Archive for Februari, 2011


Hari ini, hari yg sangat cerah. Bersama Tim AyG, kami menyempatkan mampir ke Ambon sebelum ke Raja Ampat, untuk mencoba diving di tempat yg kabarnya memiliki keindahan alam bawah laut yang luar biasa dengan kejernihan air-nya yang sangat terjamin extra clear pada setiap akhir tahun.
Perjalanan kami kali ini sebetulnya dibayangi oleh bencana-bencana alam yang baru saja terjadi akhir-akhir ini di tanah air, yang disebabkan oleh perubahan cuaca atau anomali iklim yang aneh.
Namun kalau kita terlalu mengkhawatirkan terus menerus mengenai iklim yang tidak pernah diprediksi, dipastikan sampai kapanpun kita tidak akan bisa pergi kemana-mana. Berangkat dari pemikiran tsb, maka nekatlah kita untuk tetap pergi diving, tentunya dengan harapan lindungan dari Allah SWT.

Kami tiba di Bandara Pattimura Ambon sekitar jam 3 sore disambut oleh cuaca yg agak mendung-mendung-mengundang. Setelah mendarat, kami langsung menuju ke daerah Laha, yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari airport. Kami menginap di Mess TNI AU. Mess Dirgantara, yang terletak di tengah-tengah lingkungan perumahan staf perwira AU. Seperti kebanyakan Mess TNI lainnya, keadaanya sangat bersih

Mess AU Laha

dan rapi. Mess ini memiliki banyak kamar, dengan ruangannya yg ber AC. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung segera menyiapkan diving gear untuk melakukan penyelaman pertama kami di Ambon. Karena kita akan mulai nyemplung sekitar jam 5, kami menyebutnya bukan ‘night dive’, tapi ‘almost night dive’.

Mural Eel @Laha

cuttlefish at the junk of Laha

Spot Laha sendiri adalah spot dibawah pelabuhan kapal nelayan kecil. Terlihat ada sekitar 5 kapal parkir di pelabuhan tsb. Entry pointnya langsung dari halaman belakang mess kami, tanpa menggunakan boat, dan hanya berjarak sekitar 50 meter. Saya sendiri berfikir apa bakal bagus ya, kalau kita diving dibawah pelabuhan?? Ternyata memang benar dugaan saya. Di spot ini kita tidak mungkin mengandalkan bakal ada terumbu-terumbu karang berwarna-warni. Kita hanya menemukan beberapa tumpukan botol2 minuman, ban-ban bekas, sepatu-sepatu atau tas-tas bekas, hehehe. Tapi anehnya, visibility disini masih bisa mencapai 20 meter meskipun hari

lionfish @Laha

sudah menjelang malam, dan laut tetap terasa bersih, dalam kedalaman 18 meter. Ada lagi yang mengejutkan bagi kami, di sini kami bisa menemukan hewan-hewan laut kecil yang cukup menakjubkan. Kita dapat dengan mudah menemukan boxfish, mural eel, octopus, cuttlefish, pipefish, dan nudibranch. Its a heaven for macro photography lover.

Keesokan harinya, kami berpindah hotel, menuju ke pusat kota Ambon.

Amaris Ambon

Kami menginap di hotel modern Amaris Ambon. Selama beberapa hari kedepan, hotel ini akan selalu menjadi base kami. Untuk diving selanjutnya, kami fokuskan diving di Desa Hukurila. Adapun jarak dari hotel/pusat kota adalah sekitar 1 jam perjalanan.  Hukurila sendiri terletak di daerah selatan pulau yang menghadap ke arah Samudra Hindia.

Diving Camp @Hukurila Village

Dari base Desa Hukurila saja, kita sudah akan banyak menemukan spot-spot dive yang sangat menarik. Adapun tipologi dari daerah selatan pulau, adalah tepi pulaunya yang berkarang-karang, yang menandakan akan banyak wall dan gua-gua dalam bawah laut, dan pastinya ikan-ikan yang bermain diantara karang-karang.

Big Wall @Lehari

Wall-wall yang menakjubkan, dapat kami temukan di spot dive Lehari-

Another Wall @Batu Toka

Labuang, Muka Batu, Batu Toka, Tanjung Hihar  dimana terdapat wall yang sangat tinggi mencapai 30 meter, dan memiliki dasar pasir halus yang sangat luas tak berbatas. Sangat menakjubkan. Di spot dive Tanjung Haur pun kita bisa menemukan wall berbentuk “V” yang sangat besar dan menciptakan sebuah bentuk yang cukup membuat mata kita terkesima.

Kami juga menemukan jumlah varietas dan kuantitas dari hewan laut yang

ClownFish Playing (so clear of water)

menakjubkan di spot dive Lehari Kiri. Kami banyak sekali melihat lobster yang berlindung diantara karang-karang, kami juga menemukan hewan-hewan laut seperti triggerfish, boxfish, mackerel, dan schooling fish dari berbagai jenis.

Satu hal yang sangat membuat anda tidak akan melupakan Ambon adalah spot dive di Hukurila Cave! Disini anda dipastikan akan menemukan arus ombak yang cukup besar, dan hati-hati terpentuk karang yang ada dimana-mana, ketika mulai terjun ke laut. Dan sesuai namanya, kami menemukan sebuah gua raksasa besar pada kedalaman sekitar 20 meter. Lucunya, untuk entry point ke dalam gua tersebut-guide kami “mbak maya” membawa kita untuk melewati terlebih dahulu celah sempit selebar 1,5 meter saja untuk memberikan sensasi yg menakjubkan dan more spooky sebelum memasuki gua raksasa sebenarnya. Sea Fan dan spons berukuran

Hukurila Cave !!!

extra besar akan selalu menemani anda selama melakukan penyelaman di sini. Mantab!!

Giant Cave @Hukurila Cave Point

Anda akan juga menemukan sensasi menakjubkan diving diantara karang di spot dive Tanjung Haul. Jarak spot dive ini hanya berjarak 5 meter dari tempat base kita menyiapkan gear. Anda akan menemukan banyak sekali bukit-bukit karang yang rapat hanya pada kedalaman 15 meter. Rasakan diving dengan zig-zag melewati sela-sela diantara bukit-bukit karang. Wow…fantastic!

Dari base di desa Hukurila, kita juga bisa menemukan sebuah pantai yang

Private Naku Beach

luar biasa indah dan belum terjamah. Pantai Naku namanya. Letaknya sekitar 30 menit by speedboat dari base. Tipologi pantai ini, hampir sama persis seperti pantai di Maya Beach, Phiphi Island. Pantai ini terletak tersembunyi dalam sebuah teluk dilindungi dan diapit oleh 2 tanjung karang berhutan. Indah sekali…! Pantai ini berpasir krem halus, dengan permukaan nya yang landai panjang, dan memiliki arus laut yang sangat tenang. Its a must visit to this beach….!

Ambon Manise : Extra Clear of Water

Dari semua spot dive di daerah Hukurila ini, kami menemukan kejernihan air yang sangat mengagumkan. Visibility bisa mencapai lebih dari 30 meter! Visibility ini memang sudah kita rasakan dari beach base kami untuk persiapan gear. Pantai ini juga sering dikunjungi oleh para penduduk lokal yang membawa keluarga, untuk sekedar beristirahat, berenang, atau snorkling menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Hari terakhir di Ambon, kami gunakan untuk plesiran non-diving untuk

Suasana Kota Ambon

melihat keindahan alam daerah Ambon. Gong Perdamaian di pusat kota yang kini menjadi landamark terbaru kota Ambon menjadi pilihan kunjungan. Kebetulan tim AyG berkunjung ke sini pada tepat malam Tahun Baru. Atraksi kembang api mewarnai pergantian tahun di kota seluruh sudut Kota Ambon. Hampir selama satu jam, tidak henti-

hentinya mereka merayakan kegembiraan dengan menyalakan dan menyaksikan atraksi kembang api.
Jangan lupa juga berkunjung ke Pantai Natsepa yang ramai. Disini anda akan menemukan ratusan warung yang mempunyai menu seragam; hanya menjual rujak! Aneh bin ajaib. Tidak jauh dari pantai ini, anda akan menemukan Pantai Liang. Seperti pantai Natsepa, laut di sini terlihat sangat

liang beach

bening bersih kehijauan. Biarpun pantai disini ramai dikunjungi masyarakat, namun pantai ini tetap terjaga keindahan dan kejernihannya. Ingin rasanya kita nyemplung kembali melihat jernihnya air disini, namun kalau dipikir-pikir, kita sudah terlalu banyak “menelan” air laut sejak kita tiba di Ambon. Hehehhe

Waiselaka Pond

Di dekat Pantai Liang, kita juga akan menemukan tempat wisata kolam eel, Kolam Waiselaka. Disini, terdapat sebuah sungai alami yang didiami banyak sekali mural eel yang jinak. Sungai-nya sangat jernih, sehingga banyak sekali wisatawan yang menyempatkan diri berenang disini bersama dengan eel. Kapan lagi, kalian bisa berenang dan bermain bersama eel yang licin dalam satu kolam.

Masih banyak, tempat-tempat menarik di Ambon yang patut dikunjungi, bila anda memiliki waktu luang; seperti benteng peninggalan Belanda dari abad 17-benteng amsterdam, atau sekedar berfoto di depan Patung Martha Tiahahu. Sebagai big fans of coffee, tim AyG juga tidak rela untuk melewatkan mencoba kopi lokal di kedai-kedai kopi yang banyak tersebar di segala penjuru kota. Nikmaaaaat..
Dan untuk sekedar membawa oleh-oleh buat teman-teman dan keluarga diJakarta, diwajibkan untuk memborong botol-botol minyak kayu putih yang sangat terkenal, dan untaian mutiara-mutiara asli nan murah meriah di kawasan Batu Merah. Perfecto….

Wuihhh, perjalanan kita di Ambon kali ini, terasa sangat menyenangkan. Iklim kondusif, badan sehat, pemandangan menakjubkan, dan semuanya sudah diatur dengan sempurna oleh guide lokal;  kawan-kawan dari Pari Diver (big salute to Maya, Mu’in). Sempurna.
Alhamdullilah.

Ayakan Gajah Adventourer Team at Liang Beach !!!

Rekomendasi :

Pari Diver : 081343092093 / paridive@gmail.com

UW Photography by Andrew Lioe

Raja Ampat adalah sebuah kepulauan di ujung barat Papua Barat dan merupakan destinasi idaman bagi para traveller, apalagi para maniac diver. Tidak hanya bagi para diver lokal, namun justru para diver asing pun menaruh Raja Ampat sebagai destinasi final bagi mereka. Karena selain menawarkan keindahan bawah laut yang luar bisa dengan ratusan spot-nya, Raja Ampat juga menawarkan pemandangan atas laut yang menawan dipadu dengan eksotisme kebudayaan penduduk lokal.

map of rajaampat

Di kerajaan bawah laut Raja Ampat, kita dapat melihat taman-taman laut dengan berbagai ragam jenis-nya dipadu dengan hewan-hewan laut yang tidak kalah banyak jumlah varietas, kualitas dan kuantitasnya, membuat Raja Ampat menjadi sebuah hutan bawah laut yang sangat menarik untuk diselami. Kekayaan atas laut-nya pun menawarakan pemandangan yang tidak kalah menarik. Bukit-bukit berhutan menyembul menyombongkan diri muncul dari permukaan laut yang jernih bak lembaran dan hamparan crystal bening. Bukit-bukit ini membentuk sebuah formasi acak yang mendefinisikan keindahan sebuah ketidakteraturan. Raja Ampat juga menawarkan banyak sekali teluk-teluk dengan perairan tenang dengan konfigurasi pantai putih dengan pasirnya yang sangat halus seperti tepung. Pasir Putih dari pulau tak berpenghuni merupakan fenomena yang banyak bisa ditemui di sana, membuat para traveller berlomba-lomba untuk menyegerakan menapakkan kakinya disana.

Semua keindahan ini, masih ditambah dengan eksotisme kebudayaan lokal yang unik, dan keramahtamahan para penduduk di kepulauan ini. Meskipun para penduduk sudah banyak tersentuh arus modernisasi dan globalisasi, namun mereka tetap masih memegang prinsip-prinsip adat nenek moyang mereka yang masih banyak bisa kita jumpai disana.

Sebagai tim traveller yang memegang teguh prinsip Pancasila Metro Branded Traveller, Tim Ayakan Gajah merasa berkewajiban untuk mengunjungi daerah di timur Indonesia ini, sebelum daerah ini terlanjur “dijajah” oleh bangsa asing. Setelah browsing sana-sini, dan chatting sini-sana,  kita menemukan ada beberapa poin terkenal yang wajib dikunjungi. Untuk dive spot, kita wajib mengunjungi Wreckship P47Thunderbolt di Pulau Wai, pesawat yang jatuh pada pertempuran Pasifik di PDII. Ada pula taman laut Max Point yang terkenal dengan terumbu karang dan banyaknya ikan. Pulau Missol juga menawarkan dive-dive spot yang menawan. Dan juga ada Manta Point, yang terkenal dengan tempat Manta-manta yang bersahabat sering bermain, dan masih masih masih banyak lagi.

Untuk wisata nondiving, kita bisa sekedar berkunjung ke Perkampungan Sawinggkrai untuk melihat kehidupan adat setempat dan cantiknya burung cendrawasih. Pulau-pulau dengan pantai-pantai putih halus pun bisa menjadi menu keseharian yang harus kita masukan dalam jadwal liburan di Raja Ampat. Ada pula wisata perkampungan adat di Arborek, melihat kerajinan tangan penduduk setempat. Snorkling pun bisa kita lakukan dimana-mana, hampir di semua kawasan kepulauan Raja Ampat. Pulau Wayag di area barat dari Kepulauan Raja Ampat juga menawarkan pemandangan alam yang sangat menakjubkan

RAJA AMPAT : A piece of heaven in east of Indonesia

Tim Ayakan Gajah merencanakan akan mengunjungi Raja Ampat di awal tahun 2011 pada bulan Januari. Berhubung kali ini kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, maka kami merencanakan perjalanan ini dari 6 bulan sebelum keberangkatan.  Sehingga dari sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan, kami sudah memegang tiket pesawat di tangan. Dikarenakan kita pergi jauh ke Timur, maka kami tidak ingin melewatkan Ambon dari daftar singgah kami. Ambon sangat terkenal juga dengan keindahan alam pemandangan pulau-pulaunya dan alam bawah lautnya.

Untuk itu kami coba merencanakan perjalanan dengan jalur. Jakarta-Ambon (via Makasar) dengan pesawat Garuda Indonesia. Setelah singgah beberapa hari di Ambon, kami akan melanjutkan perjalanan dari Ambon ke Sorong memakai maskapai Wings Air. Untuk pulangnya ke Jakarta, kami melalui jalur Sorong-Manado (by Wings Air), untuk kemudian melanjutkan perjalanan Manado ke Jakarta (via Makassar) memakai maskapai kebanggaan nasional Garuda Indonesia. Untuk semua harga tiket tersebut, sudah kami dapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal, yaitu 3,4 juta saja.

Sebagai informasi saja, dari Jakarta – Ambon (total waktu trip incl transit adalah 4 jam). Ambon – Sorong (sekitar 1 jam). Sedangkan untuk Sorong – Manado ( 2 jam ). Manado – Jakarta ( total waktu trip incl transit adalah 4,5  jam ).

Raja Ampat……..tunggu kami dengan keindahan mu…..

Setelah penantian begitu panjang, sampailah Tim Ayakan Gajah di bumi

Papua. Saya sendiri, dengan ini resmi telah menjejakan kaki saya di 5 pulau besar Indonesia. Setelah tanah Jawa tempat saya lahir, berturut-turut saya telah menjejakan kaki di Sumatra pada saat saya duduk di bangku SMA, kemudian Kalimantan; sekitar 5 tahun lalu. Sulawesi, beberapa hari lalu, ketika saya transit dalam perjalanan saya ke Ambon. Dan kali ini tanah Papua, tanah paling timur di Indonesia. Buat seorang pencinta

Indonesia sejati; hal ini cukup membanggakan, mengingat tidak mudah bagi saya untuk bisa menjangkau semua ini. Alhamdulilah….

 

Kami tiba di Sorong pada pukul 11 siang, dengan sambutan matahari yang super duper panas. Saya bisa perkirakan bahwa suhu udara bisa mencapai lebih dari 40 derajat C., dengan tingkat terik yang cukup tinggi.  Iklim ini sangat berbeda dengan iklim di Ambon tempat singgah kami sebelum tiba di Papua. Iklim di Ambon relatif sejuk dengan matahari yang tidak terlalu terik. Namun demikian, hal ini sudah menjadi hal yang biasa buat para diver seperti kami. Ditempa terik matahari telah menjadi nama tengah kami. Kaca Cengdem dan Sunblock telah siap sedia di kantong kami.

suasana kota sorong

Semua akomodasi dan transportasi telah disiapkan buat kami, oleh tur guide lokal. Dikarenakan kapal feri penyebrangan ke Waigeo (ibukota kabupaten Raja Ampat) berangkat jam 14.00, sisa waktu ini kami gunakan untuk istirahat di hotel yang telah disiapkan; yaitu Hotel Mariat (bukan Marriot heheheh), hanya 10 menit berjarak dari bandara. Sepertinya hotel 6 lantai  ini termasuk hotel yang cukup ternama di Kota Sorong, terbukti dari foto-foto

Hotel Mariat Sorong

pak SBY yang pernah berkunjung di hotel ini.

Masa transisi ini kami isi dengan membeli segala keperluan-keperluan yang menjadi bekal kebutuhan-kebutuhan kami di Kepulauan nanti.  Snack, Soft Drink, Rokok, Susu merupakan barang-barang penting yang harus dibawa, dan tidak lupa juga untuk  isi pulsa telpon penuh bila perlu.  Adapun provider yang mumpuni di Kepulauan Raja Ampat hanyalah telkomsel dan indosat saja. Sebetulnya semua kebutuhan tersebut, sudah tersedia banyak di Kep. Raja Ampat, namun kami mengkhawatirkan mengenai mahalnya harga barang-barang disana.

Saya juga merekomendasikan untuk makan siang di restoran sederhana spesialis Bebek, 500 meter dari Hotel kami ke arah bandara; disebrang jalan. Eunaaaak tenan. Coba pesan menu Bebek Super Goreng. Mantab, dagingnya gurih, kulitnya kries-kries (aka garing), dan sambalnya; super enak. Saya bayangkan kalau warung ini buka di Jakarta, pasti sudah laris tenan. Sayang, saya tidak mencatat nama restorannya…..:(

Kota Sorong sendiri sebetulnya adalah ibukota dari Propinsi Papua Barat. Saya lihat kota ini cukup mampu menjaga kebersihan dari sampah-sampah. Saya juga lihat ketertiban para pengendara mobil maupun motor. Sayangnya panas terik berlebih sedang menimpa kota ini, ketika saya berkunjung dan membuat kami tidak bisa berlama-lama di udara luar. Supermarket-supermaket besar juga banyak terlihat disudut-sudut kota, bahkan karaoke Happy Puppy juga turut mewarnai dan meramaikan kota ini. Adapun komposisi penduduk kota Sorong adalah 50 persen penduduk asli Papua, 40 persen dari tanah Sulawesi, dan 10 persen lainnya adalah campuran dari Jawa, Sumatra dll.

Pukul 14 kurang 15 menit, kami keluar dari hotel untuk menuju Pelabuhan

“Kapal Cepat” Nyaman Sorong – Waigeo

Sorong. Cukup 5 menit untuk mencapai Pelabuhan Kota Sorong. Lumayan kaget juga ketika saya melihat bersihnya pelabuhan ini. Teringat pula akan kebersihan Pelabuhan Kapal di Labuan Bajo – Flores. Mungkin pelabuhan kapal yang kotor hanya ada di Jakarta dan Jawa ya…? Setelah turun dari mobil, kami langsung bergegas menuju Kapal Pengangkut yang sering mereka sebut Kapal Cepat. Kapal Cepat ini melayani pelayaran dari Kota Sorong ke Waigeo ( Kep Raja Ampat ). Jadwalnya hanya ada 1xsehari, yaitu jam 14.00.  Tarifnya tidak mahal, hanya Rp. 120.000,- saja. Yang membuat kami lebih kaget-nya lagi adalah, betapa bersih dan bagusnya kapal ini. Benar-benar diluar perkiraan kami. Belum lagi kemewahan-kemewahan kecil lainnya seperti pendingin AC yang berfungi optimal, jok terawat bersih dan empuk, pelayanan ABK kapal yang ramah dan membantu, dan last but not least….pemutaran Film Jadul dikapal, Dono Kasino Indro espisode Kasino jadi anak juragan bengkel ketok cat. (my favorite). Perfecto….!!!

Typical Cross in the Jungle at Raja Ampat

Hampir 3 jam kami melakukan perjalanan kapal yang menyenangkan.  Dewi dan Jo sibuk  menikmati sejuknya udara ac kapal. sedangkan  Cong-Li, Gengges and I, sibuk menikmati angin laut di dek atas, sembari sesekali melihat betapa indahnya dan bersihnya laut Papua. Sering juga kami temui kapal-kapal phinisi “liveaboard” yang unik dan mewah dan

Welcome to Raja Ampat

mengangkut para wisatawan asing turut mengarungi laut Papua. Setengah jam sebelum berlabuh di  Waigeo, kami disuguhi oleh atraksi pulau-pulau di Kepulauan Raja Ampat yang cantik. Pulau-pulau kecil ini tidak berbentuk datar, melainkan berbentuk bukit-bukit dengan hutan-hutan yang sangat lebat. Oh…indahnya Tanah Papua.

Tepat pukul 16.45, sampailah kami di Waisai-kota kecil pelabuhan di Pulau Waigeo. Di pelabuhan ini, kami hanya melihat satu buah kapal kayu cargo

Quite Harbour of Waisai Raja Ampat

bersandar diam. Hiruk pikuk para penjemput, supir ojek, dan porter mewaranai kedatangan kapal kami. Sebuah keramaian yang menyenangkan…I love it….Love it…!!! I really love it…!!!!

Hiruk Pikuk Pelabuhan Waisai

Waisai (view from hill)

Waisai adalah Kota kecil di Pulau Waigeo yang mana terdapat ibukota Kabupaten Raja Ampat. Pulau Waigeo sendiri adalah pulau yang terbesar di antara pulau-pulau lain di Kepulauan Raja Ampat. Disinilah semua perangkat kabupaten berkantor. Dari kantor bupati, sampai dengan kantor-kantor dinas semuanya berkumpul disini. Tanpa panjang-lebar lagi, kami langsung menuju ke hotel kecil di tengah kota yang sangat sepi, bila mengingat ini adalah ibukota kabupaten. Kami menginap di hotel sederhana 2 lantai bernama Hotel Maras Risen. Hotelnya cukup bersih dan berAC dengan kamar-kamarnya yang besar. Hotel ini bertarif cukup murah dan terjangkau. Namun sepertinya hotel ini konsepnya terlalu “nge-kota”, sangat kurang cocok dengan suasana kepulauan. Didekat kami ada hotel berkonsep cottage; yaitu hotel yang dikelola oleh Acropora meskipun sepertinya tarifnya agak sedikit lebih mahal.

Small Harbour at WTC-Waigeo

Setelah sebentar kami beristirahat, kami langsung menuju ke dermaga pantai di pantai WTC (entah apa kepanjangannya). Dermaga ini berbeda dengan dermaga kapal cepat yang tadi kami naiki, letaknya lebih ke arah barat dari Dermaga Waisai. Sebagai seorang fotografer, saya melihat dermaga dan pantai ini bisa menjadi objek foto yang bagus. Dermaga kecil berdek kayu ini memang tidak berbeda dengan dermaga-dermaga lainnya, namun perbedaannya adalah terletak pada latar belakang pemandangan alamnya yang indah. Laut biru bening, pasir putih, langit bersih menjelang senja, dan beberapa tambatan kapal-kapal nelayan…wuiiih, keren. Setelah puas mengambil beberapa foto,

WTC Beach

langsunglah kami menuju ke speed boat untuk menuju ke pulau kecil, Pulau Saunek Monde. Hanya 20 menit perjalanan, tibalah kami di pulau kecil tersebut.

Wooooowww, pulau kecil ini memiliki dermaga terbuka yang jauh lebih bagus. Pulau kecil ini sepertinya hanya dihuni oleh pohon-pohon besar, rapat, dan hijau. Disini kami menanti matahari terbenam di ufuk barat. Disinilah kami pertama kali melihat betapa beningnya laut papua. Dengan jelas kami bisa melihat batfish dan rainbow fish, bermain-main diseputaran tiang dermaga.Oh indahnya….

Beruntung hari ini hari yang cerah, sehingga kami bisa melihat bulatnya

matahari dengan nyaris sempurna, dipadu dengan komposisi warna dari langit bercampur-padu membentuk sebuah irama warna. Warna orange, merah, biru, dan abu dari komposisi langit sepertinya berlomba-lomba untuk menarik perhatian kami untuk memandangnya, dan tanpa mereka sadari, bahwa kombinasi diantara mereka-lah, yang membuat warna langit terlihat sempurna harmonis. Sebuah liburan yang menyenangkan, ketika kalian berjalan bersama teman-teman sembari   memandang kagum bersama akan ciptaan Tuhan.  Setelah terpesona dengan

Sunset over Papua

indahnya sunset di Papua, tidak lupa saya mengucap syukur atas rahmat Allah karena telah melangkahkan kaki ku di tanah Papua dan memanjakan mataku memandang matahari terbenam dari belahan paling timur dari tanah airku yang tercinta; Indonesia.

Sayang sekali, karena satu dan lain hal, trip kita di Raja Ampat hanya bisa berlangsung singkat, sedangkan Kepulauan Raja Ampat merupakan sebuah kawasan yang sangat-sangat luas untuk di jelajahi. Jadi rasanya sulit sekali untuk menjelajah Raja Ampat hanya sekali datang, apalagi kalau kita melakukan trip based on land. Trip based on liveaboard merupakan pilihan yang sangat cocok dilakukan untuk penjelajahan Kepulauan Raja Ampat, namun dikarenakan biayanya yang bisa berlipat ganda, membuat kita harus berpikir ulang.

Berikut ini beberapa tempat divespot di Raja Ampat yang kami kunjungi dan kami rekomendasikan untuk dikunjungi.

 

Manta Point

Posisi Manta Point adalah di bagian tengah agak ke barat sedikit dari Kepulauan Raja Ampat; persisnya disekitar Area Arborek, di Selat Dampier. Sebetulnya ada dua point Manta di area sini, sering kita kenal dengan Manta Sandy dan Manta Ridge. Kami mulai menyelam di Manta Sandy pada pukul 14.00 dengan diarahkan oleh seorang lokal diver guide kami. Penting bagi kita, untuk selalu dituntun oleh para local guide, karena merekalah yang paling paham akan situasi air dan tingkah laku para Manta tersebut. Agak sulit juga mencari titik Manta ini, sampai pada saat kami melihat Manta muncul dipermukaan, seolah ia berkata, “I’m here….I’m here…!!!!”

Di poin ini kami segera turun ke kedalaman sekitar 20 meter dan menunggu di sebuah area pasir putih yang tidak begitu luas.  Arus bawah cukup kencang di area sini, sehingga para diver disarankan membawa hook pada spot ini. Tak lama kita menunggu, kemudian kita dikagetkan dengan serombongan Manta yang  besar dan berjumlah 5 ekor. FANTASTIK!!!

Friendly Manta

Manta tersebut bisa berukuran lebar sayap ke sayap sampai dengan 5 meter dengan warna bawah badannya ada yang berwarna hitam dan putih. Yang kita bisa lakukan, hanya duduk manis di atas pasir sembari melihat manta-manta raksasa tersebut mengelilingi grup kita hanya dalam jarak kurang dari 3 meter saja! Mereka memang memakai area ini sebagai cleaning station dibantu oleh para butterflyfish. Visibility pada area ini seringkali tidak memuaskan, dengan jarak pandang sekitar 20 meter saja. Namun hal ini tetap tidak menghalangi kita menikmati keindahan kepakan sayap Manta.

Anehnya, Manta tersebut terkesan sangat-sangat friendly terhadap kita.

Beautiful Creatures

Mereka sepertinya tahu, bahwa kita sedang menonton mereka, sehingga dengan gagahnya mereka sengaja memperlihatkan keelokan gerakan mereka dengan kepakan sayapnya dan gerakannya yang halus. Sering kali mereka sengaja “terbang” tepat di atas kita hanya dalam jarak 2 meter membuat kita menjadi semakin terpesona akan keindahannya.

Dengan sisa udara di tabung kami, kami habis-habiskan untuk mencoba

White Manta

menghabiskan waktu yang tersisa dengan mengambil foto-foto narsis kami dengan latar belakang Manta. Setelah hampir 45 menit kami menonton atraksi mereka, tibalah kami untuk kembali ke atas melalui arah agak sedikit ke arah timur. Lucunya ketika kami menyelam dan mencoba naik ke permukaan, salah satu Manta terus mengikuti kita dari belakang dari jarak dekat, seolah mereka ingin memberi kita salam dan melepas kita pergi. What a friendly creature downhere….Perfect!”

P47Thunderbolt Wreckplane

 Spot dive ini terletak hanya 30 meter dari bibir pantai di Pulau Way yang

WAY BEACH !!!

sangat indah. Pulau Way sendiri merupakan pulau kecil datar dan memiliki pasir yang sangat putih, dengan pesisirnya ditumbuhi beberapa pohon seperti pohon pinus. Pemandangan dari Pulau Way sangatlah bagus, dengan pasirnya yang putih, laut biru dan terdapat sebuah rumah tradisional penduduk setempat. Kita menyiapkan segala dive gear di pulau ini, sembari berfoto-foto ria, tidak mau melewatkan tempat yang bagus ini.

Setelah siap semuanya, berangkatlah kita naik boat dengan jarak hanya 30

p47 thunderbolt from WWII

meter-an saja. Setelah menyelam sekitar 10 menit, barulah kita menemukan sebuah bangkai pesawat dalam posisi terbalik disebuah slope dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Dengan posisi kokpit dibawah (terbalik), pesawat ini bersandar di kedalaman 27 meter sampai dengan 34 meter, yang menandakan panjang pesawat ini dapat mencapai sekitar 15 meter, dengan rumus phytagoras.  Adapun rentang sayap pesawat dari ujung kiri ke kanan, juga sekitar 15 meter panjangnya. Pesawat P47 memang tipe pesawat fighter, namun ukurannya jauh lebih besar dari pesawat tipe fighter lainnya, sehingga membuat saya cukup terperangah ketika melihatnya pertama kali bersandar bisu diantara karang-karang.

Para diver, bahkan tidak sadar bahwa dia telah melihat sebuah bangkai

Wreckplane P47 @ 30 meters

pesawat, dikarenakan tubuhnya yang telah diselimuti sempurna oleh karang-karang perintis. Tetapi sebetulnya kita masih bisa melihat jelas bentuk baling-baling didepan, dan rentang panjang sayapnya, meski sudah mulai ditutup sempurna oleh karang-karang yang mulai

Wobegong Shark

menutupnya sejak pesawat ini jatuh pada Perang Dunia II sekitar tahun 1944. Visibility di area ini lumayan memuaskan , dengan jarak pandang sekitar 30 meter, dengan variasi vegetasi dan hewan yang tidak terlalu banyak, namun tetap dengan jumlah kuantitas yang tinggi seperti di area Raja Ampat lainnya. Beberapa kali kita juga menemukan Hiu Wobegong yang sedang berkamuflase di antara karang dan pasir.

Max/Mike’s Point

Banyak dive spot-dive spot di Raja Ampat, dinamakan sesuai dengan nama yang mempopulerkan area tersebut (bukan yang menemukan). Dan ironisnya, kebanyakan nama-nama tersebut bukanlah nama lokal, namun semuanya nama asing, seperti Mike’s Point, Edi’s Black Forest, Anita’s Garden, Melissa’s Garden, Alex’s Rock, Marit’s Mount, Andy’s Ultimate. Adapun nama Mike’s Point adalah nama anak dari sang pemopuler dari dive spot ini; yaitu ‘Max Ammer the dutchman’. Dive spot ini berjarak hanya beberapa meter saja dari Pulau Kerupiar, di area selat Dampier, masih dekat dengan Manta Sand

.

Sea Garden and Scholling Fish

sweetlips @Max Point

“ Sangat disayangkan bila diving di Raja Ampat, namun melewatkan Mike’s Point” begitu kata dive guide kami. Kata-katanya membuat kami penasaran dan nekat tetap nyelam meski arus atas yang cukup kencang. Betul saja, begitu kami tiba di spot tersebut, kami melihat banyak kapal lainnya dengan beberapa dive group juga sudah siap untuk

melakukan penyelaman. Backroll adalah cara entry point yang paling tepat

My First Shark @Max Point

di spot ini, dikarenakan arusnya yang tak menentu. Segera setelah melakukan penyelaman, langsunglah kita menemukan sebuah pemandangan bawah laut yang cukup menganggumkan.  Dalam kedalaman hanya 15 meter-an kita sudah bisa melihat hamparan datar

Ikan Sekolah (Schooling Fish

taman laut yang sangat luas. Berbagai macam terumbu karang tumbuh sangat rapat, tidak menyisakan sedikitpun ruang untuk benda lain. Ikan-ikan berwarna warni pun sangat ramai berkeliling, bermain, dan memamerkan keelokan warna di tubuhnya. Belum selesai rasa kagum kami, kami dikejutkan oleh lewatnya seekor hiu dengan ukuran sedang, panjang 2 meter. Dengan “ gaya renang kejutnya dan tatapan matanya”, hiu itu seolah ingin menandakan daerah

Wonderland @Max Point

kekuasaannya untuk tidak diganngu atau dilewati.  Selain hiu kita juga dapat dengan mudah menemukan wobegong, octopus kecil, nudibranch, udang-udang, sweetlips atau kita sebut ikan memble. Schooling fish dari beragai jenis ikan juga dapat dengan sangat mudah kita temui disini.

Sebetulnya Pulau ini memiliki sejarah unik tersendiri pada saat PD II. Pada

“Ship” Island @MAx Point

saat itu Pihak US mengira bahwa pulau ini adalah kapal laut Jepang, karena bentuknya yang mirip kapal dari udara, sehingga pihak US memborbardir habis pulau ini dan sekitarnya. Mungkin saja, karena bombardiran yang bertubi-tubi dari pihak US ini lah yang membuat gugusan pulau dan karangnya menjadi sebuah keindahan yang patut dinikmati.

Sebetulnya masih banyak lagi divespot-divespot yang mengagumkan disekitar Raja Ampat. Jumlahnya bisa mencapai hampir ratusan spot. Dan karena letaknya yang sangat tersebar dengan area yang sangat luas, maka jarang sekali kita bersua dengan kapal-kapal yang membawa rombongan diving. Berikut beberapa divespot-divespot lain, yang patut anda kunjungi :

–          Dive Spot di Area Wayag (arah barat Raja Ampat), disini selain menawarkan keindahan bawah laut yang sangat bervariatif spesiesnya, juga menawarkan pemandangan atas laut yang memukau.

–          Magic Rock ( Bag Island ) , terdapat gua batu dan sering ditemui schooling sweetlips.

–          Citrus Ridge ( Pulau Yanggefo ), menawarkan keindahan softcoral Raja Ampat yang luar biasa.

–          Potato Point ( Kalig Island ), disini kita dapat menemukan penyu-penyu berenang.

–          Baracuda ( Penemu Island ), schooling barracuda sering terlihat pada divespot ini.

–          Tomolol Cave ( area Missol Island ), temukan pengalaman dive unik dengan muncul dibawah gua tebing raksasa.

Bilamana anda ingin melakukan perjalanan diving di Raja Ampat, pastikan anda mempunyai buku yang berjudul “ Diving Indonesia’s Raja Ampat – The Planet’s Most Bio-Diver Reefs”, dengan pencipta Burt Jones dan Maurine Shimlock. Dibuku tersebut, kita bisa melihat data lengkap ratusan divespot-divespot di Raja Ampat, disertai dengan foto-foto berkelas dunia.

Rekomendasi

Hotel Maras Risen : 085244151010

 

Raja Ampat tidak hanya menawarkan wisata bawah laut saja. Bagi kawan-kawan yang ingin berwisata non-diving, kalian juga dapat menemukan hal-hal menakjubkan lainnya, yang tidak akan kalian temukan di tempat lain di Indonesia.

Raja Ampat menawarkan pemandangan pulau-pulau yang menakjubkan dan indah. Team kami sangat terpukau melihat jajaran-jajaran pulau di sini, dengan tipikal bukit-bukit berhutan lebat terbingkai oleh pasir-pasir putih dan lautnya yang jernih. Dengan hanya berkeliling-keliling memakai speedboat saja, kita sudah dapat menikmati 50 persen akan indahnya Kepulauan Raja Ampat.

 

Pulau Mangkur Kodon

Merenung Melihat Biru-nya Laut di Pantai Mangkur Kodon

Crytal Water @Mangkur Kodon

Pulau Mangkur Kodon terletak sekitar 1 jam arah barat bila memakai speedboat 2 engines. Pulau ini selalu menjadi basecamp kami sebelum melakukan diving. Kami sangat beruntung memakai pulau ini sebagai basecamp. Adapun pantai yang kami pakai sebagai basecamp adalah pantai arah Barat Pulau Mangkur Kodon. Entah apa artinya nama “Mangkur Kodon”, yang bagi kami sangat membingungkan untuk melafalkan namanya. Tetapi diluar “keanehan” namanya, pulau ini memukau kita dengan sajian pasirnya yang sangat putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih dan lembuuuuuuuuuuuuuuuuuuut. Belum pernah rasanya dalam hidup saya, saya merasakan pasir yang selembut sutra. Belum puas terpukau oleh pasirnya, kami dikejutkan lagi dengan airnya yang jernih dan dangkal. Bahkan saking dangkal dan jernuhnya perairan disini, kita juga bisa melihat dengan mata telanjang adanya karang yang menyatukan antara satu pulau dengan pulau lainnya. Disini juga terdapat 2 rumah traditional cottage yang disewakan oleh satu keluarga setempat, yang kabarnya juga merupakan investasi dari org eropa-sama seperti pulau-pulau lain yang sudah “terjajah” oleh para pengusaha asing.

Suasana Tenang Di Mangkur Kodon

Sunset @ Mangkur Kodon

Melihat sunset dari pulau ini, juga sama menakjubkan dengan melihatnya dari pulau-pulau lain di Raja Ampat. Setelah sunset berlalu, langit melakukan pertunjukan episode berikutnya, yaitu menaburkan jutaan bintang-bintang dengan latar belakang langit hitam bersih tanpa awan. Entah mengapa, disini bintang-bintang terasa bersinar lebih terang daripada bintang-bintang yang pernah saya lihat. Sekejap kemudian, kami pun sedang menatap tajam gugusan bintang-bintang tersebut…..Sekejap, saya mengerti mengapa bintang disini bersinar lebih terang….?  All that beauty…!

Pulau Way 

Tidak habis-habis rasanya menuliskan kata-kata tentang pasir putih dan laut jernih disini, karena ini juga yang terjadi di Pulau Way/Way Beach. Bagi kawan-kawan yang “gila foto” dan “gila di foto”, rasanya pulau ini sangat cocok jadi studio alam. Lekukan dan landainya pantai disini, menambah nilai plus dari lukisan alam yang ditawarkan, dan  sebuah rumah tradisional di bibir pantai juga dapat menjadi aksen kental akan keberadaan kita disebuah pulau yang masih cukup perawan….Mantab!

 

 

 

 

 

Burung Cendrawasih di Pulau Sawinggkrai

 

Stunning Sunrise @Sanggkriwai Village

Tim Ayakan Gajah dengan segala daya upaya yang dikerahkan, akhirnya berhasil bangun pagi jam 4.30 demi dapat melihat cantiknya burung cendrawasih yang terkenal. Untuk melihat burung cantik ini, kita harus sudah ada di Pulau Sawinggkrai paling tidak jam 6 pagi, karena burung ini akan hadir dan bermain selalu di pohon yang sama antara jam 6 s/d jam 7.

Kami tiba di dermaga Sawinggkrai sekitar jam 5.30. Ohhhh GOOOOD…… begitu kami turun dari kapal, kami bisa melihat INDAHNYA sunrise dari dermaga ini. Langit biru gelap, awan putih-abu, dan siluet dermaga….What a morning painting. Sulit rasanya melukiskan indahnya pagi itu, dengan ketikan kata-kata qwerty. Belum lagi kami melihat cendrawasih, …sudah terbayar rasanya bangun pagi kami. Terima kasih ya Allah…!

Setelah dari dermaga, kita harus melapor terlebih dahulu kepada tetua setempat yang memang sudah di konfirmasi sebelumnya, untuk mengatur pawang burung yang akan mengantar kami melihat burung cendrawasih. Untuk melihat cendrawasih tersebut, memang dibutuhkan pawang yang siap memancing burung-burung tersebut untuk bermain. Setelah diperkenalkan dengan pawang kami,  maka berjalanlah kami menuju ke tempat “gubuk pengamatan burung” yang terletak sekitar 15 menit berjalan kaki. Jalan yang kami lalui cukup menanjak yang cukup membuat nafas kami tersengal-sengal dan otot betis kami tertarik-tarik.

Sesampainya di sebuah pendopo pengamatan burung, segeralah kami duduk manis menunggu datangnya burung sembari mempersiapkan peralatan foto kami. Bekerjalah sang pawang memainkan bunyi-bunyi palsu untuk menarik perhatian sang cendrawasih atau yang sering disebut “red bird of paradise”.Tak lama kemudian, terdengar suara burung seperti suara bebek di sekeliling kami, lalu tak lama kemudian kami melihat burung2 cendrawasih

Red Bird of Paradise

berdatangan bermain dengan sesamanya di atas ketinggian pepohonan. Cantik nian… burung mungil, berwarna coklat muda kemerahan dengan kepala kuning, dengan cirri unik memiliki misai panjang dibuntutnya. Cantik….(meskipun dengan suaranya yang seperti bebek). Lucu sekali melihat mereka bermain-main dan bernyanyi….

Still Crystal Water at Fisherman Village of Sanggkriwai

Setelah puas mengamati dan melihat sang burung, kemudian kami kembali ke perkampungan di tepi dermaga. Perkampungannya memang terlihat sangat sederhana, namun kebersihan kampungnya sangat sangat terjaga, bahkan air pantai di sekitar dermaga tersebut terlihat sangat jernih, dan bening, dan kitapun dapat melihat schooling teri yang sangat banyak terlihat nyata. Kok bisa ya….?

Penduduk yang Ramah di Sangkriwai Village

Tidak lupa, kami  bercengkrama, berfoto dan berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Senang rasanya bisa bergabung bersama mereka yang sangat ramah dan welcome. Dan terlebih mereka terlihat sangat sejahtera dan dalam suasana senang, damai dan tentram. Inilah Indonesiaku sebenarnya…

 

 

Kepulauan Kabui

Extraordinary of Kabui

Kepulauan Kabui sendiri terletak didaerah waigeo barat. Di Kabui, kita dapat melihat kumpulan-kumpulan pulau-pulau kecil dengan bentuk yang aneh-aneh dalam jarak-jaraknya yang sangat dekat. Dengan memakai speedboat dengan kecepatan rendah, kita dapat mengelilingi, memutar-mutari, dan menelusuri diantara pulau-pulau tersebut. Terkadang kita akan menemukan

Air Tenang di Kabui

gua-gua kecil di bibir-bibir pulau tersebut. Selain indra penglihatan yang kita pakai, disini kita juga wajib memakai indra pendengaran kita. Karena pemandangan alam indah yang dapat kita lihat disini,  akan lebih terasa sempurna-bila kita juga dapat mendengarkan suara-suara burung bernyanyi, suara angin, dan suara gemericik air. Bahkan angin sepoi pun turut menambah suasana daerah ini menjadi lebih terasa tenang dan damai. Peace mannn…..

 

 

Wisata Snorkling

snorkling at Shallow Sea of Raja Ampat

Snorkling juga bisa dilakukan dibanyak area di Raja Ampat. Dengan kondisi geografisnya yang menarik, banyak area di Raja Ampat yang memiliki terumbu-terumbu karang di laut yang cukup dangkal. Beraneka ragam dan beraneka warna terumbu karang tumbuh dan tersebar si semua area disini, ditambah lagi dengan komunitas ikan nya yang sangat banyak berkumpul dan bermain di daerah tersebut. Max Point, Arborek, Kabui, Wayag, Wagmab, Missol biasanya menjadi tempat-tempat favorit para snorkeler untuk bisa memuaskan nafsunya bila ingin sekali “bersentuhan” dengan dunia bawah air. Dengan air-nya yang super jernih bak kaca kristal, snorkeling di raja ampat bisa menjadi pengalaman yang takkan terlupakan buat anda, namun sangat disarankan untuk memakai wetsuit full body pada waktu snorkeling, dikarenakan lumayan banyaknya ubur-ubur kecil pada musim2 tertentu yang cukup bisa membuat tubuh anda gatal-gatal.

Wayag Islands 

Incredible View of Wayag Islands

Must visit!! Inilah icon dari Raja Ampat! Bila kalian googling atau melihat liputan-liputan tentang Raja Ampat, Wayag Islandlah yang menjadi foto utamanya. Disini berkumpul pulau-pulau kecil dengan topografi yang unik; persis seperti di Kabui, namun ditambahkan dengan pantai-pantainya yang putih dan laut-lautnya yang dangkal. Its really-really beautiful dan peaceful

White Sand, Blue Crystal Water, and You

place to visit. Bila anda takjub melihat Maya Beach-Phi-Phi Island dengan pantainya yang putih, wait till u see this…… Kalau di Phi-Phi anda  akan lihat banyaknya bule-bule berkeliaran, disini anda hanya akan melihat diri anda sendiri di pantai ini. Yess, its true, its so quite. .…pantai ini belum tersentuh oleh peradaban dan kepariwisataan.Ya…Cuma ada pasir, laut dan anda….!

Setelah bersnorkling ria disini, sangat cocok bila anda mendaki salah satu bukit di Wayag Islands untuk melihat kumpulan-kumpulan pulau-pulau dari ketinggian sekitar 500 meter. Nice….

Ada banyak lagi wisata-wisata non diving di Raja Ampat yang tidak kalah menakjubkan yang anda harus alami disini, seperti melihat habitat Penyu di Sayang da Piai Islands, melihat perkampungan penduduk di Arborek, Sunset Bat di Mioskon atau Dayang Islands, Mendaki Gunung Pindito untuk melihat Kep Raja Ampat dari ketinggian lebih dari 1000 meter dpl, bermain kano di sekitar hutan bakau di Blue Water Mangrove, melihat Gua Purba di Tomolol Cave, atau habiskan malam di resort mewah di Misool Eco Resort.

Wuihhh,,,,, pengalaman menarik sangat banyak kami dapatkan disini, tidak cukup rasanya hanya sekali berkunjung ke Raja Ampat. Sedih rasanya kami harus meninggalkan dunia mimpi (yang ternyata bukan mimpi) di timur, untuk kembali ke kenyataan realita hidup di daerah Barat.

Sampai Jumpa Raja Ampat,

Ku tinggalkan jejakku di pantai mu,

Dan ku kan kembali untuk ambil sisa hatiku yang tertinggal

Indonesiaku Indah…

Rekomendasi :

Tour Guide Lokal : Rudi : 081298330213