi-lagi kita melihat lebih banyaknya turis asing yang mengunjungi tempat ini dibandingkan dengan turis lokal.

Setelah mengunjungi cluster cantik Bena, kita langsung menuju ke kota Moni. Dalam perjalanan menuju Moni, kita singgah sebentar dan beristirahat di  Blue Stone Beach. Pantai ini terletak di dekat kota Ende. Pantai ini memang benar-benar berwarna biru. Really unique and beautiful. Mengapa bisa berwarna biru…? Dikarenakan pantai ini dipenuhi oleh batu-batu koral cantik berwarna biru. Kami juga melihat beberapa warga pengumpul batu yang mengumpulkan batu-batu ini untuk dijual dan dijadikan sebagai penghias taman. Flores memang unik dan cantik!

Tepat pukul 7 malam, sampailah kita di sebuah hotel melati kecil di Moni untuk bermalam. Kota Moni cukup ramai oleh hotel-hotel melati kecil tempat para turis menginap. Kota Moni dijadikan tempat menginap sebelum para turis berangkat ke Danau Kelimutu pada dini hari. Moni adalah kota paling dekat untuk menuju ke kawasan Danau Tiga Warna Kelimutu. Hawa sangat dingin menyergap tubuh-tubuh kurus kami, membuat tubuh kami semakin kedinginan. Zzzz…zzzz.z.zzz…zzzz

Pukul 3.30 dinihari, kami dibangunkan dari tidur ayam kami oleh petugas hotel. Dinginnya bukan kepalang…!!! Untuk mengejar sunrise di Danau Kawah Kelimutu, kita memang harus siap bangun pagi. Perjalanan kami menuju ke Danau Kelimutu melewati bukit-bukit terjal dengan jalan yang sempit, tapi diselingi pemandangan yang menakjubkan. Setelah sekitar 40 menit berkendara, sampailah kita pada tempat parkir mobil kawasan wisata. Hari masih gelap gulita dan hanya ada 1 mobil lain parkir membawa beberapa turis asing. Kemudian langsunglah kita melakukan tracking bersama ke puncak gunung, untuk melihat keajaiban Danau Tiga Warna.

Selama tracking ke-atas, kita dipandu oleh seorang penjual kopi yang berharap rombongan kita akan membeli minuman dari-nya sesampainya kita diatas. Dalam perjalanan tracking kita melewati hutan-hutan semak dengan pedestrian krikil yang cukup besar. Udara begitu dingin dan segarnya, pasti saya yakin tidak ada satu molekulpun yang berjenis CO2. Asap mengepul dari mulut dan hidung kami. Setelah 15 menit berjalan, sampailah kita pada sebuah padang kapur batu cadas, yang menandakan kita sudah sampai pada area kawah. Sedikit demi sedikit cahaya pagi sudah mulai muncul membantu dan menuntun arah jalan kita. Kemudian saya melihat 2 buah kawah sekaligus dengan 2 warna yang berbeda, pada sisi kanan jalan setapak kita. WOOOOWWWWW,  it so exotic….! Ya Tuhan…Menakjubkan sekaligus Menakutkan. Saya yakin setiap pengunjung yang pernah mengunjungi danau kawah ini pasti akan merasakan aura mistis yang jelas dan sangat terasa. Setelah itu kita dihadapkan pada ratusan anak tangga yang harus kita tempuh untuk sampai kepada puncaknya. Ternyata berbekal semangat 45 ditambah 66 ditambah 98, belum cukup bagi saya untuk bisa berlari menaiki anak tangga. Sungguh melelahkan dan membuat nafas saya tersengal-sengal.

Namun semua kelelahan tersebut, sangat terbayar ketika kita sudah mencapai puncak paling atas dari gunung ini. 3 Danau sekaligus dengan 3 warna yang berbeda ada dihadapan kami. Kombinasi pemandangan pun dipercantik dengan taburan bintang dan bulan sabit yang masih nampak, menunggu matahari terbit di ufuk. Rona sinar surya pun mulai muncul dan mem-biru-i langit menggantikan gelapnya malam, menciptakan sebuah warna yang bahkan manusia-pun tidak mampu untuk menciptakannya. Sulit untuk mendeskripsikan apa yang mata kami saksikan. Takjub dan Merinding…!!! Hanya ada satu rangkaian kalimat yang mungkin bisa mendeskripsikannya…

…Demi matahari dan cahayanya, dan bulan apabila mengiringinya,

dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya.

Dan langit serta yang membangunnya.

Dan bumi serta yang membentangkannya.

Dan diri serta yang menyempurnakannya.

Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatannya dan ketaqwaannya.

Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya.

Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya…

Hari ini, kami merasa bahwa manusia hanyalah seperti debu di padang pasir, bahwa tidak patutlah manusia berlaku sombong dan congkak dengan segala hal ke-duniawi-an. Dari laut, pantai, danau, dan gunung yang kami kunjungi seminggu ini, semestinya menambah kepercayaan kita akan keagungan citra penciptaan Yang Maha Kuasa, dan menambahkan cinta kita kepada diriNya. Keindahan penciptaan Allah dapat berbentuk seperti unik-nya seekor binatang purba, biru-nya laut, halusnya pasir pantai, beragam-nya warna terumbu karang, beraneka-ragam-nya ikan di laut, sejuk-nya udara yang kita hirup, rindang-nya pepohonan di hutan, ramah-nya para saudara-saudara kita, ataupun mistisnya sebuah kawah gunung. Semua keindahan dari berbagai bentuk tersebut hanya Allah ciptakan tidak lain untuk memanjakan umatnya di bumi.

Lalu…masihkah kita mengingkarinya…?

Kunjungan kami ke Danau Kawah Kelimutu merupakan klimaks dari sebuah perjalanan anak Indonesia dalam mencoba untuk menjelajah sebagian kecil dari keindahan alam yang Indonesia miliki. Indonesia tidak hanya Jakarta, Indonesia tidak hanya Bali. Flores adalah sebuah daerah di timur Indonesia yang memiliki beragam keajaiban alam yang eksotis sekaligus mistis dan menakjubkan. Lusa kami akan kembali ke Jakarta dari Maumere dengan membawa kenagan indah, dengan hati yang tertinggal. Tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menjelajah keindahan alam INDONESIA bersama orang yang kamu cintai disertai sahabat-sahabat yang selalu menghibur….

TIM AYAKAN GAJAH