Diving di Togean sebetulnya tidak termasuk dari salah satu destinasi prioritas yang masuk dalam list plan tripku. Kenapa tidak Togean,?? Karena selama ini nama Togean masih kurang terdengar dibanding destinasi lain seperti Derawan, Morotai, Banda, atau Alor yang belum pernah saya kunjungi.  Dan akses tranportasi ke Togean memang masih sangat terbatas, hal itulah yang membuat saya berfikir ulang.  Cuma apa daya, karena bujuk rayu beberapa teman divingku dari Jakarta Ocean Dive dan teman dari BullShark Dive-Gorontalo, akhirnya saya memutuskan akan melakukan perjalanan beberapa hari ke TOGEANpada bulan Agustus 2011.

Teluk Tomini

Setelah rencana disusun matang, akhirnya kami berangkat di suatu hari di bulan Agustus dengan rombongan berjumlah 9 orang dari Jakarta dan 1 orang langsung dari Gorontalo.

Kalau dilihat dari peta, untuk ke Togean bisa dicapai dengan beberapa alternative.

  1. Alternatif 1 : Jakarta – Gorontalo – Togean
  2. Alternatif 2 : Jakarta – Gorontalo – Bumbulan – Togean
  3. Alternatif 3 : Jakarta – Palu – Ampana – Togean

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing alternative perjalanan. Disini kita hanya memilih, untuk lama jalan di darat atau lama jalan di laut. Berhubung memang kita anak laut, akhirnya kita memilih alternative 1.

PERJALANAN KE TOGEAN

Kami memakai pesawat Lion dan mendarat di bandara kecil di  Gorontalo pada siang hari yang sangat terik. Ini pertamakalinya saya menjejakan kaki di tanah Gorontalo. Saya tidak melihat keistimewaan di kota Gorontalo ketika dalam perjalanan saya menuju ke hotel dari bandara, namun demikian saya lihat kebersihan kota Gorontalo yang cukup terjaga, dan sepinya kota Gorontalo pada siang hari itu, yang mungkin masih dalam suasana lebaran. Bagi saya Gorontalo hanya identik dengan Briptu Norman dan Fadel Muhammad, tidak lebih dari itu. Tidak banyak hal lain yang saya tahu mengenai kota Gorontalo., meskipun akhir-akhir ini saya banyak dengar tentang keindahan alam bawah laut Gorontalo yang luar biasa, terutama dengan “Salvador Dali” nya yang hanya ada satu-satunya di dunia.

” Menara Eiffel ” Gorontalo

Dalam perjalanan menuju hotel, kami melewati bangunan seperti menara Eiffel berwarna hijau dan  cukup menarik juga, mengamati bangunan itu. Saya melihat tangga panjang untuk menuju ke puncak menara, mungkin dari puncak menara kita dapat melihat keseluruhan Kota Gorontalo. Tetapi karena kami masih merasa lelah dari perjalanan panjang di pesawat, dan cuaca yang sangat terik, kami menyimpan dulu keinginan kami untuk naik ke puncak menara.Dan setelah perjalanan sekitar 30 menitan, sampailah kamidi Hotel Grrand City, di tengah kota Gorontalo. Meskipun bukan hotel besar dan hotel ternama,  hotel ini cukup bersih dan nyaman.

Kami hanya menggunakan hotel ini untuk

Bentor Gorontalo

beristirahat sejenak, karena dijadwalkan kami harus ke pelabuhan untuk berangkat ke Kepulauan Togean sekitar jam 7 malam. Karena hari masih panjang, kami gunakan juga waktu yang tersisa untuk sekedar mencari makan di pusat pertokoan yang terdapat di dekat hotel.  Kami menumpang angkutan yang disebut Bentor ( Becak Motor), yaitu motor yang dimodifikasi menjadi seperti becak supaya bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Setelah waktunya tiba , berangkatlah kami ke pelabuhan yang berjarak hanya

Grand City Hotel Gorontalo

20 menit dari hotel. Meskipun kecil, sepertinya ini memang pelabuhan utama di Gorontalo. Karena selain kapal-kapal kecil, saya juga melihat ada 1 kapal cargo besar dan 1 kapal feri yang cukup besar sedang berlabuh . Namun pelabuhan disini sepertinya tidak dalam area tersendiri, namun kapal-kapal ini bersandar di laut yang langsung ada dipinggir jalan trans penghubung.

Kami dijanjikan, bisa tiba di Kepulauan Togean dalam 9 jam memakai kapal kayu yang cukup kecil untuk bisa menampung kami. Selain 9 orang dari grup kami, ada juga kapten kapal, crew, dan seorang DM yang ikut kami. Jadi total ada 13 orang yang ada di kapal kecil ini. Tepat pukul 9 malam kami berangkat menuju ke Kepulaun Togean. Memang disarankan kami berangkat malam hari, karena pada saat itu, malam hari adalah waktu yang paing bersahabat untuk kami dapat menuju ke Kep. Togean.

Dengan anggota grup yang cukup ceria dan bersahabat, kami mengarungi Teluk Tomini dengan penuh canda dan tawa untuk mengusir kebosanan akan waktu. Ombak pun cukup tenang, meski kami sempat di terpa hujan. Kemudian kami dikejutkan dengan kedatangan sekelompok lumba-lumba yang mengiringi dan mengelilingi kapal kami pada tengah malam. Sektiar 1 jam sekelompok lumba-lumba tersebut melakukan atraksi melompat-lompat di sekeliling kapal kami, seperti mereka ingin berusaha untuk menunjukan eksistensi mereka  dan menghibur kami. Inilah makluk Tuhan yang sangat menakjubkan.

Pulau Una Una

Dengan estimasi 9 jam, dijadwalkan kami  bisa merapat di Kepulau Togean pada pukul 6 pagi. Namun pada saat waktunya tiba, ternyata kami belum melihat sama sekali ada kepulauan disekitar kami. Radar pun menujukan bahwa pulau terdekat masih berjarak sekitar 2 jam jauhnya, padahal kami tidak mengalami rintangan atau hambatan dalam perjalanan.

Tepat pada pukul 7 pagi kami mulai melihat pulau dari kejauhan. Pulau Una-Una namanya. Makin mendekat kami melihat keindahan bentuk pada pulau ini. Pulau ini seperti pulau yang lebar, dengan bukit ditengahnya, pulau inipun sepertinya tidak berpenghuni, karena ditutupi oleh lebatnya pohon-pohon, Kami juga melihat garis pantai mengelilingi pulau ini. Nice..

Kami memang merencanakan untuk diving di dekat pulau ini, sudah tidak sabar rasanya kami untuk sekedar bisa terjun dan mencicipi basahnya dan birunya air laut, setelah 11 jam kami berlumut di kapal.  Kemudian kami membuang jangkar dengan jarak sekitar 300 meter dari bibir pantai Pulau Una-Una, dan mempersiapkan diving gear kami.

 

Barracuda Point/Pinaccle Point

DM Togean menyebut nama spotnya adalah Baracuda Point/Pinaccle Point.

Terumbu dengan mini thoby

Segera setelah kami menyelam, kami langsung melihat schooling barracuda lewat di depan kami, sesuai namanya. Dan kami cukup disuguhkan atraksi-atraksi lain yang cukup menghibur.  Dengan visibility 20-25 meter, kami melihat sekelompok bump head berenang dengan santainya sembari mencari makan di antara terumbu-terumbu. Kami juga mempergoki schooling jack fish yang berenang kesana kemari untuk menarik perhatian para diver. Meskipun tidak ada keistimewaan pada terumbu karangnya, namun saya melihat mereka tumbuh dengan suburnya dengan cahaya matahari yang cukup.  Di kedalaman 20-30 meter, kami juga melihat banyak-banyak sekali mini thoby yang berenang seperti layaknya sperma berenang menuju indung telur.

 

 

 

 

California Dream Point

Sebelum menuju pulau Kadidiri, tempat kami menginap, kami mampir sekali lagi di California Dream Point, kurang lebih berjarak ½ jam dari tempat kita diving sebelumnya. Di spot ini visibilitynya tidak lebih baik dari spot sebelumnya, namun kami masih bisa melihat bahwa terumbu disini jauh lebih menarik dan padat dari spot sebelumnya. Kami juga masih banyak menemukan banyak bump head berenang di perairan ini. Yang paling membuat saya terkejut adalah banyaknya sekali mini thoby yang ada di perairan ini. Jumlahnya berlipat-lipat kali dari mini thoby yang kami temukan di spot sebelumnya.

Kadidiri Island

Keindahan Pulau Kadidiri

Setelah menyelesaikan 2 agenda penyelaman, kami langsung menuju ke Pulau Kadidiri, pulau tempat kami akan menginap selama di Kepulauan Togean.  Setelah 1,5 jam perjalanan , sekitar pukul 3 sore, Pulau Kadidiri mulai menampakan diri. Oh indahnya pulau ini !!!!!! Dari kejauhan kami melihat garis pantai yang bersih, beberapa gunung karang yang menjulang, dermaga yang menjorok ke laut, dan beberapa cottage tradisional yang sangat menawan.

Melihat gunung-gunung karang itu pun saya teringat pemandangan alam

Punggung Pulau Kadidiri

Halong Bay ataupun gugusan pulau di Phuket. So amazing, bagaimana kami bisa menemukan keindahan pulau yang memukau setelah hampir 1 hari kami mengarungi lautan.  Saya pun terheran bagaimana nama Togean masih kurang terdengar dalam peta pariwisata Indonesia, setelah kami terpukau oleh keindahan pulau ini. Tidak heran, dengan keindahan pulau ini, semua cottge pariwisata bermarkasi di pulau ini,, dan makin kami mendekat ke teluk di Pulau Kadidiri, makin terlihat jernih air laut nya sampai kita bisa melihat terumbu karang yang berkedalaman sekitar 5-10 meter.

Dikarenakan banyaknya terumbu karang, kapal kami tidak bisa sampai merapat

Jernihnya Air Togean

ke bibir pantai Pulau Kadidiri, sehingga kapal terpaksa harus membuang jangkar 200 meter dari pantai. Dengan tidak sabarnya melihat keindahan pulau itu, kampipun segera terjun ke laut dan berenang menuju langsung ke pulau. Sedangkan semua barang dan perlengkapan kami ditransfer melalui sampan kecil milik penginapan.

Setelah terkejut-kejut dengan keindahan pulau ini, saya pun dikejutkan oleh hal lain dari pulau ini. Dengan anggapan bahwa pulau ini cukup terpencil, saya tidak berharap banyak bahwa akan ada banyak turis di pulau ini. Namun kenyataan berbicara lain, saya dikejutkan dengan banyaknya turis yang menginap di 3 penginapan di hotel ini. Dan tidak ada satupun yang turis local, selain rombongan kami. Semua turis yang kami temui di pulau ini, adalah turis bule dari Negara Eropa dan Amerika. Woowwww…. Bagaimana bisa pulau terpencil ini sudah dibanjiri oleh turis Eropa ya???  Dari 3 penginapan yang ada dipulau ini, salah satunya adalah milik pengusaha dari Prancis, sedangkan 2 penginapan lain milik warga Makasar dan warga Togean sendiri.

Afternoon Kadidiri Beach

Kamipun memilih penginapan yang paling sederhana dari 2 penginapan lainnya, yaitu milik warga Togean sendiri (katanya). Penginapannya memang benar-benar sederhana, Cottage-nya dibangun dari bilik kayu dan anyaman kayu sebagai dindingnya dan alang-alang atap sebagai peneduhnya.  WC-nya pun, adalah wc dengan pemakaian bersama.  Ada sekitar 4 cottage yang tersedia, dengan masing2 cottage memiliki 2 bilik kamar.  Jadi ada total 8 bilik kamar yang tersedia, dan sebuah fasilitas restoran sederhana  yang menghadap pantai.  Dengan harga 100 ribu/orang/malam (incl breakfast, dan dinner), kami tidak bisa mengharapkan kasur yang bersih di penginapan ini.  Untunglah kami sudah berbekal sarung tambahan sekedar untuk melapisi sprei dari penginapan yang terlihat agak kurang bersih. Namun dengan segala keterbatasan itu, kami benar-benar merasakan jadi anak pulau yang sesungguhnya yang hidup di daerah terpencil. Keindahan pulau dan pantainya pun tetap menjadi atraksi dari penginapan yang sederhana ini.

Kadidiri Beach

Penginapan yang cukup mewah di pulau ini dimiliki oleh warga Makasar dengan nama Kadidiri Paradise Dive Resort. Untuk ukuran penginapan dipulau terpencil, penginapan ini cukup membuat saya terpukau. Mereka memiliki dive center dan dermaga panjang sendiri. Bangunan restoran dan lobby nya pun cukup megah berdiri ditengah-tengah cottage-cottagenya. Kemudian ada Black Marlin Dive Resort, yang kabarnya milik warga Eropa, yang memang tidak semegah Kadidiri Dive Resort, namun tetap menawarkan penginapan yang cukup berkelas. Sedangkan yang saya tempati, bernama Pondok Lestari Kadidiri, penginapan murah dan sederhana.

Menikmati sore hari di Pulau Kadidiri menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan. Dengan pantainya yang bersih, lautnya yang jernih, tebing karang yang menjulang dan  bangunan cottage yang menawan,bisa menjadikan sebuah obyek foto yang sangat berharga. Inilah Indonesiaku…

Rekomendasi :

Jakarta Ocean Dive : Andrew Lioe : 0818720196

Bull Shark Dive : 081356549898

DM Angku : 081543428879

Paradise Resort : 085241182440, 085242289909