1. Menambah Jalur Busway Transjakarta ke segala arah di ibukota

Konsep Transjakarta adalah konsep tranportasi murah yang cukup cocok untuk diterapkan di Jakarta. Pembuatan jalur-jalur busway dan halte-haltenya tidaklah terlalu sulit dibangun, dibandingkan dengan pembangunan MRT/Monorel.

Dengan kemudahan pembangunannya, maka jalur busway bisa mencapai hampir ke seluruh jalan-jalan besar di ibukota Jakarta.

 

2. Menambah secara maksimal jumlah armada transjakarta

Dengan kapasitas penumpang dalam bis yang kurang banyak/terbatas, maka jumlah armada bis harus dimaksimalkan. Keterbatasan isi penumpang bis harus bisa diimbangi dengan kuantitas bis transjakarta, agar bisa mengimbangi pula banyaknya mobilitas penduduk Jakarta.

3. Membuat kantong parkir utama di ujung jalur busway, dan kantong parkir skunder di dekat halte busway

Perlunya membuat sarana kantong parkir utama (park and ride)  yang cukup besar pada ujung-ujung jalur busway. Karena ujung-ujung jalur busway, biasanya terletak di pinggiran ibukota, dimana banyak kaum urban/pinggiran melakukan aktifitasnya di dalam pusat kota. Sehingga diharapkan mereka tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi kedalam kota, melainkan cukup dengan memarkir mobil di kantong parkir dan melanjutkan perjalanan dengan busway ke pusat kota

Selain itu juga perlu dibuatkan kantong parkir skunder di setiap tempat dekat halte-halte busway, yang tidak perlu sebesar kantong parkir utama. Dapat juga memanfaatkan parkir-parkir gedung perkantoran. Dan bila tidak ada parkir perkantoran di dekat halte-halte tsb, maka sangat perlu dibuatkan kantor parkir tambahan. Hal ini diperlukan untuk kontinuitas pergerakan warga Jakarta dari satu tempat ke tempat yang lain, dan memberikan banyak alternatif kepada warga Jakarta dalam berpergian.

4. Menambah/Menertibkan/Me-refungsikan Jalur Pedestrian

Jalur pedestrian adalah termasuk sarana penting dalam system tranportasi di Ibukota. Dengan pedestrian nyaman, maka dipastikan banyak orang akan memilih cukup berjalan kaki untuk jarak menengah, dibandingkan dengan naik kendaraan pribadi atau naik kendaraan umum. Banyak orang masih enggan naik busway dikarenakan halte busway tidak tepat berada didekat  tempat yang dituju, sehingga dengan adanya pedestrian yang nyaman, membuat orang tidak enggan lagi berjalan kaki, meskipun harus menempuh jarak yang cukup jauh

Sehingga sangat perlu sekali, pedestrian-pedestrian di ibukota dikembalikan lagi kepada fungsi sebenarnya. Perlu dilakukan penertiban secara tegas untuk para pedagang kaki lima yang kerap berdagang di pedestrian, ataupun mobil-mobil yang sering parkir menutupi jalur pedestrian.

5. Menertibkan Transportasi Umum Non-Transjakarta

Dengan banyaknya koridor busway ke segala arah, dan jumlah kuantitasnya yang banyak, maka sebetulnya tidak lagi diperlukan bis umum berukuran besar. Sedangkan untuk masuk ke jalan-jalan sekunder, tetap diperlukan bis-bis ukuran mini untuk tetap dapat melayani para warga ke tempat-tempat yang belum bisa diakses oleh bis transjakarta. Kendaraan umum seukuran mikrolet tetap diperlukan dengan trayek yang sangat terbatas, untuk dapat jalan-jalan lingkungan yang sangat kecil, yang tidak efisien untuk dapat dilewati oleh bis-bis ukuran mini.

Sarana untuk transportasi non-transjakarta juga perlu ditingkatkan. Perlunya dibuat halte-halte yang cukup memadai dan nyaman, agar orang tidak enggan untuk naik kendaraan umum ini, dan tidak lupa juga untuk memperbaiki kualitas dari bis-bis tersebut.

 

6. Tindakan Tegas Polisi untuk Para Pelanggar Lalu Lintas

Selama ini, kita masih banyak melihat peran Polantas yang masih memble dalam menindak para pelanggar. Entah karena polisi malas, polisi disuap atau karena kekurangan jumlah personil. Tindakan tegas para polisi diperlukan untuk memberikan efek jera bagi para pengemudi yang suka melanggar peraturan, terutama para supir bis kendaraan umum.

7. Pembatasan Penggunaan Kendaraan Pribadi

Bilamana 6 jurus diatas dapat dilaksanakan, niscaya warga Jakarta akan berbondong-bondong meninggalkan mobilnya digarasi untuk kemudian beralih ke sarana transportasi publik. Namun demikian, Pemda DKI tetap perlu memberikan peraturan tentang pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan cara menaikkan pajak kendaraan, system ERP, ataupun menaikkan harga tiket parkir (diluar parkir di kantong parkir)

8. Meng-Efektif-kan Jalur KRL Jabotabek

Megefektifkan kembali Jalur KRL Jabotabek sebagai sarana transportasi publik yang nyaman bagi warga, dengan cara :

a. Menjadikan Jalur KRL Jabotabek, menjadi jalur intermoda HANYA di lingkungan Jabotabek. Sehingga Jalur KRL Jabotabek tidak lagi dipakai sebagai jalur kereta untuk keluar areal Jabotabek, seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kereta untuk ke daerah di luar Jabotabek, hanya bisa sampai di stasiun-stasiun kereta pinggiran Jabotabek. Dengan penggunaan jalur hanya untuk KRL Jabotabek, maka dipastikan jadwal kereta tidak akan lagi terganggu atau berbentrokan dengan jadwal kereta Luar Jabotabek.Dengan begitu, akan dapat tercipta system perkerta-apian mirip dengan system kereta MRT, dan system tiket busway yang hanya mengenal system 1 tarif flat.

b. Merenovasi stasiun-stasiun di sepanjang Jalur KRL Jabotabek, dan merenovasi gerbong-gerbong kereta KRL, sehingga masyarakat tidak enggan untuk menggunakan sarana tranportasi publik ini.

9. Menciptakan system One Ticket Elektronic dan Stasiun Perpindahan Antar Moda

Perlunya dibuat system One Ticket Electronic, yaitu system satu tiket card, yang bisa dipakai untuk menggunakan semua moda transportasi di ibukota. Hal ini diperlukan untuk memudahkan para warga Jakarta dalam menggunakan sarana tranportasi publik di kotanya.

Perlu juga dibuat stasiun perpindahan antar moda, bagi moda-moda yang bersinggungan jalur, sehingga memudahkan masyarakat Jakarta dalam melakukan kontinuitas pergerkan mobilitasnya.

Dengan dilakukannya 9 Jurus Mudah-Murah ini ( TANPA MRT SUBWAY ),  maka dipastikan kemcaetan Jakarta akan berkurang sebanyak 50%!!! Yakin !!!

Saya hanyalah arsitek urban, bukan pakar tranportasi. Namun entah mengapa solusi sederhana ini tidak pernah menjadi wacana, apalagi dilaksanakan. Diperlukan dekrit dan tindakan konkret tanpa campur tangan politik untuk dapat memecahkan problem kemacetan di ibukota tercinta.