Setelah penantian begitu panjang, sampailah Tim Ayakan Gajah di bumi

Papua. Saya sendiri, dengan ini resmi telah menjejakan kaki saya di 5 pulau besar Indonesia. Setelah tanah Jawa tempat saya lahir, berturut-turut saya telah menjejakan kaki di Sumatra pada saat saya duduk di bangku SMA, kemudian Kalimantan; sekitar 5 tahun lalu. Sulawesi, beberapa hari lalu, ketika saya transit dalam perjalanan saya ke Ambon. Dan kali ini tanah Papua, tanah paling timur di Indonesia. Buat seorang pencinta

Indonesia sejati; hal ini cukup membanggakan, mengingat tidak mudah bagi saya untuk bisa menjangkau semua ini. Alhamdulilah….

 

Kami tiba di Sorong pada pukul 11 siang, dengan sambutan matahari yang super duper panas. Saya bisa perkirakan bahwa suhu udara bisa mencapai lebih dari 40 derajat C., dengan tingkat terik yang cukup tinggi.  Iklim ini sangat berbeda dengan iklim di Ambon tempat singgah kami sebelum tiba di Papua. Iklim di Ambon relatif sejuk dengan matahari yang tidak terlalu terik. Namun demikian, hal ini sudah menjadi hal yang biasa buat para diver seperti kami. Ditempa terik matahari telah menjadi nama tengah kami. Kaca Cengdem dan Sunblock telah siap sedia di kantong kami.

suasana kota sorong

Semua akomodasi dan transportasi telah disiapkan buat kami, oleh tur guide lokal. Dikarenakan kapal feri penyebrangan ke Waigeo (ibukota kabupaten Raja Ampat) berangkat jam 14.00, sisa waktu ini kami gunakan untuk istirahat di hotel yang telah disiapkan; yaitu Hotel Mariat (bukan Marriot heheheh), hanya 10 menit berjarak dari bandara. Sepertinya hotel 6 lantai  ini termasuk hotel yang cukup ternama di Kota Sorong, terbukti dari foto-foto

Hotel Mariat Sorong

pak SBY yang pernah berkunjung di hotel ini.

Masa transisi ini kami isi dengan membeli segala keperluan-keperluan yang menjadi bekal kebutuhan-kebutuhan kami di Kepulauan nanti.  Snack, Soft Drink, Rokok, Susu merupakan barang-barang penting yang harus dibawa, dan tidak lupa juga untuk  isi pulsa telpon penuh bila perlu.  Adapun provider yang mumpuni di Kepulauan Raja Ampat hanyalah telkomsel dan indosat saja. Sebetulnya semua kebutuhan tersebut, sudah tersedia banyak di Kep. Raja Ampat, namun kami mengkhawatirkan mengenai mahalnya harga barang-barang disana.

Saya juga merekomendasikan untuk makan siang di restoran sederhana spesialis Bebek, 500 meter dari Hotel kami ke arah bandara; disebrang jalan. Eunaaaak tenan. Coba pesan menu Bebek Super Goreng. Mantab, dagingnya gurih, kulitnya kries-kries (aka garing), dan sambalnya; super enak. Saya bayangkan kalau warung ini buka di Jakarta, pasti sudah laris tenan. Sayang, saya tidak mencatat nama restorannya…..:(

Kota Sorong sendiri sebetulnya adalah ibukota dari Propinsi Papua Barat. Saya lihat kota ini cukup mampu menjaga kebersihan dari sampah-sampah. Saya juga lihat ketertiban para pengendara mobil maupun motor. Sayangnya panas terik berlebih sedang menimpa kota ini, ketika saya berkunjung dan membuat kami tidak bisa berlama-lama di udara luar. Supermarket-supermaket besar juga banyak terlihat disudut-sudut kota, bahkan karaoke Happy Puppy juga turut mewarnai dan meramaikan kota ini. Adapun komposisi penduduk kota Sorong adalah 50 persen penduduk asli Papua, 40 persen dari tanah Sulawesi, dan 10 persen lainnya adalah campuran dari Jawa, Sumatra dll.

Pukul 14 kurang 15 menit, kami keluar dari hotel untuk menuju Pelabuhan

“Kapal Cepat” Nyaman Sorong – Waigeo

Sorong. Cukup 5 menit untuk mencapai Pelabuhan Kota Sorong. Lumayan kaget juga ketika saya melihat bersihnya pelabuhan ini. Teringat pula akan kebersihan Pelabuhan Kapal di Labuan Bajo – Flores. Mungkin pelabuhan kapal yang kotor hanya ada di Jakarta dan Jawa ya…? Setelah turun dari mobil, kami langsung bergegas menuju Kapal Pengangkut yang sering mereka sebut Kapal Cepat. Kapal Cepat ini melayani pelayaran dari Kota Sorong ke Waigeo ( Kep Raja Ampat ). Jadwalnya hanya ada 1xsehari, yaitu jam 14.00.  Tarifnya tidak mahal, hanya Rp. 120.000,- saja. Yang membuat kami lebih kaget-nya lagi adalah, betapa bersih dan bagusnya kapal ini. Benar-benar diluar perkiraan kami. Belum lagi kemewahan-kemewahan kecil lainnya seperti pendingin AC yang berfungi optimal, jok terawat bersih dan empuk, pelayanan ABK kapal yang ramah dan membantu, dan last but not least….pemutaran Film Jadul dikapal, Dono Kasino Indro espisode Kasino jadi anak juragan bengkel ketok cat. (my favorite). Perfecto….!!!

Typical Cross in the Jungle at Raja Ampat

Hampir 3 jam kami melakukan perjalanan kapal yang menyenangkan.  Dewi dan Jo sibuk  menikmati sejuknya udara ac kapal. sedangkan  Cong-Li, Gengges and I, sibuk menikmati angin laut di dek atas, sembari sesekali melihat betapa indahnya dan bersihnya laut Papua. Sering juga kami temui kapal-kapal phinisi “liveaboard” yang unik dan mewah dan

Welcome to Raja Ampat

mengangkut para wisatawan asing turut mengarungi laut Papua. Setengah jam sebelum berlabuh di  Waigeo, kami disuguhi oleh atraksi pulau-pulau di Kepulauan Raja Ampat yang cantik. Pulau-pulau kecil ini tidak berbentuk datar, melainkan berbentuk bukit-bukit dengan hutan-hutan yang sangat lebat. Oh…indahnya Tanah Papua.

Tepat pukul 16.45, sampailah kami di Waisai-kota kecil pelabuhan di Pulau Waigeo. Di pelabuhan ini, kami hanya melihat satu buah kapal kayu cargo

Quite Harbour of Waisai Raja Ampat

bersandar diam. Hiruk pikuk para penjemput, supir ojek, dan porter mewaranai kedatangan kapal kami. Sebuah keramaian yang menyenangkan…I love it….Love it…!!! I really love it…!!!!

Hiruk Pikuk Pelabuhan Waisai