Saya berkunjung ke Gili Trawangan Lombok 2x. Pertama kali, berkunjung pada tahun 2001, dan terakhir kali berkunjung pada tahun 2010. Banyak perbedaan yang saya rasakan dari dua kali kunjungan saya yang  terpaut waktu 9 tahun. Pada tahun 2001, Gili Trawangan jelas belum terlalu ramai seperti pada kunjungan saya di tahun 2010. Pada tahun 2001, Gili T (begitu orang bule menyebutnya), masih belum banyak restoran/café-café dan hotel-hotelnya. Wisatawan bule-nya pun belum terlalu banyak. Awalnya Gili T dikenal sebagai base-camp para diver untuk menjelajahi alam bawah laut sekitar perairan Tiga Gili ( Gili Air, Gili T, Gili Meno). Diver mengenal perairan disini sebagai perairan yang memiliki kejernihan air yang bagus, terumbu karangnya yang terjaga, dan beberapa binatang unik yang hidup disini, seperti Hiu dan penyu. 3 Gili tersebut juga terkenal dengan pantai nya yang putih, lembut dan cukup “terasing” dari peradaban.

Pada tahun 2001, wisatawan yang berkunjung di Gili jelas didominasi oleh para diver. Ini bisa dilihat dari para wisatawannya yang berusia muda, dan hampir semua hotel menyediakan fasilitas-fasilitas untuk para diver, seperti jemuran wetsuit, bak air, dll, dll. Hotel-hotel dan restoran-restorannya pun masih didominasi oleh hotel/restoran kelas menengah. Meskipun pada saat itu penduduknya lebih didominasi oleh para wisatawan asing, namun Gili T belum terlalu terlihat hingar bingar seperti sekarang.

Namun ketika saya berkunjung kembali ke Gili T 9 tahun kemudian bersama kawan-kawan sableng gendeng Ayakan Gajah, saya cukup surprise dengan keadaan Gili T sekarang. Perkembangan kepariwisataan di daerah ini sangat pesat, seiring dengan perkembangan daerah Bali yang sudah cukup jenuh. Hotel-hotel mewah; seperti Villa Ombak, sampai dengan cottage super mewah sudah betebaran di daerah pesisir pantai Gili T, hotel-hotel kelas backpacker dan kelas menengah pun terlihat jelas meningkat tajam jumlahnya hampir 3x lipatnya. Kalau dulu hanya Gili T bagian timur (dekat dermaga) yang dipenuhi oleh hotel atau keramaian, sekarang hampir sekeliling Gili T sudah menyebar hotel-hotel dan pusat-pusat keramaian. Bahkan Gili bagian Barat pun sudah terlihat beberapa hotel kelas menegah ke atas yang diperuntukan untuk para wisatawan yang ingin menyepi.

Dilihat dari komposisi para wisatawan pun, jelas terlihat, meskipun masih didominasi oleh para diver, namun wisatawan non diver pun banyak terlihat lalu-lalang di Gili T. Banyak pasangan honey moon, anak-anak, keluarga, orang tua turut menikmati keindahan alam Gili T dan sekitarnya. Tapi dominasi wisatawan asing disini masih sangat terlihat. Mungkin komposisinya 25 persen adalah untuk penduduk lokal, pekerja lokal dan wisatawan lokal, sisa 75 persen adalah para wisatawan asing dan pekerja asing. Komposisi ini jelas bisa terlihat dijalan-jalan, restoran-restoran, café-café atau penghuni hotel-hotel. Bahkan banyak hotel-hotel/café-café memperkerjakan pekerja asing sebagai GM, koki, resepsionis, bahkan waitress. Memang mayoritas pemilik dari property disini; baik hotel, café, ataupun dive center adalah orang-orang asing. Makanya dalam tulisan ini saya berikan judul “Are We Still in Indonesia…?” karena sepertinya orang Indonesia disini malah terasa menjadi orang asing.

Untuk penginapan disini, ada Villa Ombak yang berharga 500 ribu – 1,2 jutaan, yang sangat cocok dengan wisatawan honey moon/keluarga. Ada juga cotaage yang berkonsep boutique yang bisa berharga 2,5 jutaan semalam. Penginapan untuk kelas dibawah 500 ribu banyak betebaran juga di Gili T, seperti Dream Diver tempat pasukan Ayakan Gajah menginap kali ini. Sedangkan untuk cari makan, juga ada restoran-restoran mewah/café-cafe di Gili T bagian Timur; dekat Villa Ombak, ada juga warung-warung pujasera outdoor yang sangat murah meriah (dekat dermaga), dan anehnya pengunjung warung-warung murah ini pun masih didominasi oleh bule-bule asing.

Gili T bisa dicapai baik dari Pulau Lombok maupun dari Tanjung Benoa (Bali). Kalau dari Pulau Lombok, ada 2 pilihan boat yang bisa mencapai Gili T. Bila anda naik kapal rakyat, cukup merogoh kocek 10 ribu saja untuk bisa mencapai Gili T dari pelabuhan Bangsal dalam 1 jam. Namun pelabuhan ini akan tutup jam 4 sore. Dan bila anda ingin mencari boat yang lebih ekslusif, cepat dan 24 jam, anda bisa memakai speedboat milik Villa Air (tetap diperuntukan untuk umum). Dengan harga 100 ribu/org, anda akan bisa mencapai Gili T dalam setengah jam saja. Adapun pelabuhannya tidak di pelabuhan Bangsal, namun langsung dari pelabuhan kecil milik Villa Ombak  di Teluk Kodek.

Namun para wisatawan asing, kebanyakan mengambil boat langsung dari Tanjung Benoa (Bali), untuk menuju ke Gili T. Dengan dana sekitar 400 ribuan, dalam waktu sekitar 2 jam-an, anda sudah dapat menjejakan kaki di Gili T.

Bila anda seorang diver, banyak spot-spot bagus nan menawan di sekitaran 3 Gili. Banyak pula betebaran diving center di Gili T, jadi anda tidak usah khawatir akan minimnya sarana disini. Beberapa diving center yang cukup ternama disini adalah Budha Dive dan Dream Diver (semua milik warga asing).

Beberapa spot dive yang banyak dikunjungi dan terkenal disini adalah Manta Point, Letaknya di barat Gili Trawangan, kalau dari Gili Air sekitar 20 mnt naik perahu. Visibility hampir dipastikan diatas 20 meter, healthy soft corall, terumbu yang rapat flutemouth, anglefish, boxfish, Moray eel., dan kadang bisa ketemu manta dan shark disini.

Kemudian ada Hans Reef: Lokasi utara Gili Air, kl 5mnt naik boat dari Gili air. Visibility ciamiikk, abundance reef fishes, Moray eel, garden eel, lionfish, mantis shrimp, stonefish/scorpion fish, giant red grouper, giant sea cucumber.

Atau kalau berani, bisa coba SharkPoint : Lokasi di sebelah barat daya Gili Trawangan, sekitar 20mnt dari Gili Air, bisa ketemu segerombolan Bumphead Parrotfish, bisa ketemu octopus, penyu dan hiu tentunya.

Dan bila anda bukan diver, tidak usah khawatir akan kekurangan hiburan disini. Anda bisa mengambil paket snorkeling ½ hari disini. Dengan hanya 75 ribu saja (untuk orang lokal), anda sudah bisa mendapatkan snorkeling di daerah Gili Air, melihat penyu-penyu berenang, dan makan siang ala cottage di pinggir pantai di Gili Air/Gili Meno. Pemandangan snorkeling disini cukup bisa membuat saya takjub akan kejernihan airnya, terpeliharanya terumbu-terumbu karang, banyaknya ikan-ikan kecil, dan cukup mudahnya ditemukan atraksi penyu-penyu berenang mengarungi lautan. Dan semua ini cukup bisa kita dapatkan di perairan dangkal sekitar 5 meter saja. Jangan pula lewatkan berenang, atau sekedar bermain air di pantai Gili T, pasirnya yang lembut dan airnya yang jernih-bersih memberikan nuansa tersendiri pada liburan di Gili yang letaknya paling barat diantara 2 gili lain

Kalaupun anda alergi air laut, anda juga bisa berolahraga pagi jogging berkeliling pulau dengan panjang total sekitar 4-6 km sembari menikmati keindahan Pulau Gili T.  Bagi yang suka bersepeda, temukan tantangan mengeliling pulau Gili T bersepeda di jalan berpasir yang cukup bisa membuat betis anda kenyot-kenyot. Anda bisa menyewa sepeda di bike rental yang tersebar disini dengan harga 25 ribu/hari (khusus utk lokal dan harus nawar gila-gilaan). Anda juga bisa naik “delman istimewa – tidak duduk dimuka” untuk bisa mengelilingi Gili T tanpa betis kenyot-kenyot dan keringat membasahi tubuh anda. Namun untuk yang satu ini, anda lumayan harus merogoh kocek banyak. Biaya untuk keliling pulau dengan cidomo (nama delman di sini) bisa mencapai sekitar 500 ribu untuk sekitar 1 rombongan/4 orang. Disini juga bisa menyewa kuda australi untuk ditunggangi dengan harga sekitar 350 ribu/1 atau 2 jam. Sekedar informasi, di Gili T, semua kendaraan bermotor dan berbensin dilarang ada di pulau ini, sehingga bisa dibayangkan betapa murni udara yang bisa kita hirup di sana.

Bila anda orang yang malas, Gili T juga menawarkan banyak tempat untuk bermalas-malasan atau sekedar bersantai. Bersantai di beranda teras hotel sambil memandang lautan, bersantai di pinggir kolam renang hotel, atau bersantai langsung di kursi-kursi malas langsung di tepi lautan menjadi pilihan yang banyak diambil oleh para wisatawan disini. Disini juga ditawarkan sewa film dan langsung tonton di tv 21 inch untuk 2 seat di bilik kecil, langsung dipinggir pantai ditemani oleh semilir angin pantai. Villa Ombak juga memutar film-film box office tiap malam di layar besar bak layar tancap, bila kita ingin menonton rame-rame bersama kawan-kawan.

Dengan luas pulau hanya sebesar 1/3 kelurahan di Jakarta, Gili T masih menawarkan beberapa hal lain,. Bagi anda pecinta fotografi, Gili T juga menawarkan cukup banyak obyek-obyek indah dan unik untuk bisa diabadikan. Pasir putih dan langit biru sering dijadikan objek bagi para pecinta fotografi pada pagi hari. Ornamen-ornamen atau sekedar gazebo hotel di pantai, juga dapat menambah nilai estetika dalam lembar fotografi. Sunset café yang bernuansa kayu, juga sering dijadikan para penggemar fotografi  untuk memotret model-model wanita cantik. Mengabadikan sunset di Sunset Bar Outdoor, dengan latar Gunung Agung Bali menjadi klimaks bagi para fotografi mania di pulau kecil ini. Selain para fotografer, sunset Bar Outdoor selalu menjadi tempat para wisatawan asing berkumpul pada sore hari, sembari bercengkrama menunggu tenggelamnya matahari di balik punggung Gunung Agung.

Aneh memang…, dari pulau sekecil itu, bisa menawarkan begitu banyak hiburan dan keindahan alam yang luar biasa. Gili T bisa menjadi pilihan alternative liburan yang sangat menarik dan tidak membosankan, bila kalian ingin liburan tidak hanya sekedar Bali dan Lombok (main island).  Dan semua keindahan ini memang hanya bisa terjadi di bumi Indonesia, bumi yang selalu aku cintai, banggakan, dan rindukan…