Category: Indonesian way


Kandidat Gubernur DKI 1

Gubernur DKI telah silih berganti memimpin provinsi terkecil di republik ini. Mereka sudah pasti berusaha untuk membuat yang terbaik untuk provinsi ini, namun tetap saja masalah timbul silih berganti, dan bukannya masalah tersebut makin sedikit, justru masalah-masalah ini semakin timbul menggunung. Jangankan memecahkan masalah-masalah tersebut, Pemda DKI pun belum pernah terlihat serius dalam me-metakan masalah. Kalaupun Pemda DKI sudah memetakan masalah, Pemda DKI belum terlihat serius dalam melakukan wacana “solusi wajar” untuk memecahkan masalah di ibukota ini. Dan kalaupun Pemda DKI sudah menemukan solusi tsb, Pemda DKI belum serius dalam menjalankan solusinya secara tegas dan disiplin. Banyak lagi permasalahan-permasalahan dasar yang dihadapi oleh ibukota dan Pemda-nya ini.

Sebetulnya alasan-alasan diatas adalah alasan-alasan klasik yang terjadi di semua provinsi di Indonesia. Namun demikian, mestinya Pemda DKI sebagai gerbang utama Indonesia, dan ibukota republik ini harus mampu dan bisa mengatasi semua persoalan yang ada ini, untuk dapat menjadi contoh dan barometer bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia. Seusai dengan judulnya, penulis akan mencoba untuk menggali kriteria-kriteria sifat kepemimpinan yang paling tepat untuk dapat mengatur ibukota tercinta ini secara perspektif sederhana.

Dan untuk itu, sudah pasti kita terlebih dahulu akan mencoba memetakan terlebih dahulu masalah-masalah yang dihadapi, dan tantangan-tantangan yang akan dihadapi pada masa depan.

Penulis membagi 2 permasalahan yang dihadapi oleh DKI Jakarta.

1. Permasalahan Dasar

2. Permasalahan Turunan

Permasalahan Dasar dan krusial yang dihadapi oleh Jakarta telah penulis sampaikan pada awal tulisan. Yaitu lebih kepada kurang terencana dan tepat sasarannya MasterPlan DKI/Lembar Biru Perencanaan/Garis Kerja Jangka PAnjang. Master Plan DKI lebih focus hanya kepada Rencana Tata Ruang/Wilayah, tidak atau kurang menyentuh ke sasaran bidang-bidang lain, seperti bidang kesejahteraan, pendidikan atau bidang-bidang lainnya. Kalaupun memang ada Master Plan tersebut, hanya berkisar masterplan untuk jangka waktu yang tidak lebih dari 10 tahun. Dan itupun tidak secara disiplin dilaksanakan dengan baik. Padahal seperti kita tahu, permasalahan-permasalahan yang kita hadapi sekarang adalah hasil dari perencanaan buruk 10-20 tahun yang lalu. Bilamana 10-20 tahun lalu kita telah memiliki Masterplan yang baik, bukan mustahil permasalahan yang kita hadapi tidak sebanyak seperti sekarang ini. Dan bilamana kita merencanakan semuanya dengan baik dari sekarang, tidak mustahil 10 s/d 20 tahun kedepan, kita tidak akan menghadapi masalah yang begitu kompleks.

Sedangkan Permasalahan Turunan yang kita hadapi sekarang adalah turunan dari permasalahan dasar yang tidak diatasi dengan baik. Semua hal di Jakarta telah menjadi beban bagi kota ini sendiri. Tidak ada satupun segi di Jakarta yang bebas dari masalah.

Tetapi secara mendasar dan skala prioritas, kita bisa menetapkan 3 hal pokok permasalahan yang harus segera di atasi dalam jangka pendek.

Untuk Permasalahan Jangka Pendek :

– Transportasi : Bukan reformasi transportasi yang diperlukan di Jakarta, namun diperlukan sekali sebuah revolusi system transportasi yang berbasis massal di Jakarta. Adapun solusi murah-mudah telah penulis ungkapkan dalam blog ini. https://teguhgigoaryanto.wordpress.com/2010/10/29/jurus-mudah-murah-mengurangi-kemacetan-di-jakarta/

– Banjir : Masalah banjir, merupakan masalah klasik yang sudah mendera ibukota sejak lama. Sudah menjadi rahasia umum, banyak sekali kali-kali/saluran-saluran telah tertutup oleh bangunan-bangunan permanen. Sehingga jelas diperlukan ketegasan/sikap keras untuk membongkar bangunan-bangunan tsb demi kepentingan umum yang lebih besar. Selain itu juga diperlukan sebuah upaya yang serius untuk mengatasi permasalahan topografi kota Jakarta yang berbentuk cekungan.

– Ledakan jumlah penduduk/arus urbanisasi : Untuk mengatasi arus urbanisasi memang tidak lepas dari campur tangan pemerintah pusat dan kondisi perekonomian secara nasional. Yang bisa dilakukan oleh Pemda DKI adalah memiliki langkah-langkah terukur, terencana, tegas, berkesinambungan, komprehensif untuk dapat menampung arus urbanisasi tesebut. Dan juga kita harus mempunyai langkah2 protektif untuk dapat menutup pintu gerbang Jakarta dari pendatang-pendatang yang tidak memiliki ketrampilan dan hanya akan menjadi beban bagi Jakarta.

Dan melihat dari permasalahan-permasalahan tersebut dan tantangan-tantangannya, kita bisa mendapatkan benang merah untuk dapat menetapkan kriteria untuk calon Gubernur DKI periode mendatang.

Seorang pemimpin DKI haruslah memiliki 5 karakteristik utama seperti dibawah ini :

1. Ketegasan : Ketegasan jelas sangat diperlukan dalam memimpin ibukota yang memiliki penduduk diatas 10 juta dan tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa dari seluruh Indonesia. Pada dasarnya, kita telah memiliki semua peraturan dari segala sisi berkehidupan di Jakarta, dan yang diperlukan sekarang adalah kemampuan Pemda DKI untuk menerapkan, mengawasi segala peraturan tsb secara ketat.

2. Kemampuan dalam Manajemen Birokrasi : Seorang Gubernur DKI jelas harus memiliki kemampuan manajemen yang cakap. Mengelola sebuah ibukota, jelas bukan perkara gampang dan mudah. Mengelola sebuah ibukota jelas jauh lebih kompleks daripada mengelola sebuah perusahaan skala besar. Diperlukan system birokrasi yang handal beserta SDM yang mumpuni sebagai kepanjangan tangan dari seorang Gubernur DKI. Diperlukan juga kemampuan berkordinasi dengan instansi-instasi lain diluar PEMDA DKI, seperti dengan Pemerintah Pusat, Kepolisian, ataupun badan-badan lainnya.

3. Bebas Korupsi : Bebas Korupsi sudah jelas. Penulis menempatkan diurutan tengah, karena korupsi jelas merusak sendi-sendi ekonomi bangsa dan peraturan-peraturan yang ada.

4. Visoner : Seperti sudah disinggung diatas tentang permasalahan dasar yang dihadapi oleh DKI. Seorang gubernur haruslah visioner-dan berpikiran jauh maju ke depan. Agar supaya dalam mengambil keputusan-keputusan, ia tidak hanya memikirkan skala 3 tahun ke depan, namun ia harus memikirkan jauh ke depan; sampai dengan 25-40 tahun mendatang. Apa yang ia putuskan harus bisa berdampak positip bagi anak, ataupun cucu warga DKI nantinya.

5. Religius : Jelas kita tidak mau dipimpin oleh seorang gubernur yang tidak memiliki moral dan etika religi yang kuat. Sehingga apa yang dihasilkan/diputuskan oleh gubernur adalah sesuatu yang bermanfaat bagi warganya, dan tidak menjebak warganya dalam lingkaran maksiat dan dosa.

Setelah melihat dan mengkaji permasalahan yang dihadapi oleh DKI sekarang, dan setelah melihat kriteria-kriteria yang harus dimiliki oleh seorang gubernur, maka penulis mengambil kembali benang merah untuk latar belakang/profesi yang paling cocok untuk menempati posisi tersebut,

1. Militer : Diperlukan sikap ketegasan/semi represif dalam menjalankan roda pemerintahan di DKI Jakarta

2. Birokrat : Diperlukan kemampuan manajerial dan pengalaman birokrasi untuk menghadapi keruwetan permasalahan birokrasi di DKI ini

3. Ahli Tatakota : Ahli tata kota juga diperlukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan teknis yang sering dihadapi oleh DKI Jakarta sekarang ini ataupun untuk perencanan dimasa yang akan datang.

4. Wakil Rakyat : Kita juga memerlukan seorang gubernur yang pro-rakyat, yang menghargai uang pajak yang telah rakyat bayarkan, dan karena semestinya kita menganut system kepemipinan bottom up daripada sebaliknya.

5. Pengusaha / Ekonom : Memerlukan cara berfikir seorang pengusaha, untuk dapat mengembangkan Kota Jakarta menjadi kota yang professional, tidak merugi dan selalu membawa keuntungan baik bagi warganya maupun bagi negara.

6. Hukum/Artis : Sebetulnya seseorang yang berlatar belakang hukum/artis, adalah profesi yang kurang dibutuhkan atau kurang cocok untuk menjadi seorang gubernur DKI.

Demikialah yang penulis coba sampaikan sebagai wacana kita bersama untuk dapat memilih sosok pemimpin yang tepat untuk memimpin ibukota ini dan mewakili penduduk Jakarta dalam menghadapi tantangan-tantangan perkotaan di masa yang akan datang, dan agar supaya kita dapat tinggal di kota yang nyaman, aman dan tentram. Sehingga tidak akan sulit dan malu kita berteriak lantang “ I LOVE JAKARTA !!!!”

Gubernur DKI 1945 – 2011

1. Suwirjo – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1945 – 1951

2. Sjamsuridjal – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1951 – 1953

3. Sudiro – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1953 – 1960

4. Soemarno Sosroatmodjo – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1960 – 1964 dan 1965 – 1966

5. Henk Ngantung – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1964 – 1965

6. Ali Sadikin – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1966 – 1977

7. Tjokropranolo – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1977 – 1982

8. Soeprapto – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1982 – 1987

9. Wiyogo Atmodarminto – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1987 – 1992

10. Surjadi Soedirja – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1992 – 1997

11. Sutiyoso – Gubernur DKI Jakarta untuk periode tahun 1997 – 2002 dan 2002 – 2007

12. Fauzi Bowo – Gubernur DKI periode 2007-2012

“looks like, Malaysia is better then INDONESIA in every single aspect”. Kalimat itu saya baca dari status teman di Facebook. Bukanlah teman saya dari Malaysia yang mengumbar status tsb, namun justru temen saya dari Indonesia yang menuliskan status tersebut di FB-nya. Sedih, kecewa, question mark, jelas menggantung di pikiran saya ketika membaca status tersebut. Teman saya; sebut saja Adi, bukanlah teman yang tidak berpendidikan. Dia memiliki gelar tinggi, dan  seorang wiraswasta sukses di Jakarta.

Memang ada beberapa orang yang memiliki perspektif sama dengan Adi, meskipun tidak banyak. Bahkan dalam status FB-nya, si Adi dengan terang-terangan menyebut bangsanya sendiri Indon, sebuah sebutan yang kurang proper didengar.  Dengan gamblang, ia merinci alasan-alasan utama mengapa ia menuliskan status tsb. Ia membandingkan kondisi antar dua negara. Ia membandingkan perbedaan Pendapatan per-kapita, tranportasi massal di KL dan Jakarta, Petronas dan Pertamina, Gelaran F1, serbuan bank Malaysia di Indonesia, penyelesaian masalah perompak Somalia, kekuatan militer, sampai kepada merk coklat yg go international milik Malaysia.

Sang Saka Merah Putih

Sebetulnya kalau memang mau main perbandingan seperti itu, jelaslah Indonesia juga tidak kalah dengan Malaysia. Indonesia terlebih dahulu mengadakan GP Motor dan Superbike di Sentul. Bahkan tidak hanya itu, Indonesia satu-satunya negara di Asteng yang pernah mengadakan gelaran Asian Games. Soal produk yg go international-pun, Indonesia memiliki Indomie yang terkenal seantero Asia, dan bahkan barang2 kerajinan Indonesia, selalu menjadi incaran di pasar-pasar internasional. Dan sangat lucu sekali ketika ia membandingkan kehebatan sebuah negara dilihat dari pendapat perkapita. Pendapatan per-kapita jelas tidak mencerminkan kehebatan sebuah negara. Kalau-pun mau melihat sebuah kehebatan negara dari sisi itu, bagaimana bisa sebuah negara kecil yang memiliki pendapatan perkapita supert-tinggi seperti Malta, bisa jauh lebih unggul dari Jepang, dan AS. Atau bagaimana mungkin negara seperti Brunei jauh lebih unggul dari negara dengan ekonomi paling besar; Cina ! Jangan pula sekali-kali kita membandingkan kekuatan militer kita dengan Malaysia. Jelas Malaysia kalau jauh dari segala segi. Menurut versi dari situs GlobalFirePower, sebuah situs yang menampilkan tentang kekuatan militer dunia, dilihat dari segala aspek militer; Indonesia memiliki kekuatan ke 14 terbesar di dunia, tepat dibawah Israel, dan Korea Selatan, dan masih diatas Australia dan Thailand. Sedangkan Malaysia pun sama sekali tidak ada dalam urutan-urutan tersebut.
Mengenai penumpasan gerakan teroris dengan pasukan khusus, pasukan Indonesia sudah jauh lebih terkenal dan terlebih dahulu  dengan penumpasan pembajakan pesawat Garuda; yang sering kita kenal dengan Peristiwa Woyla. Memang kalau mau dilihat dari transportasi massal, memang kita masih sedikit tertinggal. MRT baru akan hadir di Jakarta sekitar tahun 2016.

Sebetulnya sangat picik, kalau melihat kehebatan sebuah negara seperti hal-hal diatas. Sangatlah picik kalau melihat sebuah kehebatan negara dari MRT, merk coklat ataupun pasukan khusus penumpas teroris. Ada banyak hal lain yang bisa menjadi tolak ukur akan kehebatan sebuah bangsa atau negara.

Sejarah Pembentukan Negara
Kebanggan dan kebesaran bangsa kita sangat jelas dapat kita lihat dari bagaimana kita memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita raih, adalah kemerdekaan mutlak dan murni; dan bukan karena sebuah hadiah.

Jendral Besar Sudirman

Kemerdekaan kita didapat dari  hasil perjuangan dan tumpah darah bangsa Indonesia. Semua negara mengakui akan perjuangan dan keberanian bangsa kita dalam mengusir semua penjajah yang berani menginjakan kaki di bumi kita. Portugis, Inggris, Belanda, Jepang telah merasakan pahitnya perlawanan dan perjuangan bangsa kita. Bahkan Pasukan Sekutu (gabungan pasukan dari beberapa negara Eropa) pun tidak mampu melawan kegigihan bangsa kita. Kalau dilihat dari perspektif masa kini, adalah

the great cut nyak dien

seperi perang Irak, perang Kuwait, perang Taliban pada saat mereka (bangsa Irak, dan Afhganistan) harus melawan AS dan sekutunya , yang bersenjata lengkap. Hanya keberanian bangsa Vietnam yang bisa sedikit disejajarkan dengan keberanian bangsa kita dalam melawan penjajahan.
Sedangkan Malaysia, sampai saat ini-mereka belum merdeka sepenuhnya, karena mereka sesungguhnya masih bagian dari kerajaan Inggris, yang tergabung dalam negara2 persemakmuran Inggris, atau kata lainnya; Gabungan Negara-negara Jajahan Inggris. Kemerdekaan yang mereka maksud adalah kemerdekaan hasil hadiah dari Kerajaan Inggris, dengan menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada kaum bumiputra/pribumi. Itupun dilakukan oleh Kerajaan Inggris dikarenakan desakan-desakan kuat dari negara-negara lain didunia demi membebaskan bangsa Asia dan Afrika dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme dari muka bumi.

Sukarno beserta pemimpin Asia-Afrika lainnya

 Dan harap jangan lupa, bahwa Presiden Sukarno adalah penggagas utama dari Konfrensi Asia Afrika yang menjadi dasar pondasi dari terbebasnya bangsa-bangsa Asia- Afrika dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa. Sesungguhnya Malaysia sangat berhutang budi terhadap Sukarno, karena tanpanya Malaysia tidak akan pernah diberikan kemerdekaan gratisan.  Lantas, apa yang bisa dibanggakan dari kemerdekaan gratisan..??

Kekayaan Budaya
Kebesaran bangsa kita, bisa dilihat dari kekayaan dan keragaman budaya kita. Kita memiliki 1200 suku bangsa dengan adat unik dan budayanya masing-masing. Berarti kita pun memiliki 1200 bahasa daerah!! Suatu jumlah yang sangat fantastis untuk sebuah negara yang bersatu dan berdaulat. Tidak ada satupun negara yang memiliki keanekaragaman budaya seperti itu. Cobalah tengok sedikit ke acara kecil seperti Pameran Kekayaan Kerajinan Indonesia Inacraft bung. Dari situ saja, kita bisa melihat dan mestinya menyadari betapa kita adalah bangsa yang besar, beragam, kreatif dan hebat.
Belum lagi kalau kita sendiri menjelajah sampai ke pelosok-pelosok daerah di Nusantara, dan merasakan betapa bangsa kita adalah bangsa yang sesungguhnya sangat pandai dan kaya. Belum lagi kalau kita melihat tarian-tarian yang hasil kreasi bangsa kita yang begitu beragam dan indah dalam gerakan.

Sendratari-Ramayana

Kitapun semestinya bisa merasakan akan kuatnya prinsip identitas bangsa kita yang sangat kita jaga hanya dari Bahasa Indonesia yang kita pakai sehari-hari. Betapa bangsa kita sangat menghargainya dengan mengerti dan memakainya dalam kehidupan sehari-hari. Betapa bangsa kita  sangat menjaganya dengan tidak  mencampuradukan Bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam berbahasa sehari-hari. Kita dapat dengan mudah menemui bangsa Malaysia bercakap dengan sesamanya memakai bahasa Melayu yang bercampuraduk dengan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Dari situ saja kita dapat melihat betapa bangsa Malaysia sepertinya memiliki krisis identitas dan jati diri.  Lalu apa yang bisa dibanggakan dari hal itu….?

Bangsa Yang Ramah Dan Rendah Hati
Sebuah survey yang berbasis di Swiss, dan dilakukan beberapa tahun lalu, membuktikan bahwa dari semua bangsa di seluruh dunia, bangsa Indonesia-lah yang paling murah senyum terhadap sesama. Kita sendiri mestinya merasakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah terhadap sesamanya maupun terhadap turis/pendatang. Kalaupun ada konflik-konflik atau gangguan terorisme jelas itu tidak merepresentasikan akan bangsa kita, dan jelas sekali bahwa itu hanyalah segelintir kecil dari 230 juta rakyat yang ramah. Cobalah bung, sekali-kali anda pergi keluar dari derah Jakarta yang padat ini. Pergilah

keceriaan anak2 indonesia

dan luangkanlah waktu sejenak mengunjungi sanak saudara kita di berbagai daerah di Indonesia. Ikutilah kegiatan mereka sehari-hari, dan menginaplah bersama keluarga-keluarga yang ramah di daerah-daerah tersebut. Sangat bohong kalau kita tidak merasakan kehangatan, keramahan, dan ketulusan mereka dalam menerima kita sebagai tamunya. Saya sendiri seringkali merasakan hal-hal tersebut ketika saya membaur dalam kehidupan mereka yang bersahaja. Lalu apa yang bisa dibanggakan dari tabiat negara tetangga kita yang terkenal dengan kesombongan dan sifat pencurinya…???

Keindahan Alam Indonesia

Magnificient Raja Ampat

Kalau ada yang bilang bahwa Indonesia bukan negara yang indah, saya tanya kepada anda bung, “sudah seberapa jauh kau menjelajah Indonesia? Sudah seberapa dalam kau menjelajah Indonesia…??” Kalau hanya Bali saja yang engkau pernah kunjungi, welll….let me tell you something… Kamu baru saja melihat 1/sejuta dari keindahan alam Indonesia.
Di Indonesia, kita bisa melihat keindahan panorama sawah di seantero penjuru Indonesia, dari ubud yang terkenal, sampai ke pelosok Sulawesi yang belum terekspos.. Kita bisa melihat keindahan pantai, dari pantai Kuta yang selalu dikunjungi wisatawan asing, sampai dengan pantai-pantai perawan yang rupawan seperti di Raja Ampat, P.Weh, Flores, dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau kita mendaki gunung. Cobalah kau daki Gunung Rinjani di Lombok, dan rasakan betapa Allah telah memberikan limpahan keindahan di negri kita, dan  lihat betapa turis2 asing sangat banyak berkunjung dan sangat-sangat mengakui dan mengaggumi akan keindahan yang kita miliki. Dan itu baru

Snow at Jayawijaya

Gunung Rinjani, coba-lah kau daki dan tengok gunung-gunung lain di Indonesia, Gunung Merapi di Jawa, Gunung Tambora di timur Indonesia, Gunung Kerinci di tanah Sumatra, atau Gunung Krakatau di Selat Sunda.  Setelah itu baru-lah anda kasitau saya bahwa Indonesia bukan negara yang indah. Dan setelah engkau lelah mendaki gunung-gunung tsb,  coba kau tengok alam bawah laut yang kita miliki. Coba-lah kau pelajari berapa banyak kekayaan spesies dan keunikan spesies yang kita miliki dan hanya bangsa kita yang miliki. Dari tumbuhan-tumbuhan karang, terumbu-terumbu karang unik, maupun spesies-spesies hewan yang hanya ada di bawah laut Indonesia. Hanya ada 3 negara dari 200 negara di dunia ini yang memiliki kekayaan bawah laut super mewah. Australia dan Filipina adalah dua negara lain, yang memiliki keindahan dan keunikan yang sama. Turis-turis penyelam-penyelam asing berbondong-bondong menikmati keindahan bawah laut kita, dari P.weh di Sumatra, Derawan di Kalimantan, Bunaken-Wakatobi di Sulawesi, Nusa Penida di Bali, Morotai-Ambon-Banda di Maluku, Flores-Lombok di selatan Indonesia, sampai dengan Raja Ampat-Kaimana di Papua. Maka itu, lucu sekali ketika dengan seenaknya anda bicara mengenai kehebatan negara tetangga, padahal yang anda lakukan rutinitas hanya berkendara mobil  dari daerah Jakarta Selatan, menuju kantor anda di Distrik Sudirman. Dan paling mentok, hanya mengunjungi Bali pada saat anda dirundung kepenatan kerja.

Apa yang saya beberkan disini pun, sepertinya hanya sebagian kecil dari keindahan dan kehebatan bangsa dan tanah air Indonesia. Hanya sebagian kecil dari rahmat yang telah diberikan oleh Allah kepada Indonesia. Lalu masihkah kamu berpikir bahwa negara tetangga lebih hebat segalanya dari negara kita…? Kalaupun anda masih berfikiran sama, berarti pikiran anda sangat sempit dan tidak lebih besar dari sebuah biji kacang.
Lebih baik mensyukuri dan membangun bangsa dan tanah air kita, daripada mengagungkan tanah air orang lain yang ternyata tidak lebih baik dari yang kita punya.

kibarkan merah putih

1. Menambah Jalur Busway Transjakarta ke segala arah di ibukota

Konsep Transjakarta adalah konsep tranportasi murah yang cukup cocok untuk diterapkan di Jakarta. Pembuatan jalur-jalur busway dan halte-haltenya tidaklah terlalu sulit dibangun, dibandingkan dengan pembangunan MRT/Monorel.

Dengan kemudahan pembangunannya, maka jalur busway bisa mencapai hampir ke seluruh jalan-jalan besar di ibukota Jakarta.

 

2. Menambah secara maksimal jumlah armada transjakarta

Dengan kapasitas penumpang dalam bis yang kurang banyak/terbatas, maka jumlah armada bis harus dimaksimalkan. Keterbatasan isi penumpang bis harus bisa diimbangi dengan kuantitas bis transjakarta, agar bisa mengimbangi pula banyaknya mobilitas penduduk Jakarta.

3. Membuat kantong parkir utama di ujung jalur busway, dan kantong parkir skunder di dekat halte busway

Perlunya membuat sarana kantong parkir utama (park and ride)  yang cukup besar pada ujung-ujung jalur busway. Karena ujung-ujung jalur busway, biasanya terletak di pinggiran ibukota, dimana banyak kaum urban/pinggiran melakukan aktifitasnya di dalam pusat kota. Sehingga diharapkan mereka tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi kedalam kota, melainkan cukup dengan memarkir mobil di kantong parkir dan melanjutkan perjalanan dengan busway ke pusat kota

Selain itu juga perlu dibuatkan kantong parkir skunder di setiap tempat dekat halte-halte busway, yang tidak perlu sebesar kantong parkir utama. Dapat juga memanfaatkan parkir-parkir gedung perkantoran. Dan bila tidak ada parkir perkantoran di dekat halte-halte tsb, maka sangat perlu dibuatkan kantor parkir tambahan. Hal ini diperlukan untuk kontinuitas pergerakan warga Jakarta dari satu tempat ke tempat yang lain, dan memberikan banyak alternatif kepada warga Jakarta dalam berpergian.

4. Menambah/Menertibkan/Me-refungsikan Jalur Pedestrian

Jalur pedestrian adalah termasuk sarana penting dalam system tranportasi di Ibukota. Dengan pedestrian nyaman, maka dipastikan banyak orang akan memilih cukup berjalan kaki untuk jarak menengah, dibandingkan dengan naik kendaraan pribadi atau naik kendaraan umum. Banyak orang masih enggan naik busway dikarenakan halte busway tidak tepat berada didekat  tempat yang dituju, sehingga dengan adanya pedestrian yang nyaman, membuat orang tidak enggan lagi berjalan kaki, meskipun harus menempuh jarak yang cukup jauh

Sehingga sangat perlu sekali, pedestrian-pedestrian di ibukota dikembalikan lagi kepada fungsi sebenarnya. Perlu dilakukan penertiban secara tegas untuk para pedagang kaki lima yang kerap berdagang di pedestrian, ataupun mobil-mobil yang sering parkir menutupi jalur pedestrian.

5. Menertibkan Transportasi Umum Non-Transjakarta

Dengan banyaknya koridor busway ke segala arah, dan jumlah kuantitasnya yang banyak, maka sebetulnya tidak lagi diperlukan bis umum berukuran besar. Sedangkan untuk masuk ke jalan-jalan sekunder, tetap diperlukan bis-bis ukuran mini untuk tetap dapat melayani para warga ke tempat-tempat yang belum bisa diakses oleh bis transjakarta. Kendaraan umum seukuran mikrolet tetap diperlukan dengan trayek yang sangat terbatas, untuk dapat jalan-jalan lingkungan yang sangat kecil, yang tidak efisien untuk dapat dilewati oleh bis-bis ukuran mini.

Sarana untuk transportasi non-transjakarta juga perlu ditingkatkan. Perlunya dibuat halte-halte yang cukup memadai dan nyaman, agar orang tidak enggan untuk naik kendaraan umum ini, dan tidak lupa juga untuk memperbaiki kualitas dari bis-bis tersebut.

 

6. Tindakan Tegas Polisi untuk Para Pelanggar Lalu Lintas

Selama ini, kita masih banyak melihat peran Polantas yang masih memble dalam menindak para pelanggar. Entah karena polisi malas, polisi disuap atau karena kekurangan jumlah personil. Tindakan tegas para polisi diperlukan untuk memberikan efek jera bagi para pengemudi yang suka melanggar peraturan, terutama para supir bis kendaraan umum.

7. Pembatasan Penggunaan Kendaraan Pribadi

Bilamana 6 jurus diatas dapat dilaksanakan, niscaya warga Jakarta akan berbondong-bondong meninggalkan mobilnya digarasi untuk kemudian beralih ke sarana transportasi publik. Namun demikian, Pemda DKI tetap perlu memberikan peraturan tentang pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan cara menaikkan pajak kendaraan, system ERP, ataupun menaikkan harga tiket parkir (diluar parkir di kantong parkir)

8. Meng-Efektif-kan Jalur KRL Jabotabek

Megefektifkan kembali Jalur KRL Jabotabek sebagai sarana transportasi publik yang nyaman bagi warga, dengan cara :

a. Menjadikan Jalur KRL Jabotabek, menjadi jalur intermoda HANYA di lingkungan Jabotabek. Sehingga Jalur KRL Jabotabek tidak lagi dipakai sebagai jalur kereta untuk keluar areal Jabotabek, seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kereta untuk ke daerah di luar Jabotabek, hanya bisa sampai di stasiun-stasiun kereta pinggiran Jabotabek. Dengan penggunaan jalur hanya untuk KRL Jabotabek, maka dipastikan jadwal kereta tidak akan lagi terganggu atau berbentrokan dengan jadwal kereta Luar Jabotabek.Dengan begitu, akan dapat tercipta system perkerta-apian mirip dengan system kereta MRT, dan system tiket busway yang hanya mengenal system 1 tarif flat.

b. Merenovasi stasiun-stasiun di sepanjang Jalur KRL Jabotabek, dan merenovasi gerbong-gerbong kereta KRL, sehingga masyarakat tidak enggan untuk menggunakan sarana tranportasi publik ini.

9. Menciptakan system One Ticket Elektronic dan Stasiun Perpindahan Antar Moda

Perlunya dibuat system One Ticket Electronic, yaitu system satu tiket card, yang bisa dipakai untuk menggunakan semua moda transportasi di ibukota. Hal ini diperlukan untuk memudahkan para warga Jakarta dalam menggunakan sarana tranportasi publik di kotanya.

Perlu juga dibuat stasiun perpindahan antar moda, bagi moda-moda yang bersinggungan jalur, sehingga memudahkan masyarakat Jakarta dalam melakukan kontinuitas pergerkan mobilitasnya.

Dengan dilakukannya 9 Jurus Mudah-Murah ini ( TANPA MRT SUBWAY ),  maka dipastikan kemcaetan Jakarta akan berkurang sebanyak 50%!!! Yakin !!!

Saya hanyalah arsitek urban, bukan pakar tranportasi. Namun entah mengapa solusi sederhana ini tidak pernah menjadi wacana, apalagi dilaksanakan. Diperlukan dekrit dan tindakan konkret tanpa campur tangan politik untuk dapat memecahkan problem kemacetan di ibukota tercinta.

Nasib si Ujang

Nasib si Ujang …………….

 Derita seorang berpenghasilan menengah (nyaris miskin; penghasilan 2,5 jt) di jakarta

Sebut aja Ujang, pekerjaan OB di daerah tomang, alhamdulilah tinggal bersama istri dan 2 org anak di rumah warisan ortu 50m2 di daerah pulogadung.

Kalo dipikir2, golongan kaum Ujang mungkin paling banyak yang hidup di jakarta. Hidup dari kecil udah dijakarta, cuma punya ijazah sma. Pernah kerja jadi pak ogah, timer, sampe pernah jadi tukang parkir liar. Buat Ujang jadi OB, punya kebanggaan tersendiri. Semua itu hasil kerja kerasnya sendiri utk bisa merubah nasib di Jakarta. “Minimal jadi OB di kantor, ada jenjang karirnya lah..” pikirnya.

Setahun menjalani pekerjaan OB, barulah dia sadar, kalau kadang dipikir2 lebih baik jadi orang miskin, daripada jadi orang “nyaris miskin”, kalau di jakarta.

Punya gaji, tapi dirampas tukang pajak! Kalau dulu, mana ada orang nagih pajak ke dia..? Wong gak ada penghasilan tetap, yang ada cuma penghasilan jalanan.

Istri dan anak sakit, mau ke rsud, udah gak bisa pake surat miskin, jadi terpaksa harus keluar uang.

Mau minta keringanan biaya beli buku sekolah anak di sd negeri, udah gak bisa, karena sudah gak miskin.

Mau beli rusunami (supaya lebih dekat ke kantor), dp nya gak kuat bayar. Cuma dapet 35m2 pula! Padahal pedagang asongan tempat dia langganan beli koran,  gubugnya bisa 50m2, tanahnya nyerobot jalur ka di benhil (daerah elit kan?), udah 20 tahun dan gak pernah digusur pemda.

Ujang juga nyesal, gara-gara rumahnya di pasang keramik, dia batal menerima dana gratis BLT, padahal tetangganya yg jadi “pak ogah” di pengkolan, bisa dapat BLT. Padahal dipikir2 uang BLT, diambil juga dari gajinya.  ( Yg katanya utk pajak pemerintah )

Mau naik motor tapi gak kuat juga panas udara jakarta, apalagi kalau harus tiap hari dijalanin bolak balik tomang-pulo gadung, udah gitu diitung-itung, berat juga kredit nyetor ke banknya.

Alhamdulilah, ada busway. Lumayanlah-harga murah, dapet ac. Ternyata kegembiraannya tidak lama. Janjinya pemda, naik busway bisa cepat karena punya jalur khusus, ternyata jalurnya diserobot orang2 kaya bermobil. Bukan cepat yang didapat, tapi malah mandeg, gara-gara ada mobil mogok di jalur busway (nah lho, gak bisa keluar jalur tuh). Kalau udah gini, polisi yang tadinya mempersilahkan, akhirnya polisi harus pake jurus PTL (pura2 tidak lihat), atau polisinya emang PPP (pura-pura pintar; padahal bego! ).
Waduh…nasib-nasib..!!!
Mau ajak jalan2 keluarga malam2; cari makan, paling bisa jalan kaki di trotoar. Boro2 mau naik mobil, naik motor aja belum mampu kreditnya. Mau jalan 500 m aja, udah keserempet motor mulu, gara2 udah gak ada lagi fasilitas trotoar kaki lima yang aman dan nyaman buat orang se-level Ujang. Trotoar udah penuh dengan pedagang pecel lele, parkir mobil, parkir motor, walhasil deh, ujang dan sekeluarga mesti jalan di tempat yang mestinya buat kendaraan bermotor lewat. ALhasil, kesrempet mulu neh….

Jadi warga jakarta, paling enak emang jadi orang kaya sekalian, atau miskin sekalian.

Jadi orang kaya, emang enak. mampu beli mobil, boleh masuk jalur busway oleh para polisi. Bisa bayar rumah sakit, beli premium-juga bisa dapat subsidi. Jadi buat mereka, bayar pajak gak ada pengaruhnya.wong sudah kaya !

Jadi orang miskin, enak juga yah, gak pernah bayar pajak, tapi dapet banyak subsidi, boleh tinggal dimana aja, boleh jualan dimana aja.

Yang paling apes, emang kalau jadi orang “tanggung” atau “nyaris miskin”. Bayar pajak, harus tepat waktu, tapi gak bisa dapet subsidi dan fasilitas2 nyaman dan aman, buat hidup di belantara jakarta.

Ujang makin bingung, tapi hidup jalan terus selama nafas masih keluar dari hidungnya, dan perutnya masih nagih makanan.