Category: Jakarta Gallery Photo


PASAR BARU

Kejayaan “Passer Baroe” sudah diketahui di masa Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dulu.
Daerah “Passer Baroe” dulu tidak hanya dikenal sebagai daerah elite karena berada tidak jauh dari kawasan Rijswijk (Jalan Veteran) yang dibangun pemerintah Kompeni Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia.

Daerah pertokoan ini sudah tumbuh dari sebelum tahun 1900an, dan mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa.

KNOW IT, LOVE IT, SAVE IT

Iklan

 

Gedung Gereja ini dibangun pada tahun 1911-1916. Koinonia berarti “Persekutuan” (bahasa Ibrani). Kompleks gereja yang berada di ujung Jalan Matraman ini merupakan gereja pertama di Kawasan Timur Batavia, saat Meester Cornelis membuka kawasan ini (1881-1918). Arsitekturnya bergaya vernacular, penerapan gable Belanda dan penerapan salib Yunani pada pediment tympanium. Denah gereja dipengaruhi aturan geometrik. Bentuk segi empatnya dibagi tepat menjadi sembilan bagian, dimana empat sudut terluar berfungsi sebagai ruang tangga, sehingga bagian dalam gereja berbentuk salib simetri. Ruang-ruang tangga dari luar terlihat seperti menara.

( KNOW IT, LOVE IT and SAVE IT )

 

Gedung ini mulai dibangun pada 11 Agustus 1949 dan rampung sekaligus mulai dioperasikan sebagai bioskop yang diberi nama Metropole pada tahun 1951.

Bangunan cukup monumental berarsitektur paduan gaya Art-Deco Tropis dan De Stijl dengan menara lancipnya yang khas ini berada di lokasi yang sangat strategis di sudut persimpangan dua jalan yang cukup ramai, yakni antara Jalan Cikini, Jalan Proklamasi (Pegangsaan Timur), dan Jalan Diponegoro yang kala itu bernama Oranje Boulevard.

Berdasarkan catatan sejarah, bioskop Megaria merupakan hasil rancangan Johannes Martinus (Han) Groenewegen, arsitek Belanda kelahiran Den Haag tahun 1888 yang tinggal di Jakarta sampai dengan akhir hayatnya hingga tahun 1980.

( KNOW IT, LOVE IT and SAVE IT )

Bunderan HI

 

Dari foto diatas dapat dilihat, pada tahun 1961 patung Selamat Datang dan Hotel Indonesia masih dalam tahap pembangunan untuk menyambut tamu-tamu pesta olahraga Asian Games pada tahun 1962. Patung Selamat Datang sendiri di-disain langsung oleh gubernur DKI pada saat itu Bp. Henk Ngantung., dan dikerjakan oleh seniman Bp. Edhi Sunarso. Patung ini sengaja dihadapkan ke arah Kemayoran untuk mengesankan penyambutan para tamu-tamu yang datang dari bandara yang pada saat itu ada di Kemayoran.

Sedangkan Hotel Indonesia dibangun pula bersamaan dengan Patung Selamat Datang untuk menampung tamu-tamu atlet internasional yang datang untuk bertanding. Hotel Indonesia sendiri di arsiteki oleh Abel Sorensen dan istri, arsitek berkebangsaan Amerika. Hotel ini merupakan simbol dari sebuah slogan A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together.

Dari foto diatas, dapat dilihat terjadinya sebuah distorsi sebuah monumen dikarenakan perkembangan pembagunan yang serba cepat. Pada tahun 1970’an, Monumen Patung Selamat Datang masih menjadi sebuah landmark supermegah yang tidak memiliki tandingan bangunan tinggi disekitarnya, namun seiring dengan pembangunan gedung-gedung pencakar langit disekitarnya, maka Monumen Patung Selamat datang menjadi semakin “kerdil”.

KNOW IT, LOVE IT and SAVE IT !!!

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun ini awalnya bernama Batavia Zuid (Batavia Selatan), dibangun pada tahun 1870. Berarti sampai sekarang sudah berumur 141 tahun !!! Dulu masih berupa stasiun kecil, sebelum akhirnya direnovasi  pada tahun 1929, dengan bangunan yang bisa kita lihat seperti sekarang ini. Bangunan megah ini berasitektur kolonial post-modern art deco dengan sang arsitek Frans Johan Louwrens Ghijsels. Stasiun ini sering juga kita kenal dengan nama Stasiun Beos.

Foto diatas diambil pada tahun 1930an, dan pada tahun 2011. Ternyata tidak banyak perbedaan dalam rentang waktu 80 tahun yang terjadi dalam kawasan tersebut, selain hanya hilangnya jalur trem di depan stasiun tersebut.

KNOW IT, LOVE IT, and SAVE IT !!!