Harinya telah tiba, hari yg kita tunggu untuk pembuktian diri dalam melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh para metro branded traveller. Kita dijadwalkan terbang dengan Garuda pukul 17.40 dari Jakarta. Kekhawatiran akan delay-nya Garuda sudah terbayang, ditengah kacau-balaunya sistem penjadwalan penerbangan Garuda saat itu. Tetapi alhamdulilah, semua ternyata berjalan sesuai jadwal. Ternyata Rinjani tidak begitu saja membiarkan calon-calon penakluk nya menunggu begitu lama.

Tiba di mataram dalam keadaan malam nyaris purnama, pada sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Setelah mengurus semua tas2 DEUTER kebanggaan kami, segeralah kami bergegas keluar airport untuk bertemu dgn Pak Ichsan; bos dari lomboktrekking utk melakukan koordinasi dan pembayaran. Kami bersepakat untuk membayar 1,5 jt/org untuk melakukan pendakian rinjani 3 hari 2 malam. Semua harga tsb sudah termasuk transport Airport-Senaru pp, penginapan di Senaru, biaya porter angkat barang, semua perlengkapan pendakian (incl tenda, dan sleeping bag), dan juga sudah termasuk guide dan semua kebutuhan cacing-cacing di perut kami.

Ada beberapa pilihan jalur pendakian yang bisa dilewati. Dikarenakan konsep pendakian kami adalah simple hiking, maka kami memilih jalur yang paling mudah dan paling singkat, yaitu melalui dusun Senaru pp. Bagi para expert, pilihan jalur melalui “start Sembalun – finish Senaru” adalah pilihan tepat. Hanya memiliki perbedaan 1 hari 1 malam saja, bila ingin melalui jalur yg lebih panjang tersebut.

Dalam perjalanan kami ke Senaru di malam ini, kami bisa melihat siluet Gunung Rinjani dari jauh. Kesan yang saya dapat dari gunung itu adalah gunung ini memiliki aura magnet mistis yang sangat kuat. Tidak hanya aura mistis-nya yang kuat, namun juga memiliki aura keindahan yang nyata, sehingga membuat orang tergoda untuk menikmati, dan menaklukannya.

Kami tiba di Hotel Pondok Senaru dalam dingin yang menyergap pada pukul 12 malam. Suasana dingin, sepi, gelap dan hening mewarnai suasana dusun ini.  Hotel ini memang sering di sewa oleh para turis asing yang benar-benar mencari kesunyian dan ketenangan. So guys…don’t make any noise here….Zzzzzzz, nite guys. Tomorrow we’ll going to start catching our dream….


Morning.!!!! What a fresh air that we have this morning…! Begitu cerahnya dan segarnya pagi ini di Hotel Pondok Senaru. Kamar kami tepat berhadap-hadapan dengan pemandangan Gunung Rinjani yang dipisahkan oleh sebuah lembah. This is so great…. But ssstt, we stil can’t make any noise here, even at 6.00 pm, cause the other guest is still looking for a silence hehehehe.

Selain ayam taliwang, dan plecing, Lombok ternyata punya makanan khas lainnya, yaitu noodle soup yang rasanya super hambar. Mereka mencampurkan antara konsep indomie dengan konsep soup dalam satu wadah, yang entah mengapa rasanya malah gak asyik. Itulah menu sarapan kami pagi ini. Tetapi untungnya, hambarnya sarapan kami masih ditambah oleh menu pemandangan alam yang begitu indahnya di depan mata kami. Ada langit biru, Gunung Rinjani, hutan tropis, lembah hijau, hamparan sawah, dan air terjun di kejauhan, dan masih lagi ditambah oleh sejuknya udara pagi ini. Nikmat, nikmat, nikmat. Thanks for the breakfast, God…!

Jam 8 kami segera bersiap meninggalkan hotel untuk melakukan pendakian. Setelah bla-bla-bla, dan kita melaporkan kegiatan kita di pos kehutanan, segeralah kita mulai pendakian tepat pada jam 9. Selain kita ber-lima, rombongan kami masih ditambah oleh Macho (guide lokal), dan 4 orang porter yg membawa semua perlengkapan dan kebutuhan kita. Adapun kebutuhan baju2 dan perlengkapan pribadi masih tetap dibawa di punggung kita masing-masing.
1 km pertama, track masih diwarnai oleh jalan setapak datar yang tidak menguras keringat. Senda gurau masih mewarnai perjalanan kita. Setelah itu, track mulai menanjak antara 30-45 derajat kemiringan.  Beberapa dari kawan-kawan, mulai mengalami perlambatan pernafasan a.k.a ngos-ngos-an. Pemandangan sekeliling masih di dominasi oleh kebun2 masyarakat lokal. Sapi2 ternak warga juga masih banyak dijumpai di daerah ini. Setelah 30 menit perjalanan, sampailah kita pada pos gerbang awal rinjani (baca: bukan pos 1), pada ketinggian 600 m dpl. Disini kami disambut oleh anjing puddle lucu milik bapak penjaga warung. Dan disinilah terakhir kali, anda dapat menjumpai wc umum dan warung kopi.

Begitu lepas dari pos gerbang, kami langsung dihadapkan pada hutan tropis yang lebat dengan kecuraman pendakian agak lebih berat dengan kemiringan yang cukup curam. Dua dari kawan kami mengalami penderitaan habis nafas yang cukup berat dan mengalami kram kaki yang cukup akut, dikarenakan medannya yang sangat menantang. Suasana cerah dan sejuk mengiringi langkah2 kecil kami dalam meniti jalan setapak alami yang telah ditinggalkan oleh para pendaki-pendaki terdahulu. Setelah 1 jam perjalanan yang terseok-seok, sampailah kita di pos pertama kita. Pos ini memiliki dipan miring dalam sebuah pendopo, yang digunakan orang untuk merebahkan diri, sekedar meluruskan punggung. Pos 1 sendiri terletak pada ketinggian sekitar 1000m .dpl. Saya menyebutkan Pos 1 sebagai Pos Pengumpul Semangat.

Perjalanan berikut, tentunya adalah perjalanan menuju pos 2 yang terletak pada ketinggian 1500m dpl. Dalam perjalanan ke pos 2, kita singgah di pos 1 extra, utk sekedar makan siang dan meluruskan kaki. Perjalanan dari pos 1 ke pos 1 extra memakan waktu sekitar 1 jam. Disini, saya mulai sadari bahwa baju saya telah basah kuyup oleh keringat. Sebetulnya termasuk hal yang aneh, ketika baju saya dibasahi oleh keringat, padahal suasana hari sangatlah sejuk bahkan cenderung dingin. Alternatif menu makan siang kali ini adalah noodle soup atau ‘tidak makan’..!!! Jelaslah, dgn sangat terpaksa, kita akhirnya memilih kembali noddle soup sebagai menu lunch kami. Sekitar 1 jam kami beristirahat di pos 1 extra, sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke pos 2.

Perjalanan ke pos 2 bisa dibilang perjalanan “point of no return”. Disinilah banyak orang mulai di hinggapi rasa pesimisme akan keberhasilan pendakian. Disinilah titik dimana kita masih bisa “memutuskan untuk kembali” ke bawah, bilamana keadaan fisik tidak memungkinkan. Keterjalan pendakian mulai terasa curam. Pendakian di dominasi oleh kemiringan 45 derajat, yang benar-benar menguras energi kita. Masing2 dari diri kita, haruslah dibekali oleh semangat dan motivasi yang kuat dalam pendakian ini. Hal ini diperlukan untuk mengikis rasa pesimisme dan mengumpulkan rasa optimisme.

Tepat 1 jam setelah meninggalkan pos 1 extra, maka tibalah kita di POS 2 (Montong Satas) , sebuah POS Mistik, pos yang memiliki aura negatif.  Pos dengan ditandai oleh berdirinya 2 pendopo terbuka. Tanpa berfikir panjang, begitu melihat dipan kosong, langsunglah saya mencari posisi rebahan yang nikmat. Dan tanpa disangka, segeralah saya masuk dalam alam tidur, dengan dibantu oleh angin sepoi nan sejuk. Dalam tidur saya yang singkat di pos 2, saya mengalami mimpi yang cukup aneh. Dalam mimpi saya, ada beberapa anak kecil berpakaian aneh, dan bermuka cukup menyeramkan menghampiri dan mengelilingi badan saya di pendopo tempat saya tidur. Meraka seperti mengamati tubuh dan setiap gerak gerik saya dengan seksama. Dengan bermuka seram, mereka sepertinya hendak mengusir saya dari gunung ini. Tapi untungnya, sebelum mimpi aneh berlanjut, saya dibangunkan oleh canda tawa teman2 saya. What a nightmare at noon.!!!

Di pos 2 ini, kami beristirahat sekitar setengah jam. Perjalanan menuju pos 3, adalah perjalanan paling jauh diantara perjalanan-perjalanan sebelumnya. Jarak antara pos 2 ke pos 3 adalah 3 km. Pos 3 sendiri adalah pos yang terletak pada ketinggian 2000m dpl.  Hutan tropis yang kami lewati adalah benar2 hutan yang sangat lebat dan rapat. Matahari pun sulit menembuskan sinarnya, dikarenakan rapatnya dedaunan di pohon-pohon yang besar. Kabut-kabut tipis terlihat menyergap diantara batang-batang pepohonan, menambah kental suasana pegunungan yang dramatis-romantis dan mistis. Sesekali kami melihat lutung yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 adalah perjalalanan panjang dan melelahkan. Semangat dan senda gurau adalah salah satu pemicu positip langkah-langkah kami dalam menuju kesuksesan pendakian. Pohon tumbang menjadi satu pemandangan hiburan kami, karena disinilah kami dapat sejenak beristirahat duduk pada batangnya dan memakan makanan kecil atau sekedar minum. Jalanan datar tak menanjak pun, merupakan anugrah besar dan nikmat buat kami. Hujan pun turut mengguyur perjalanan kami, membuat baju yang sudah basah oleh keringat bertambah dengan tambahan guyuran air dari awan yang jaraknya hanya beberapa meter diatas kami. Pertanyaan “kapan tiba di pos 3??” selalu bergelayut di pikiran kami, karena kami merasa berjalan ke arah yg pasti namun dengan jarak yg misteri. Cacing-cacing di perutpun mulai meronta-ronta dan melalukan demonstrasi menuntut hak-nya.  Tepat pada pukul 5, dari kejauhan kami melihat ada kepulan asap dan suara samar2 perbincangan orang, menandakan kami sudah dekat ke pos 3. Yes!! Kami sedikit percepat langkah kami, dan tibalah kami di pos yang kami tunggu, POS 3 (Mondokan Lolak) – sebuah Pos Pengharapaan.

Kalau dihitung, berarti kami sudah berjalan total sekitar 8 jam (termasuk 2 jam istirahat). Dikarenakan hari sudah mulai gelap, dan perjalanan masih cukup jauh, malam ini kami akan menginap di Pos 3. Semua tenda dan makan malam sudah disiapkan oleh porter2 dan guide kita yang sangat baik hati. Dinginnya udara sangat menusuk ke tulang kami. Malam ini suhu bisa mencapai 10 derajat celcius dengan angin yang cukup kencang. Bersama kami, banyak puka turis-turis asing yang menginap di POS 3. Selama perjalanan ke puncak Rinjani, kami banyak sekali menemui turis2 asing dan hanya 1 rombongan pendaki lokal. Kebanyakan turis asing berasal dari Prancis, dan ada juga turis yang datang dari Kanada, Inggris ataupun Singapura. Sesekali juga kami melakukan perbincangan dengan mereka, dan betapa pujian mengalir dari mulut mereka mengenai betapa indahnya negeri nusantara. Terselip pula rasa bangga dan bersyukur tentang alamku Indonesia.

Untuk lebih melemaskan otot-otot kaki kami, para porter menawarkan jasa pijat kaki. Kaki saya dipijet oleh Bapak Lemesah dengan ramuan minyak goreng campur bawang, heheheh. Mantab…(baunya)! Ternyata porter2 Rinjani, tidak hanya hebat dalam membawa barang2, namun cukup lihai juga memijat. Sembari memijat, mereka bercerita mengenai kehidupan kekurangan mereka, tetapi tetap bersyukurnya mereka atas hidup yang telah diberikan Allah SWT, dan bersyukurnya mereka akan hidup mereka di kaki Gunung Rinjani, yang telah memberikan banyak nafkah bagi keluarga mereka. Ironis sekali mendengarkan cerita mereka, banyak orang yang hidup berlebih namun tidak mengenal kata bersyukur, tetapi kebalikannya justru orang yang hidup kekurangan, sangat mengenal arti kata bersyukur. Malam ini saya akan tidur tenang dengan berdoa , … terima kasih ya Tuhan atas segala anugrahMu, sehingga kami bisa melakukan perjalanan bersama teman-teman yang kami  dan bisa dekat sekali dengan segala keindahan yang telah Engkau ciptakan. Semua ini tidak lain Engkau ciptakan, supaya kami tidak henti-hentinya dapat bersaksi akan ke-agung-anMu dan terus mengucap syukur sampai pada hari dimana Engkau menghentikan nafasku. Amin.

Pagi hari, tepat jam 4 kami dibangunkan oleh guide kami, si Macho, untuk segera bersiap melakukan pendakian. Setelah melakukan persiapan seperlunya, jam 5 kami mulai melanjutkan pendakian. Hari masih gelap gulita, sang bulan pun masih setia menemani perjalanan, menunggu giliran untuk sang surya terbit. Dengan berbekal senter kami mulai meniti langkah dengan hati-hati agar kita tidak tersandung atau terperosok ke lubang-lubang besar yang sudah siap menanti mangsanya. Topografi pada perjalanan kali ini sangat berbeda, dengan perjalanan kami kemarin hari. Kali ini topografi yang terbentuk adalah padang rumput dan ilalang yang sangat luas dengan kontur-kontur berbukit yang sangat variatif. Oh..indahnya. Meskipun hari masih gelap gulita, namun kami masih dapat menikmati siluet2 keindahan alam yang membentuk fenomena-fenomena menakjubkan. Suara dengungan angin yang terjebak pun terdengar jelas di telinga kami.  Pohon2 meranggas dan pohon2 cemara mendominasi jenis pohon yang tumbuh jarang disini. Setelah 1 jam perjalanan, sampailah kita pada pos berikutnya, yaitu POS CEMARA; saya menyebutnya Pos Keindahan Yang Menakjubkan.


Matahari sudah mulai terbit dengan terlebih dahulu mengirimkan sinar-sinar ungu dan orange-nya yang indah. Di pos cemara yang memiliki ketinggian sekitae 2300m dpl, kita bisa melihat keagungan ciptaan Tuhan. Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan bukit-bukit padang rumput dan ilalang indah, awan2 putih bergulung di bawah kita, dan Selat Lombok dengan 3 gili-nya yang terkenal terlihat berjejer dari kejauhan. How nice…!!  Kita juga bisa melihat menara komunikasi operarator seluler dari kejauhan, tempat dimana kita memulai perjalanan. Its so far far away, dan kita juga dapat melihat hutan-hutan lebat yang telah kita lewati. Kita pun dapat melihat Gunung Agung, yang memiliki tinggi kurang lebih sama, sehingga dengan melihat Gunung Agung, kita seperti dapat bercermin untuk dapat mengetahui  dimana posisi ketinggian tempat kita berada sekarang. Ternyata hanya dengan bermodal semangat dan solidaritas , para metro branded traveler telah mampu mencapai ketinggian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Istilah metro branded traveller pun, menunjukan bahwa petualangan alam tidak hanya bisa dilakukan oleh para “anak gunung, ataupun para pecinta alam”, namun juga dapat dilakukan oleh para anak kota, anak mall. Bahkan untuk perjalanan ini, kami tetap tidak meninggalkan style-style kami sebagai anak kota, seperti barang-barang branded yang kami bawa, perlengkapan kecantikan/ketampanan, dan juga fashion-fashion dengan warna yang cukup mencolok mata (dan hidung). Top!

Setelah puas melakukan photosession di sekitar pos cemara, kemudian kami melanjutkan perjalanan kami untuk langsung menuju ke Puncak Rinjani atau ke Puncak Pelawangan. Kali ini track di dominasi oleh jalan-jalan yang berbatu. Sesekali juga kami terpaksa melakukan “rock climbing” dikarenakan posisi lereng yang sangat curam, lebih dari 50 derajat. Sembari sesekali kami melihat kebelakang untuk melihat telah tingginya posisi kita berada, dan betapa kita telah meninggalkan awan di bawah kita. Naik terus…pantang turun…

Di kejauhan saya mulai melihat ujung dari pendakian ini, dan saya melihat Furdy baru saja mencapinya. Dari kejauhan saya bisa melihat bagaimana dia mengepalkan tangannya,  berteriak dan tertawa-tawa puas. Kemudian saya lihat pula, senyum dan tawa kecil teman2 yang saya sangat kenal, tercipta dari bibir, ketika mereka telah mencapai puncak, sembari matanya terbelalak melihat ke satu arah yang sepertinya sangat menakjubkan; yang saya belum bisa lihat dari posisi saya berada sekarang. Berikutnya adalah saya dan gengges yang berjalan beriringan….

5 langkah, 4 langkah, 3 langkah, 2 langkah, 1 langkah….. YES !!!! I reach to the TOP !! One word to describe..KLIMAKS ( baca : klaimaix )
Ya Tuhan….indahnya pemandangan yang Engkau berikan. Mataku tidak berkedip ketika memandangnya, kutelan ludahku, sembari mengucap dan berbisik “its a picture perfect…” . Tidak lupa kami melakukan salam sukses kepada teman-teman lainnya. We did it…! Its an unexpected and unforgettable trip.

Di puncak Pelawangan dengan ketinggian 2700m dpl, kami bisa melihat the famous of Danau Segara Anak dengan gunung baru tumbuh di tengah danau. Asap kecil mengepul dari puncak gunungnya. Adapun permukaan danau terletak sekitar 400 meter dibawah puncak Pelawangan. Danau ini sendiri pun dikelilingi oleh dinding terjal Gunung Rinjani, sehingga memberikan kesan bahwa danau ini sengaja di lindungi rapat-rapat. Angin berhembus kencang, dengan hawa yang cukup sejuk, ketika kami menikmati keindahan panorama alam yang tiada duanya ini. Kami juga bisa melihat puncak lain disebrang danau yang memiliki ketinggian 3800 m dpl, berdiri angkuh dan tegar. Terima kasih juga buat Pak Lemasah, porter yang setia menemani kami sampai di puncak, dan Macho, guide yang sabar dalam melayani kami.

Tidak lama kemudian, kami melihat rombongan turis-turis Kanada yang tiba dan turut menikmati pemandangan alam. Dan ajaibnya, kami melihat sekelompok sekeluarga anjing liar putih bersih yang cukup jinak, dan turut menyambut kedatangan kami, selain dari monyet-monyet liar yang siap mencuri persediaan makanan kami. Kami menikmati pemandangan dari puncak selama sekitar 3 jam, sebelum akhirnya kami turun ke tempat awal. Beberapa turis melanjutkan perjalanan turun ke danau, tetapi dikarenakan kondisi fisik kita yang kelelahan, cedera kaki yang dialami beberapa kawan kami, dan waktu yang tidak mengizinkan, kami tidak melanjutkan perjalanan turun ke danau. Sebetulnya di danau, alam juga menawarkan tempat-tempat menarik, selain menikmati sejuknya air danau, juga menawarkan pemandian air hangat.
Tepat pukul 11, kami turun kembali lewat jalur yang sama. Rasa puas dan bangga telah menyelimuti diri kita masing-masing. Kami beristirahat sejenak di pos 3 untuk sekedar makan siang. Perjalanan turun memiliki tantangan tersendiri dan sedikit berbahaya, tetapi tetap relatif lebih ringan dibandingkan dengan perjalanan naik. Pada pukul 4 sore, kami memutuskan untuk membuka tenda dan bermalam di pos2. Kami tidak ingin segera meninggalkan gunung ini. Bagi para pencinta misteri, saya sarankan untuk bermalam di Pos 2. Karena pos 2 menawarkan hal-hal aneh dan misteri. Dan salah satu keanehan yang terjadi yang saya rasakan adalah, sering kali dirasakan udara yang sangat dingin tiba-tiba menyergap, dan kemudian kembali datang udara hangat. Berulang kali, hal ini terjadi. Dan hal ini cukup membuat keheranan pada diri saya, dan cukup membuat bulu merinding.

Malam kami di pos 2 diselingi dengan candatawa kami, para porter, dan guide. Suasana begitu akrab, sembari kita bermain kartu untuk melepas ketegangan yang ada. Api unggun yang dibuat, tidak cukup untuk membuat udara lebih hangat. Dan Lalu tibalah saat kita untuk memejamkan mata.

Lalu, ditengah malam buta, saya terbangun mendadak, karena merasa bahwa sepertinya ada “sesuatu” yang memijat jari2 kaki saya yang tersembul di luar tenda yang sempit. ikhhhh syeremm…. Keesokan pagi-nya pun, ternyata beberapa kawan kami dan guide juga mendengar ada suara langkah kaki aneh berjalan mengelilingi area tenda kami, dan tidak satupun dari kita dapat tidur nyenyak pada malam itu. Gleg….

Pagi ini, tepat jam 7 kami akan melanjutkan perjalanan turun. Perjalanan turun kami lalui dengan penuh semangat. Udara sejuk dan kicau burung bersahut-sahutan mengiringi kepergian kita. Dan saya baru tersadar, betapa merdunya kicau burung di hutan, seolah mereka sedang menunjukan suasana hati mereka yang sedang bahagia. Dengan diiringi speaker dari ipod, kami berjalan sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti irama lagu. Kla Project menjadi theme-song dalam perjalanan kita kali ini.

Tepat jam 11, sampailah kami kembali di Pos Senaru. Di Senaru kami disambut oleh porter2 yang telah terlebih dahulu tiba dibawah. Mereka menyalami dan menyiapkan teeh hangat terakhir dari mereka. Setelah berpamitan, tidak lupa pula kami memberikan tip kepada mereka 100 ribu/org, dan untuk seorang guide kami berikan 200 ribu. Macho dan para porter telah sangat bekerja dengan baik dan sangat membantu kami.

Perjalanan kami dilanjutkan ke air terjun Sendang Gile, utk mandi air bersih. Sudah 3 hari, badan kami tidak bertemu dengan air bersih. Air terjun ini sendiri berjarak sekitar 600 m  dari pos senaru. Setelah membayar tiket 2000/orang di pos tiket, kami harus menuruni terlebih dahulu 380 anak tangga untuk dapat mencapai ke air terjunnya. Mengingat kami sudah tidak mandi 3 hari, tanpa dikomando lagi, begitu berhasil menuruni semua anak tangga dan bertemu dengan air terjun, langsunglah kami mandi dan menikmati murninya air terjun ini. Segarnya…..
Bagi teman2 yang berencana untuk mendaki rinjani, disarankan untuk menutup pendakian dengan mampir ke air terjun ini. Tidak lengkap rasanya mendaki rinjani, tanpa mampir ke sendang gile….

Thank u Rinjani….

Rekomendasi :

Guide Macho             : 085785914481

Hotel Pondok Senaru  : 081803624129, 081339764081